Recap Travelling on June

“Kau aman ada bersamaku – Banda Neira”

Gue buat recap travelling ini, karena kalo ga salah bulan juni ini bulan dimana gue banyak banget mainnya, biasa sebulan sekali tapi kali ini ada beberapa kali mainnya. Mungkin karena bulan juni adalah bulan yang paling banyak liburnya karena bertepatan dengan lebaran, padahal gue libur mulu inimah wkwkwkwk. Dan uniknya, hampir semua agenda travelling bulan ini hasil dari rencana dadakan, malam ini dibicarakan besok berangkat.

Job fills your pocket, Travel fills your soul

So. . here we go

  1. Camping di Promasan, 14-15 Juni 2018

Awalnya gue ga termasuk dalam acara main bareng disini, anak-anak gereja pada mau camping di Air Terjun Curug Lawe itu ada di daerah Gunung Pati, Lisu mendesak gue buat ikut untuk nemenin dia, oke lah, eh pas hari H nya malah dia yang ninggalin gue ke Cirebon oke fix fax. Kita jalan ke Curug lawe, dan ternyata sesampainya disana air terjun Curug Lawe sedang ditutup, karena malam 1 syawal H-1 Idul Fitri. Curug lawe tutup H-1 dan hari H lebaran, jadi kita kena jackpot, mana Anneta sempet jatuh dari motor pas di parkiran LoL.

Berunding dan mempertimbangkan, ada beberapa alternatif Kalipancur, Curug satunya dan Gedong Songo, akhirnya diputuskan kita pergi ke Pos Mawar, gunung Ungaran. Curug lawe ke Pos Mawar itu seperti muterin gunung Ungaran, dan kayaknya sih emang bener muterin. Sesampai di pos Mawar, nak-anak perempuan pada pengen ke kebun teh which is itu harus trekking 2 jam lebih. Bodornya kira pergi tanpa bawa persiapan camping di gunung mereka nekad-nekad aja, dan ujung-ujungnya gue (ama mas don) juga yang sakit, bawa jaket dua dipake sama Ribka sama Debo, handuk dan jaket Mas Don juga terkorbankan karena para wanita ini.

The Team

Pas pulang, rombongan terpisah jadi dua, gue, Mas Don, Debo dan Ribka menjadi kelompok yang tertinggal, dan Debo n Ribka sempet tidur di kebun kopi deket kolam renang. Sampe di basecamp mawar siang-siang, dan ternyata kevin, niko masih nungguin kita disana, mana Debo tadi tidurnya lama dah.

Pulang ke Semarang tapi sempet mampir makan babi dulu. Kaki masih mayan pegel itu tapi malemnya gue harus pergi lagi karena janji mau naik ke Andong sama Jo. Kuat kok kuaat, asal jangan dipatahkan aja hatinya.

  1. Tek-tok Andong, 15-16 Juni 2018

Belum genap 24 jam dari trekking Ungaran yang cukup melelahkan, dari promasan sampe Semarang siang, malemnya pun harus jadi latihan dadakan buat ibadah raya hari minggu. Selesei latihan sekitar jam 10 malem, dan jam 11 gue dan Jo ke rumah mas Mugi (temen gereja Jo), kita tek-tok ke gunung Andong, karena kemarin rencananya ke Merbabu tapi Jo ragu buat ke Merbabu, dan keraguan Jo ternyata bener, dia muntah dua kali karena ketidaksiapan atau mungkin tubuhnya kaget dengan pola kegiatan yang ga kaya biasanya. Gue yang baru trekking dan turun dari Ungaran masih terlihat baik dan kuat-kuat aja (padahal besoknya gue yang tepar).

Sunrise Andong, kau (masih) aman bersamaku

Sekalipun udah ke Andong berkali-kali, gunung selalu punya keindahan yang berbeda tiap berada disana, dan ini mungkin salah satu sunrise terbaik yang pernah gue dapatkan di Andong. Dan juga gulungan samudera awan di bulan juni keren banget. Tek-tok di Andong dua jam mendaki karena emang Jo juga ga bisa cepet, dan turunnya gue lari dari atas ke bawah. The crazy things that i did, lari 30 menit udah sampe basecamp wkwkwk, rekor gue tercepat saat ini untuk turun gunung (andong).

  1. Bandengan, 21 Juni 2018

Selesei doa rabu karena terpaksa (20 Juni 2018), Niko nelpon gue karena kamar kost Dedi ada setannya (lah anjir wkwkwk), ternyata si Niko ini penakut juga, pelayanan aja kenceng sama setan lari Lol. Abis doain Dedi beserta kamar kost nya, gue dah ada janji makan sama Lisu (dia lagi wkwkwkwk) dan Ribka, tapi ketemu dulu ketemu di taman Tirto Agung yang banyak nak alaynya.

“Lis besok kamu libur kan ?”

