Tek-Tok : Beyond your limit

Kapan terakhir kali kamu jalan kaki jauh ? 

Beberapa bulan sebelum libur panjang lebaran, Joe, teman sewaktu kuliah dulu, sudah nge-dm gue untuk pergi naik gunung, rencananya sih gunung Merbabu. Ya gue mah oke-oke aja, kalo waktunya ngepas ya tinggal berangkat.

Hari yang dijadwalkanpun tiba, kita pergi tepat ketika lebaran pertama, asumsinya tidak banyak yang akan mendaki karena banyak yang mudik dan berlebaran bersama keluarga.

Namun tepat sehari sebelumnya, gue main dengan anak-anak gereja. Rencananya sih mau camping di air terjun Curug Lawe, tapi karena malam satu syawal ternyata air terjunnya ditutup untuk umum hingga 2 hari kedepan, mikir-mikir kemana tempat yang bisa dipake untuk camping, lama berdiskusi akhirnya ke mawar camping ground juga.  Sesampainya di camp mawar

“AKU GAMAU KESINI LO, MAUNYA KE KEBUN TEH” tau deh suara dari mana itu

Akhirnya kami harus trekking sekitar dua jam lebih untuk sampai di camping ground promasan, kebun teh, tepat di kaki gunung ungaran. Kita buka tenda, masak-masak, nyanyi-nyanyi, cerita-cerita disana sampai esok hari.

Di Promasan dengan Debora

Setelah mengorbankan dua jaket, baju, handuk demi kelangsungan hidup Debora, long story short keesokkan harinya kita turun dari kebun teh ke Mawar dan langsung pulang ke semarang, sampai semarang siang hari, istirahat. Malem ternyata ada latihan dadakan (karena ga ada pemusiknya lagi) ibadah raya sampai jam 10 malam.

Sekitar jam 10 malem

Jadi kita enaknya kemana ?

Merbabu kuat ga lo ?

Kayaknya ga kuat deh.

Gue juga

Gue abis turun dari promasan nih, ga kuat kayaknya tektok merbabu

Yaudah kita ke Andong aja

Oke.

Akhirnya kami memutuskan untuk tek-tok ke Andong, btw buat kalian yang ga tau tek-tok itu apa, jelas bukan aplikasi yang bikin bowo terkenal ya. Tek-tok adalah istilah yang dipake para pendaki untuk mendaki gunung lalu ketika sudah sampe tujuan langsung turun lagi ke bawah tanpa harus camping/menginap. Buat gue, ini pengalaman pertama kali nyobain tek-tok. Walaupun berkali-kali naik gunung, gue belum pernah tek-tok sama sekali, biasanya berangkat pagi mendaki sampai puncak lalu mendirikan tenda di puncak, tidur di puncak, dan menunggu sunrise di puncak, setelah agak panas baru turun ke basecamp dan pulang. Akhirnya, gue nyoba tek-tok untuk gunung yang paling rendah dulu, Andong. Ya walaupun bulan kemarin sudah naik Andong juga wkwkwkwk. Sampai titik sini, gue sudah ga mempermasalahkan kemana tujuan gue pergi, rasanya udah berkali-kali juga naik andong, berkali-kali juga naik Merbabu, berkali-kali juga pergi ke Jogja, berkali-kali juga tetap mencintaimu *eh. Intinya kalo ada keinginan dan waktu, yaudah kita pergi aja. Karena perjalanan itu bukan hanya sekedar tujuan dan keindahan tapi ada meditasi dan self talking yang terjadi di dalem diri gue.

Jam 11 gue dan Jo pergi menjemput mas Mugi dan ponakannya, temen gereja Jo dahulu. Kita pergi jam 12 malem dari Semarang, pergi cus ke menuju Ngablak, Kopeng. Perjalanan sekitar satu setengah jam lebih, Kopeng lagi dingin-dinginnya. Lupa bawa peralatan kupluk dan sarung tangan ketinggalan di kostan, gue cuma bawa kaos kaki, alhasil hanya kaki yang terselamatkan, tangan harus masuk kedalam jaket, hidung dan telinga harus bertahan sendiri.

Ternyata kita sampai di basecamp terlalu cepat, kita sampai sekitar jam setengah dua. Dengan estimasi perjalanan dua jam sampai puncak, kalau mendaki sekarang kita bakal sampai puncak masih terlalu gelap dan dingin. Akhirnya gue tidur dulu sampai jam tiga pagi. Capek turun dari promasan belum terbalas sepertinya, dingin-dingin pun masih bisa pules tidurnya diantara pendaki yang asyik nonton piala dunia, gue yang dari kecil ga peduli dengan bola tetep sampe sekarang ga peduli, cuma dia yang gue peduliin aja ga peduli. Jadi ya gue tetep ga peduli dengan bola.

