Review Film Love For Sale

Ntah ya, akhir-akhir ini memang dunia perfilman Indonesia sedang menunjukkan taringnya. Banyak banget film-film Indonesia yang berkualitas bermunculan dan bahkan menang di ajang festival film Internasional. Itensitas gue nonton film Indonesia pun jadi lebih banyak dibandingkan dengan nonton film luar.


 

Salah satu film yang menurut gue bagus yang sedang tayang adalah Love For Sale. Ada beberapa faktor yang bikin gue nonton film ini, pertama, film ini disutradarai sama Angga D Sasongko (saya selalu ngikutin IGnya om Angga ini) yang filmnya meaningfulness banget menurut gue, terus karena ada Adriano Qolbi nya juga (sebagai kolam tai, bang Adri udah punya pengikut yang radikal wkwkwkwk) lalu Trailer yang unik dan beda, ketika gue liat trailernya komen pertama gue WTF with this movie wkwkwkw, dan terakhir, liat rang-orang yang komen di twitter dan IG setelah nonton film ini, akhirnya gue kemarin nonton juga.

Katanya sih nonton film ini itu harus sendirian biar magisnya bener-bener kerasa, dari rencana nonton dengan beberapa orang temen akhirnya gue nonton sendirian, iya SEDIRIAN. Dan bener, ternyata nonton Love For Sale sendirian itu bener-bener kerasa magisnya, perasaan kesendirian dan kesepian itu benar-benar dalem. Buat klean-klean harus nonton film ini, kalau bisa sendirian deh.

 

IMG_2283
kuat dong nonton sendiri wkwkwk

Lagi-lagi ga afdol kalo review film ga pake spoiler ya kawan-kawan, kalau ingin nonton film ini tanpa spoiler lebih baik hentikan pembacaan kalian sampai disini aja, nonton aja dulu. Tapi kalo masih penasaran ya lanjutin lagi aja ehe 🙂

Film yang ditulis oleh Andi Bachtiar Yusuf ini bercerita tentang Richard (Gading Marten) seorang bujang lapuk, tua (42 tahun) nda fasionable dan tentunya belum punya pasangan. Teman-teman dari Richard sendiri sepertinya sudah berubah, dari teman-teman yang seumuran ke anak-anak muda yang jauh usianya dari Richard dengan memanggilnya om. Mereka semua teman-teman dengan hobby yang sama, nonton bareng pertandingan sepakbola.

Hingga pada suatu waktu, salah satu teman om Richard ini menikah, mereka pun taruhan kalau Richard tidak akan membawa pasangan, Richard pun berdalih bahwa dia mempunyai pasangan namun sedang sibuk sahaja. Mereka pun taruhan, bukan taruhan uang namun harga diri. Dasar ya, emang gengsi para laki-laki yang sebenernya ga punya pasangan. Richard menerima tantangan teman-temannya, walau akhirnya harus ribet diakhir, mencoba mencari kenalan dari klien perempuan, mengajak karyawan perempuannya, hingga minta dicarikan oleh sahabatnya sendiri.

Long story short, semua perempuan itu bukan ’tipe’ nya Richard, hampir putus harapan, Richard menemukan brosur dari Love.inc, sebuah aplikasi dating. Tidak hanya dating, tapi juga kontrak dating, darisanalah Richard bertemu dengan Arini (Della Dartyan). Dari Love.inc Arini dikontrak oleh Richard selama 45 hari.

Arini ditampilkan sebagai gambaran sempurna seorang perempuan untuk laki-laki (tua), Andi Bactiar sialan banget membuat karakter Arini di film ini. Siapa yang ga luluh dengan perempuan cantik, sportif, enerjik, supel, inisiatif, ramah, enak diajak ngobrol, perhatian, punya hobby yang sama, pinter masak dan terakhir jago di ranjang. Ketika melihat karakter Arini yang super perfect ini, imajinasi gue melayang sama dia anjirlah wkwkwkwk

Oh iya, film ini ini untuk kalangan 21+ ya, ada adegan ena-ena nya, kalau kalian liat duo srigala udah berbusa, mending urungkan niat kalian untuk nonton film ini.

Della Dartyan
(source : IG Della Dartyan)

 

Datangnya Arini di kehidupan Richard, mengubah semua sikap Richard di kehidupannya, Richard yang dulu disiplin dengan waktu, keras, kaku, tidak bertoleransi dengan karyawannya seketika menjadi berubah 180 derajat.  Para karyawannya pun heran dengan perubahan sikap Richard ini. Ya namanya juga pria yang udah lama kesepian tiba-tiba menemukan perempuan yang ‘sempurna’ pasti luluh lah.

Perhatian Arini pada Richardpun semakin menjadi-jadi, mulai membuatkan sarapan, pola makan yang menjadi lebih sehat, bahkan hingga ke teman-teman dan pekerja om Richard ini merasakan kebaikan dan kepedulian Arini. Memang ya, laki-laki memang lemah, sekuat apapun pendiriannya akan luluh juga dengan perempuan, dasar bucin (it’s fact wkwkwkwk).

Ada bias yang gue dapet tentang tempat asal Arini, pertama dia bilang berasal dari Pacitan, lalu Tulungagung dan terakhir Ngawi. Disitu gue mulai curiga.

“Okay i’ll save the ending for you”

Film ini ditulis dan dibuat relate dengan kehidupan sehari-hari, laki-laki dengan teman-teman gengnya yang kadang suka ngaco, lalu ada juga sahabat yang relijus (Panji) yang selalu menjadi tempat curhat. Lingkungan pekerjaan antara bos dan karyawan, semua nya tergambar seperti nyata tidak dilebih-lebihkan.

Love For Sale lebih banyak berbicara tentang kesendiran, kesepian dan keheningan yang panjang tentang laki-laki yang sudah berumur dengan alasan tertentu tentunya, semua alasan, penokohan, alur cerita, emosi dan cerita terdeliver dengan baik.

Tapi ada beberapa hal sedikit yang terlihat biasa, jeda membuat rasa kesepian sesudah klimaksitu terlalu panjang, lalu themesong lagu yang itu-itu saja, lagu itu memang tepat dan ngena sih. Tapi berulang lagu itu diputar, agak gimana jadinya.

Diatas semuanya itu, alasan dari kesendirian dan kesepian, ada ending yang multitafsir dikemas dengan sangat epic yang buat gue merasakan perasaan anyep tak terdefinisikan. dalam hari cuma bilang anjir wkwkwkwk.

Jadi kalau ditanya layak engga nonton film ini, gue pasti nyaranin untuk tonton aja.

love for sale (kapanlagi)
Love for sale (source : kapanlagi)

Leave a Reply