“Iya, main yuk”

“Yuk, ke Dieng kita”

“Yuk”

Tak lama setelah itu, Debora nelpon

“BAANG, ABANG MAU PERGI KEMANA SAMA ORANG KAK LISU SAMA KAK RIBKA ?”
“GA ADA LAGI ORANG DI KOST AN KU LOOOO”

Kode dia mau diajak.

Akhirnya kita pergi ke Bandengan berenam (Ribka, Lisu, Debo, Dedi, Niko dan Gue sendiri tentunya), dari Semarang jam 8 pagi sampe bandengan jam 11 siangan karena kita sarapan dulu di daerah Welahan. Karena sampenya udah siangan, jadi bingung mau ngapa-ngapain karena panas juga. Akhirnya sewa tikar dan leren disana sambil menunggu sore untuk pergi ke Pulau Panjang, jam dua’an kita pergi ke Pulau Panjang dengan naik perahu dan bayar 25k. Seenggaknya gue udah dua kali ke Pulau Panjang, itupun dulu bangeett kayaknya 2011 dan 2014 deh, tapi yang kali ini kecewa dengan pulaunya, sudah banyak sampahnya dan makin rame, akhirnya kita Cuma ngelilingin pulaunya terus berhenti bentar di sisi pantai yang sepi dan masih bersih. Udah cukup sore kita ada disana, kita kembali ke pantai Bandengan lagi, di perjalanan menuju pantainya, sore dan senja saat itu bagus banget. Sampai di Bandengan kita masih dapet sunset yang warbiyasaaah, Beruntung semua seneng dan ga kecewa walaupun Dedi kehilangan topinya disana.

Dermaga Pulau Panjang

 

Dari Bandengan kita mau makan di sekitar alun-alun, nyaris aja dapet jackpot, kita pun menyingkir agak menjauh dari food courtnya dan cari yang semoga engga dapet jackpot. Abis makan kembali ke Semarang dengan kecepatan setan lagi, karena jam 10 gereja, tempat tidur Lisu dan Ribka udah tutup, beruntung jam 10 kurang sedikit kita sampe dengan selamat.

Someday, you will find the one who will watch every sunrise with you until the sunset of your life. – Pepatah Boyolali

 

  1. Tektok Merbabu, 24-25 Juni 2018

Ini yang paling gila sih, suatu malam di tanggal 24 juni 2018, tiba-tiba Dias, temen kost gue ke lantai dua tempat kamar gue berada dan bilang “Gih, Merbabu yuk”, terus gue tanya kapan dan dia jawab “Malem ini, kita tek-tok”, ANJIRLAH, YA GUE IYAIN AJA “Gas kitaa”. Rencanya kita mau pergi jam setengah 11, tapi molor ini itu lah, belum makan lah, kitapun pergi jam 1 pagi, sampe basecamp Selo jam 3 pagi, pas mau naik ternyata dikasih tau kalo pendakiannya tutup dari jam 12 tadi, besok baru buka jam setengah 8 pagi, kita baru tau info buka tutup jalur pendakian ini. Ya daripada jadi pendaki illegal dan nama gue diblacklist dari gunung-gunung, mending nunggu besok pagi aja, akhirnya kita tidur di basecampnya.

The best view comes after the hardest climbing – Sabana dua Merbabu via Selo (dokumentasi pribadi)

Besoknya kita mulai pendakiannya, total perjalanan mendaki dan turun nyaris 10 jam. Kita berangkat jam 8 pagi lalu sampe jam sabana dua, jam 3 sore turun lagi dan sampe basecamp jam setengah 7 malem, jam 7 malem kita balik Semarang, lagi-lagi dibulan Juni gue bawa motor kaya dikejar setan.

Pendakian tek-tok merbabu ini lebih susah daripada main tik-tok. Gimana engga, balik-balik ini kaki udah mau lepas, pundak juga mulai berasa, padahal yang berat-beratin itu cuma tripod tapi tetep aja pegel. Tapi puas sih, pengalaman pertama tek-tok naik gunung yang terbilang tinggi, lanscape yang gue dapet pun keren banget, walau harus capek dan panas-panasan tapi semua nya terbayar lunas, dari awal berangkat sampe pulang lagi di Semarang gue rasa capek dan satisfied. Gue masih ada satu hutang lagi sama Merbabu, yaitu Solo dan tek-tok, gue masih berhutang buat ndaki tanpa camping dan itu sendirian. NAH LOH.

Nah, itu tadi recap travelling selama bulan juni, gue rasa gue masih akan terus banyak main, dan satu persatu “hutang main” gue mulai terbayar, walaupun masih banyak yang belum dipenuhi. Gue pernah denger quote yang bilang

kalau punya uang travelling lah jangan cuma beli barang, karena benda akan habis dan kenangan itu abadi

 

Stay Excellence

One Reply to “Recap Travelling on June”

  1. good stuff. I will make sure to bookmark your blog.

Leave a Reply