Jam tiga pagi kita mulai berangkat, subuh itu waktu dimana gunung sedang dingin-dinginnya, Jo baru di awal-awal perjalanan sudah mulai terengah-engah, Mau menuju pos 2 dia muntah. Pelajaran pertama, tetap jaga kesehatanmu, kamu baik-baik saja kadang pertanda kamu tidak baik-baik saja. Olah-raga teratur, jaga pola makan dan jenis makanan dan banyak bersyukur dan selalu berbahagia.

Pos demi pos kami lewati, karena tempatnya ga terlalu tinggi terus dah sering juga ke Andong dan treknya masih terbilang normal, sekitar dua jam kami sampe di atas walaupun harus selalu nunggu Jo wkwkwk. Jam 5 lewat sedikit akhirnya kami sampai di puncak Andong, tepat ketika matahari sedang akan terbit, tentu saja ini jadi momen yang ditunggu-tunggu buat para pendaki, bersyukurnya puncak tidak terlalu ramai ada beberapa tenda namun tidak padat.

Kesukaan gue itu ketika sunrise apa sunset selalu mlipir sendirian, ntah itu cuma buat poto-poto atau diem aja berkontemplasi, merasakan menyatu dengan semesta (gue mau bikin tulisan tentang ini tapi takut yang baca malah jadi halu :”). Buat gue asyik aja gitu.

Merbabu dari Andong

Jam 8 kita bergegas turun lagi ke basecamp, karena kena serangan fajar, gue lari dari puncak sampe basecamp alhasil turun dari atas sampe basecamp 30 menit sahaja, rekor tercepat selama naik Andong.

Jadi, apakah tek-tok enak ? buat gunung yang enggak tinggi sih enak-enak aja, gausah bawa tas yang berat, kita ndaki sekitar dua jam udah sampe atas pula, nikmati sunrise apa sunset lalu turun lagi dan perjalanan berakhir. Tapi emang fisik harus disiapkan dulu, karena tenaga yang dikeluarkan jauh lebih besar, partner mendaki juga harus diliat karena kita akan susah berjalan bersama kalo ga punya irama yang sepadan.

Sebenernya ini jadi persiapan gue buat coba tektok ke Merbabu takutnya ga kuat, eh ternyata kuat.

Dan gue tektok ndaki Merbabu . . . .  DUA MINGGU KEMUDIAN

Let’s begin another story

Pendakian tektok ke Merbabu ini sebenernya rencana dadakan, disaat yang sama gue lagi berdiskusi dengan Amira buat ke bukit Sipandu, Dieng, tiba-tiba Dias, temen kost gue naik ke lantai dua :

Gih ke Merbabu yuk, tek-tok

Hah ? kapan ?

Malem ini

Yaudah ayok. Segampang itu ngomong ayok njir.

Bermodalkan tas, kamera, emergency blanket, senter, beli minum dan roti di Indomaret, jam 1 pagi kita cuss ke Selo, Boyolali. Jarak Semarang – Selo itu lumayan jauh, sekitar dua jam lebih kalo naik motor. Dari Semarang ke Bawen lalu lewat di jalur lintas Salatiga – Boyolali – Cepogo terakhir ke Selo.

Sampai di basecamp jam 3 pagi, bayangken men jam 3 pagi di kaki gunung itu dinginnya seperti apa ? Lalu bapak yang punya basecamp bertanya

Mau ndaki semarang mas ?

Ia pak

Waduh udah tutup mas, jalurnya buka dari jam setengah 8 sampe jam 12 malem.

Kita nyoba untuk ke bagian simaksi, usaha dulu siapa tau ada kesempatan, ternyata disana sudah tidak ada orang, ada beberapa pendaki ingin mendaki, tapi mereka sudah daftar kalo, karena takut dianggap illegal dan ga diperbolehkan naik gunung lagi, akhirnya kita tidur di basecamp, pendakian dimulai besok pagi aja, ga dapet sunrise ya gapapa, sedikit kecewa sih tapi ya mau gimana lagi kan ?

Keesokan harinya, jam setengah 8 kita bersiap, Dias masih sempet pesen Indomie pake nasi. Setelah itu jalan menuju simaksi, melakukan pendaftaran disana kita membayar retribusi masuk Taman Hutan Gunung Merbabu sebesar 15.000 rupiah perorang, setelah melakukan simaksi kita memulai apa yang harus dimulai. Jam 8 kita start, trek dari basecamp menuju pos satu tergolong cukup mudah. Banyak bonus jalan datar dan alur naik yang ga begitu miring, satu-satunya yang disayangkan adalah menuju pos satu ini jauh bangeeeett, estimasi normal menuju pos satu itu satu jam setengah, tapi karena kami hanya mendaki berdua dan sedang masa fitnya kita bisa sampe pos satu hanya dengan 45 menit saja, waktu kepotong setengah sodara. Kalo gini mah sampe sabana dua bisa dengan cuma dua jam lebih dikit laah.

