Sebuah Perjalanan Berdamai Dengan Luka

Hari ini untuk yang ke tujuh kalinya saya mendaki ke gunung Merbabu.Yap, Merbabu masih menjadi gunung favorit untuk di daki.

Sebenarnya pendakian ini bukan rencanya saya, hanya mengantarkan teman-teman Efast 2 ; Budi, Ichsan dan Arifah.

Kita bertemu di pintu masuk Umbul Songo, dan saya menjemput Arifah di Pasar Ngablak, karena hanya Arifah yang berangkat dari Purworejo yang berbeda arah dengan kita.

kronologis

12.30an Mulai pendakian dari basecamp
12.30- 17.00an Udah lupa dari pos bayangan 1 sampe pos 3 jam berapa aja, pokoknya JAUH, LAMA, CAPEK.
18.00an sampe ati, Udah mau nyerah, gelap, laper, ngantuk, dingin
18.30 Puncak menara udah deket (padahal jauh bet)
19.00 Sampai pos pemancar dan mendirikan tenda

Sesampai di puncak menara, masang tenda, masak, makan lalu tidur.

Ichsan kedinginan, urat kaki budi naik, arifah masih jaim, dan saya masih nunggu kamu dek.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Tampak belakang lebih meyakinkan

keesokan harinya kita submit ke puncak kenteng songo, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam setengah untuk menuju puncak.

06.30 – 09.00 Submit dari puncak menara sampai puncak kenteng songo.

Tentunya jalan ke puncak lebih curam, lebih capek, tapi karena kita sudah istirahat semalaman jadi tenaga kita sudah kembali.

Setelah puas poto dan tulis-tulis di puncak, kita kembali ke camp di menara.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Ichsan, Budi, Saya, da Arifah

Ambil air di tengah perjalanan, lalu balik ke camp masak dan packing dan turun.

Turun jam setengah 2 siang.

Dari pos 4 (menara) menuju pos 3 kondisi masih baik-baik saja.

Di tengah perjalanan pos 3 menuju pos 2, sepatu Arifah terlalu licin di gunakan.

Sudah beberapa kali dia, Arifah, tumbang, bangkit, dan jatuh lagi.

Akhirnya daripada memperlama perjalanan, saya memijamkan sandal gunung saya ke Arifah, alhasil saya nyeker (lagi) untuk yang kedua kalinya.

Sakit sih, tapi ga seberapa sama perlakuanmu dek

15.00 Sampai di Pos 2 dengan selamat dan masih kuat.

Masih ada 3 pos lagi, yakni pos 1, pos bayangan 2 dan pos bayangan 1, lalu sampe di basecamp.

Dan perjalanan luka ini dimulai dari pertengahan jalan menuju pos satu.

HUJAN TURUN

SEMAKIN DERAS

Dan ini di luar perencanaan saya.

Satu-satunya yang ditakutkan ketika hujan turun adalah kondisi jalan yang sudah licin semakin licin.

DAN SAYA GA PAKE ALAS KAKI.

Beberapa kali saya terpeleset dan itu sakit. . . beneran sakit.

Belum lagi carrier saya isinya ‘batu’ di tambah basah jadi makin berat.

ga butuh waktu yang lama, kondisi jalan jadi makin licin. Jangankan berjalan tertatih, berdiri tegak saja tidak bisa.

Satu-satunya cara berjalan ya merangkak dari atas ke bawah, sesekali berjalan mundur.

Mudah ? tentu saja tidak

Pada awalnya sih mudah, tetapi semakin lama kok makin sakit, kondisi jalur pun tak berubah semakin baik malah semakin parah.

Sejenak saya berhenti sebentar di antara dinginnya sore itu.

Hari sudah semakin gelap, pilihannya hanya dua

Saya menyerah artinya hidup saya selesei sampai disini, atau saya terus berjalan dengan rasa sakit ini.

Saya terdiam dan menyimpulkan, menyerah bukan alasan.

Berhenti artinya ada dua, kamu habis atau waktu yang kamu butuhkan untuk sampai semakin lama.

Lebih dari 3 jam saya berjalan merangkak, tertatih selangkah demi selangkah, mengatasi rasa sakit hanya untuk satu alasan ; PULANG

hanya lagu-lagu di hape yang memecahkan keheningan rintik hujan sore itu, dalam hati saya berkata ‘kalau saya bisa selamat, saya tahu itu bukan karena saya’.

betapa bahagianya saya ketika saya sampai di Pos satu, bukan karena perjalanan saya sudah dekat (faktanya masih butuh waktu berjam-jam lagi) tapi karena saya masih berusaha untuk terus berjalan.

Di tengah perjalanan menuju Pos Bayangan 2, tiba-tiba ‘klek’

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRGGGGGH”

Saya berteriak, lutut sebelah kiri ternyata sudah tidak bekerja normal.

Sakitnya semakin sakit, lutut tidak bisa di tekuk.

Tak berapa lama saya mencoba berdiri dan berjalan. dan . . . .

“ENGKEL KAKI KANAN KESLEO”

HABIIIIISSS SUDAAAAAAAAH. . .

Sore itu, hanya ada sendiri yang merasakan sakit itu, sudah tak terhitung saya berteriak minta tolong. Budi sudah jauh di depan, Ihsan dan Arifa pun juga begitu.

Langkah semakin tertatih sambil menahan rasa sakit.

Sudah terlalu sering saya melawan rasa sakit ini, namun semakin dilawan ternyata semakin sakit.

Rasanya ingin marah sama Tuhan dan berteriak

“LORD, WHYYYY ALWAAAAYYYYSSS MEEE ?”

Dan dengan lembut Dia menjawab

Why not ?”

Akhirnya saya menyadari yang salah bukan rasa sakitnya, tapi saya nya lah.

Rasa sakit bukan untuk dilawan, tetapi berdamailah.

Saya damaikan diri saya dengan sakit ini dengan terus melangkah, sakitnya memang tidak hilang, tapi saya sudah menang.

Sampai di Pos Bayangan 2, respon spontan saya langsung teriak PUJI TUHAN. Tinggal satu pos lagi lalu ke basecamp.

jaraknya ? hahaha

Masih jauh sangat.

Satu lagi pelajarannya, Tuhan sedang melihat saya berjalan tertatih kesakitan.

Dia membantu saya ? TIDAK

Tapi dia menjauhkan saya daripada yang jahat. Ketertatihan saya dibuatNya untuk terus berjalan dan tidak menyerah. Kesakitan saya tidak dihindarkannya supaya saya tahu saya tidak sendiri dalam segala kesusahan.

INI MENDEWASAKAN SAYA.

INI PERJALANAN SAYA.

Pos bayangan satu, HALELUYA PUJI TUHAN, ALHAMDULILAH.

Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi pemberontakan.
Yang ada cuma rasa syukur, Tuhan masih menjaga sampai saat ini

Dari pos bayangan satu menuju basecamp, jaraknya memang tidak sejauh yang sudah saya tempuh, tapi kondisi jalurnya lebih curam, lebih licin, dan gelap.

Merangkak tertatih pesakitan lagi.

GOD CREATED ME MORE THAN STRONG.

Sesampainya di jalan beraspal, ada cahaya lampu motor. dan ternyata itu budi yang memberi pertolongan.

Jemputan menuju basecamp sudah tiba, saya bisa bernafas sedikit agak lega.

Dan ini adalah SEBUAH PERJALANAN BERDAMAI DENGAN LUKA

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Misi selesei, saatnya pulang

Leave a Reply