pollycarpus X giordano bruno

Qui dove il rogo arse

Awal berkembangnya kekristenan di dunia tidak berjalan di jalur yang mudah, sebuah pesan terakhir dari Yesus untuk para muridnya ditakutkan akan menurunkan loyalitas rakyat kepada sang raja. Namun Amanat Agung itulah yang membuat para murid-murid Yesus menjadi berkobar mengabarkan sebuah “kabar baik” keseluruh dunia. Rezim demi rezimpun menggunakan kekuatannya untuk membungkam sebuah ajaran baru yang akan membuat kerajaan menjadi lemah.

Bilang saja Pollycarpus, seorang dari bapak gereja di smirna, sebuah kota kecil di Turki, harus berhadapan dengan para prajurit. Mereka menekan Pollycarpus menyangkal iman percaya dia. Karena dia menolak, akhirnya Pollycarpus diikat dengan tonggak lalu dibakar di tengah pasar. Meskipun nyala api berkobar menyelubungi tubuh Pollycarpus, api itu tidak mengenainya, akhirnya salah satu prajurit menikam tubuh Pollycarpus dengan tombak. Akhirnya Pollycarpus meninggal habis dilalap si jago merah.

Selang waktu yang sangat lama, Kekristenan menjadi sebuah super power dunia, lalu menjadi sebuah agama negara. Vatican menjadi sentral baru dunia. Setiap harkat hidup semua manusia nyaris diseluruh dunia dikendalikan dari Vatican. Akhirnya, ilmu pengetahuan dibungkam, kebenaran menjadi terselubung, ekspresi keyakinan manusia menjadi terbatas. Semua yang tidak sejalur dengan Vatican dianggap sesat dan bi’dah.

Giordano Bruno, seorang biarawan, filsuf, ahli kosmologi dari Italia, dia menentang otoritas gereja dan menolak untuk mengakui kesalahan keyakinan filosofis selama delapan tahun di penjara Venesia. Hidupnya menjadi saksi pengetahuan dan kebenaran yang menandai periode sejarah Renaissance, sebuah periode yang banyak mengungkap seni moder, pemikiran dan ilmu pengetahuan. Akhirnya, bekas biarawan Dominikan itu dibakar hidup-hidup juga oleh Gereja Katolik pada 17 Februari 1600.

giordano bruno
Patung Giordano Bruno di Campo dei Fiori, Roma. Istock

Pada 1992, Vatikan mengumumkan permintaan maaf kepada masyarakat dunia. Dan pada 2000, Kardinal Angelo Sodano, Menteri Luar Negeri Vatikan, berkata bahwa Gereja menyesal karena dulu telah menggunakan kekerasan dalam menangani kasus Bruno—sekalipun hingga kini mereka tetap menganggapnya sesat.

Apakah permintaan maaf dan pengakuan dosa itu berguna buat Giordano Bruno? Tentu tidak. Tetapi ia berguna bagi kita. Ia mengingatkan kita bahwa keyakinan, yang rambu-rambunya ditetapkan oleh para wakil Tuhan di dunia, bisa salah. Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan.  (Dea Anugerah, Tirto)

Baik Pollycarpus maupun Giordano adalah sebuah contoh yang sangat kecil dari tindakan represif yang dilakukan oleh ketakutan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Rasanya perbedaan keyakinan, pandangan dan pemikiran menjadi ukuran untuk manusia menilai sesamanya. Mempunyai kekuatan sungguh sangat berbahaya bila disalahgunakan. Namun akar dari semua ini adalah, ketidakmauan manusia untuk menghargai yang berbeda.

Manusia yang diberikan akal dan pikiran sebenarnya mempunyai kebebasan untuk menerima dan menyerap hal-hal yang baru dan mungkin berbeda. Kebebasan inilah yang sebenarnya membuat manusia bisa melihat dari perspektive yang tak sama. Semakin bisa kita melihat banyak perspektive, membuat kita menyadari bahwa semakin besar dunia yang ada diluar kita dan membuat kita semakin menghargai sebuah perbedaan.

Di Indonesia saat ini, berbeda pandangan dianggap musuh. Pola pikiran yang tak sama dianggap rendah.  Pandangan yang tak sepadan dianggap sesat. Indonesia, masih perlu banyak belajar tentang kemanusiaan dan bagaimana seharusnya kita hidup dengan latar belakang yang bervariasi.

 

Leave a Reply