Istirahat sebentar dari pos satu, kita melanjutkan perjalanan ke pos dua, treknya pun masih tergolong landai, vegetasinya masih berupa hutan-hutan rapat tapi hampir mendekati pos dua kemiringan jalur lebih curam dari sebelumnya. Butuh tenaga ekstra untuk ini, perjalanan normal dari pos satu menuju pos dua hampir sama satu setengah jam, tapi lagi-lagi kami membabatnya hanya dengan 45 menit lebih sedikit lah karena jalurnya mulai bikin sakit. Di pos dua kami beristirahat cukup lama, gue istirahat sambil poto-poto gitu. Sekitar 10 menit beristirahat kami lajut lagi ke pos tiga, gue nyebutnya pos helipad, karena ada didataran tinggi yang datar, pos tiga ini adalah tempat terbaik kalo lo mau liat gunung Merapi lebih dekat. Dari pos dua ke pos tiga ga terlalu jauh sih, bahkan kita bisa lihat keberadaan pos tiga dari pos dua, artinya apa ? jalur menuju pos tiga itu lebih menanjak dari sebelumnya. Jarak tempuh normal itu 40 menit dan kita membutuhkan waktu 40 menit kurang sedikit, artinya tenaga kami sudah berkurang banyak sekali, di pos 3 kita berhenti lama, poto-poto dengan latar gunung merapi, walaupun siang-siang panas. Puas dengan poto-poto cantik, kami melanjutkan perjalanan lagi, Pos 3 menuju Sabana Satu, waktu normal yang dibutuhkan sekitar dua jam, dan kami ga tau berapa jam mendaki untuk sampai sabana satu, karena jalur dari pos tiga menuju sabana satu adalah jalur terberat yang ada di semua jalur pendakian Merbabu, kemiringan yang curam, tanah yang terjal, licin, kita harus menjadi lebih berhati-hati dari sebelumnya, beruntung kami pergi waktu musim kemarau, kalau hujan bakal berkali-kali lebih berat. Aslilah si Dias makin lama makin pelan jalannya, rokoknya rokok kretek ini, napasnya abis wkwkwkwk

Kayaknya hampir dua jam kami susuri itu jalur menuju sabana satu, akhirnya kami sampe di sabana satu, pemandangannya bagus, banyak orang camping disana, kami istirahat sebentar di sabana satu, padahal banyak pepohonan tapi kami malah berjemur di tengah lapang sambil memandangi keindahan ini Merbabu. Ini bagus banget, seenggaknya sekali seumur hiduplah klean harus kesini.

Perjalanan harus kami lanjutkan, karena tujuan kami adalah sabana dua yang katanya sih lebih indah dari sabana satu tapi kalah jauh dari kamu kalo tersenyum loo.

Trek dari sabana satu ke sabana dua itu gampang-gampang susah, awalnya jalan datar enak banget tapi makin lama makin mendaki dan makin meninggi, ga separah trek dari helipad ke sabana satu sih, tapi tetep aja bikin capek, palagi udah empat jam lebih nih kaki dipake buat jalan. Sekitar satu jam kurang kami mendaki sampe juga di tanah datar sabana dua, dan emang bener-bener wow. Istirahat sebentar di bawah pohon, gue melipir menyingkir lagi dari kerumunan kami berdua.

Ga ada yang ga setuju kalau daerah sabana dua adalah tempat paling cantik di Merbabu, mata kita dimanjakan bukit-bukit hijau dengan langit biru yang menawan, belum lagi gunung Merapi masih berdiri dengan megahnya, kalo kamu dapet ultra keberuntungan kamu bisa lihat samudra awan di sebelah tenggara (eh gatau arahnya deng) sepanjang mata memandang lo cuma bisa kagum angguk-angguk, gila nih pemandangan. Emang capek sih, tapi ini lebih dari kata bagus banget.

“The beautiful view comes from the hardest climbing”

Sampai di Sabana dua, kita mencar. Dias istirahat dan gue sibuk poto-poto dan selfie-selfie.

Jam tiga sore kami turun dari sabana dua dan sampai di basecamp jam setengah 7, jam 7 gue nyetarter motor dan balik ke Semarang, sampe Semarang jam 9 malem, dua jam tepat perjalanan itupun karena udah kecepatan dikejar setan. Sampe kost langsung chat Uti, ngajak makan di Penyet kuah, karena kalo ga gitu bakal langsung tepar di kost. Selesai makan pulang, mandi, dan ngolesin counterpain ke seluruh kaki, pundak dan punggung, alhasil badan puanaass semua. Gue pun memaksakan tidur dengan secercah doa kecil semoga besok pagi bisa jalan. Jalan kaki kurang lebih 10 jam itu sungguh bikin sesak tapi enak, bikin sakit tapi pengen lagi.

Jadi masih mau tek-tok lagi ?

Berjuang untuk dia yang selalu abai aja gue sanggup apalagi cuma tek-tok looo.

NB : Gue masih punya satu hutang lagi di Merbabu, tek-tok Merbabu dengan sendirian, semoga kesampaian sebelum hidup makin rumit.

Leave a Reply