Udah, pindah gereja aja

Telah cukup lama berkecimpung dalam dunia kekristenan dan gereja, saya telah melihat begitu banyak drama yang terjadi di kalangan orang kristen ngehe ini. Menurut pendapat saya sendiri, semua drama yang terjadi ini sebenarnya bukan berasal dari sesuatu masalah yang serius atau menyebabkan hilangnya nyawa manusia, namun semua permasalahan yang disusupi oleh ego dari tiap-tiap pihaklah yang mengakibatkan menjadi terlihat rumit nan njlimet. Biasanya kronologinya berawal dari konflik, lalu menyebabkan drama, lalu saling membela kepentingan dan egonya sendiri, playing victim and blah blah blah. Hingga akhirnya satu pihak (jemaat) memutuskan undur dari persekutuan dan memutuskan mencari tempat yang lain. Sementara itu di atas mimbar, gereja selalu menasihatkan bahwa jemaat seharusnya setia, ketika ada perselisihan harus diselesakan dengan penuh hikmat dan kepala dingin. tai

church
source : pexels.com

Tapi sebenarnya, apakah orang Kristen itu boleh pindah gereja ?

Menilik dari kitab suci sendiri (saya tidak akan membahas banyak tentang hal ini) memang jemaat Tuhan diperintahkan untuk tidak undur dari persekutuan. Tapi, masalahnya persekutuan yang mana ? persekutuan orang percaya (kristen) itu banyak sekali jenisnya. Protestanisme salah satunya, dia sudah menghasilkan begitu banyak denominasi dari aliran-aliran kristen sendiri. Banyaknya denominasi ini membuat adanya kesempatan bagi jemaat untuk tetap menjadi kristen namun tidak dengan persekutan yang lama. Atau juga jemaat diberikan banyak pilihan persekutuan yang mana yang mereka pilih. Jadi kesempatan ‘jemaat’ untuk memilih dan berpindah pada satu gereja/aliran sangat besar bukan ?

Pindah perpindahan itu sendiri bukan sesuatu yang baru lagi di kalangan gereja. Tapi apakah salah bila jemaat pindah gereja ? Apakah “gembala” selaku utusan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan ?

Mari kita coba lihat perspektive yang mungkin berbeda. Saya menulis ini bukan untuk menyerang siapapun, ini hanya murni dari keresahan dan pandangan saya sendiri.

Bila kita tarik sejarah, ada beberapa kesalahan fatal yang dilakukan oleh ‘hamba Tuhan’ dan gereja dengan menggunakan kekuasaan yang ada untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Beberapa contoh ini diambil dari kejadian-kejadian yang sudah sangat lama dan sudah menjadi bagian sejarah. Agar tak ada mislead antara jemaat dan gembala, dan tidak ada kesan menjatuhkan sosok hamba Tuhan.

jim-jones-10367607-1-402
Jim Jones (source : Biography)

Jim Jones (1931-1978) Seorang pendeta kharismatik dan mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa bagi jemaatnya, sehingga dia membuat “The People’s Temple” sebuah sekte tersendiri. Jim Jones mendapatkan “Pewahyuan” tentang “tempat kudus” yang mengajak jemaatnya melakukan exodus ke sebuah tempat yang jaraknya sangat jauh.

Namun ternyata tempat yang dituju tidak seperti surga yang dibayangkan, otoritas pemerintah pun melakukan penyelidikan. Singkat cerita James Warren Jones memberikan jemaatnya sebuah minuman dengan kombinasi jus buah, obat penenang dan sianida. 910 orang melakukan bunuh diri massal (silahkan cek Jonestown Massacre)

david
David Koresh (wikipedia)

Lalu, David Koresh (1959-1993), Yang merupakan turunan dari Gereja Masehi Advent hari ketujuh, yang percaya akan pandangan apokaliptisisme, yakni sebuah keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang hidup dimana nubuatan akhir zaman pada kitab wahyu akan terjadi. David Koresh sendiri mengklaim dirinya sebagai ‘anak domba’.

FBI melakukan investigasi pada perkumpulan David Koresh karena adanya laporan tentang penyiksaan fisik terhadap anak-anak dan pengumpulan senjata api illegal. FBI mengepung “mount carmel”, David Koresh mendeklarasikan pasukan “Siswa-siswa dari ketujuh meterai” untuk melakukan perlawanan atas pengepungan dari FBI. Akibatnya 54 orang dewasa dan 21 anak kecil meninggal (mount carmel fire).

Sejarah yang kelam juga terjadi ketika para-para imam katolik mulai turut campur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semua aturan dari negara hingga harkat hidup manusia dibuat oleh gereja dan ‘kitab suci’ sebagai pedoman yang mutlak sehingga tidak dapat diganggu gugat lagi. Sehingga ketika ada yang terlihat bertentangan dari tafsiran kitab suci dianggap bi’dah, sesat dan menyeleweng.

Galileo Galilei, dipidanakan dengan penjara seumur hidup karena pemikirannya tentang semesta bertentangan dengan iman katolik (saat itu). Giordano Bruno, seorang pemikir yang dibakar atas nama iman oleh Vatican karena teori yang dia buat yang menyatakan bahwa bumi bukan pusat tata surya, Giordano mengembangkan teori heliosentris dari Copernicus yang menyatakan bahwa semesta itu lebih luas dari yang copernicus ungkapan yang sebatas pada struktur dari benda-benada langit yang itu-itu aja.

Giordano-Bruno.jpg
Giordano Bruno (http://www.patheos.com)

Pada 1992, Vatikan mengumumkan permintaan maaf kepada masyarakat dunia dan mengakui bahwa Galileo benar. Dan pada 2000, Kardinal Angelo Sodano, Menteri Luar Negeri Vatikan, berkata bahwa Gereja menyesal karena dulu telah menggunakan kekerasan dalam menangani kasus Bruno.

Apakah permintaan maaf dan pengakuan dosa itu berguna buat Galileo Galilei dan Giordano Bruno? Tentu tidak. Tetapi ia berguna bagi kita. Ia mengingatkan kita bahwa keyakinan, yang rambu-rambunya ditetapkan oleh para wakil Tuhan di dunia, bisa salah. Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan (tirto.id).

Belum lagi kelahiran “Protestanisme” cikal bakal dari abad pencerahan. Kalau awalnya pertikaian yang terjadi adalah antara iman dan ilmu pengetahuan, sedangkan pertikaian selanjutnya adalah pertentangan tentang berbedanya Mahzab atau pandangan teologi. Ada pandangan yang sudah lama terbentuk dan diakui oleh gereja saat itu, tiba-tiba diprotes oleh seorang biara dari sebuah desa dan tak terkenal : Martin Luther. Tentu saja gereja berang dan mendepak Luther dari biara dan mencap nya sebagai orang yang sesat dan juga Martin Luther menjadi tahanan politik. Hal itulah yang menjadikan konflik 30 tahun antara katolik dan protestan yang mengakibatkan 7,5 juta orang meninggal. Butuh waktu yang sangat panjang dan darah yang tertumpah demi berdamainya antara Katolik dan Protestan.

Lalu bagaimana dengan jemaat ? kalau hamba Tuhan aja bisa salah, apalagi para jemaat. Sudah banyak contoh kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh jemaat, ga percaya ? coba aja ngaca.

Dari hal itu, pada akhirnya memang diperlukan adalah tingkatan kedewasaan yang mumpuni dari kedua pihak, baik dari pemimpin gereja maupun jemaat tidak memberi makan ego masing-masing. Semua pihak seharusnya tidak mengatasnamakan kepentingan masing-masing ketika berada di dalam persekutuan.

Di pihak jemaat sendiri diperlukan independensi agar tidak mudah terpengaruh dan mulai membentuk diri sebagai orang yang bijaksana. Jemaat-jemaat ini sebenarnya paling banyak yang lebih ngehe, seenaknya sendiri, dinasehati tak berguna, dibaik-baikkin juga melunjak.

Pada akhirnya manusia itu sama saja, label apapun yang dia gunakan, atau jubah mana yang mereka pakai, ego adalah urusan masing-masing. Orang yang terlihat relijus bisa menjadi orang yang mementingkan ego nya diatas segalanya, begitu juga sebaliknya.

Yesus datang untuk menyamaratakan tingkat kelas manusia, tidak ada yang lebih penting dan tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih dikasihi atau kurang dikasihi, Pendeta/Hamba Tuhan sama kelasnya dengan jemaat yang membedakan mereka adalah fungsi dalam tatanan kehidupan.  Pendeta bisa salah, jemaat bisa benar atau sebaliknya pendeta bisa benar, jemaat bisa salah, atau kedua-duanya bisa benar maupun salah. Namun hal yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai umat manusia tidak menistakan atau merendahkan harga diri sesama manusia lainnya.

window-1560966_960_720.jpg
source : pixabay

Ketika ada yang mengatakan bahwa menjelekkan pendeta di belakang adalah perbuatan dosa yang besar, sebenarnya hal itu sama berdosanya bila kita merendahkan manusia lainnya tak perduli apapun jubah yang dikenakannya ? Tidak ada ukuran yang menyatakan merendahkan orang ini lebih celaka dibandingkan dengan menjelekkan orang lain yang dalam tatanan sosial terlihat lebih tinggi atau lebih rendah, semua sama.

Terakhir, karena kita semua punya potensi untuk berbuat salah juga kita tidak bisa membunuh ego kita secara penuh. Kedewasaanlah yang menentukan kita berada di pihak yang mana. Pindah atau tidak pindah gereja, semua orang (kristen) butuh tempat yang layak untuk berproses menjadi orang yang lebih dewasa.

Jadi masih mau pindah gereja ? udah pindah aja.
 

Leave a Reply