Perjalanan Paling Drama

Ketika manusia merencanakan ingin main yang menjadi tak terencana

“Banyuwangi. . .  banyuwangi”
Begitulah pesan singkat dari Ichsan sebagai kode-kode mesra ngajak kita main. Perkenalan terpaksa di Kampung Inggris yang lalu, menuntun kita berjalan mendaki ke Merbabu. Dari perjalanan Merbabu itulah komunikasi antar kita masih tetap terjaga mesra. Saya, Arifah, Ichsan dan Budi adalah segelitir orang yang terpaksa kenal karena satu kelas ketika di Pare, Kediri. Walau terpisah kota antara Jakarta-Semarang-Jogja, tidak ada kecanggungan diantara kami untuk tetap menjaga komunikasi.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Sisa perkenalan di Kampung Inggris ; Saya, Arifah, Budi dan Ichsan

 

Awalnya, kita merencanakan backpacker ke Banyuwangi. Sudah jadi keinginan sejak lama untuk menyusuri Taman Nasional Baluran, lalu pergi ke Gunung Ijen, satu dari dua tempat di dunia yang mempunyai blue fire, api abadi. Dan kalo ada waktu yang lebih panjang, ingin sekali menjelajahi Argopuro, gunung dengan trek terpanjang di pulau Jawa.

Mencari-cari hari tanggal merah, ternyata hanya ada 1 desember dan akhir tahun. Kepentok jadwal Arifah yang sudah bekerja, mau tak mau rencana ke Banyuwangipun dibatalkan.

Kalo mau backpacker ke Banyuwangi, paling engga butuh waktu minimal 5-6 hari pulang-pergi. Buat perjalanan antara Solo/Jogja ke banyuwangi butuh 2 hari pp. Belum lagi Ichsan yang dari Jakarta.

Memutar otak lagi, destinasi mana lagi yang akan dijejaki. Jogja, Solo, Pacitan, Jepara.

Aha, gimana kalo karimunjawa ?

Lumayan deket dari Semarang, masih tergapai dari Jogja. Banyak spot yang elok disana. Bahkan menjadi salah satu tempat terbaik menikmati sunset di Jawa ini.

Berbekal grup Backpacker Indonesia, banyak dapet info tentang Karimunjawa dan destinasi yang elok, penginapan, sewa kapal dan segala keperluan yang dibutukan di sana nanti. Saya juga baru tau kalau sebenarnya ada penyebrangan dari Tanjung Mas, Semarang ke Jepara. Dan satu lagi yang tak kalah penting, di karimunjawa ada orang yang merelakan rumahnya menjadi rumah Backpacker, itung-itung buat nginep gratis lah.

Awal November kita sudah memantapkan hati untuk pergi ke Karimunjawa, segala itinerary dan budget pengeluaran sudah dibuat sedetail mungkin. Tujuannya supaya kita bisa nabung untuk perjalanan yang berbeda.

Hari demi hari kita mempersiapkan apa yang harus diperlukan, Ichsan sudah mantap membeli tiket kereta api, peralatan snorkeling untuk menyelam minjem dari Uti, kamera, dan pasangan buat Arifah *eh. Maksudnya karena kita semua cowo dan Arifah sendiri wanitanya, jadi mau tidak mau Arifah harus punya temen wanita diantara para serigala lemah ini.

“ada dua temenku cewe mau ikut nih, tapi bukan si “dia” ya Fah” kataku.

Semua perencanaanpun sudah matang, tinggal menunggu hari eksekusi saja.

Jumat pagi dari Semarang nyebrang ke karimunjawa, minggu pagi balik ke Jepara, Minggu sore perayaan Natal di gereja. NTAPS.

Sambil menunggu hari, terus memantau grup “backpacker Indonesia” mungkin ada informasi yang dibutuhkan. 

Drama 1
Oh Shit, ternyata kapal fery dari Semarang ke Jepara sedang tidak beroperasi karena belum ada keputusan anggaran dari Pemerintah Jawa Tengah. Mau tak mau, kita merencanakan, option ke dua, kamis malem harus ke Jepara.

Fiuh. . . padahal masih hari H nya masih lumayan lama. Tapi bau-bau petualangan sudah semakin mendekat.

Drama 2
Gaes, kayaknya harus ganti destinasi deh, cuaca Jawa Tengah dan Jogja sedang tidak bersahabat. Tiap hari hujan terus. Takutnya, kita bisa ke Karimunjawa nya tapi ga bisa baliknya. Hujannya memang lagi ga bisa diajak baikan.

Saya satu suara dengan Arifah, Ichsan pun hanya manut-manut nurut sahaja.

Destinasipun kita ganti mendaki gunung Sindoro.

H-Seminggu

Teman-teman, cuaca semakin ga bersahabat. Katanya ada banyak badai di gunung.

Wejangan dari kakak Arifahpun, membuat harus memutar otak lagi.

Yakin nih ga ke Sindoro ? Emang panjang dan berat sih. Takut pada mati kayaknya sih,

Perubahan Rencana
Ganti rencana, kita sisir pantai di Gunung Kidul aja yuk, daripada naik gunung pada ga aman begini.

Arifah dapet kabar kalo di Gunung Kidul ada pantai yang masih tersembunyi dan cantik. Okelah, untuk kesekian kalinya kita rubah destinasinya, demi keselamatan bersama dan hasil suka-sama suka.

Itinerary pun harus diganti lagi, peralatan pun harus dipersiapkan ulang lagi.

28 Oktober 2017
Berita buruk kita terima, tanggal 29 november hingga 3 hari kedepan akan ada siklon tropis cempaka, siklon tropis ini adalah naiknya tekanan dari laut dan menuju ke daratan. Hampir mirip dengan Taifun yang pernah melanda Amerika beberapa bulan yang lalu, hanya beda namanya saja.

Efeknyapun tidak main-main. Daerah selatan Jogja, Gunung Kidul dan Pacitan kena banjir dan longsor hebat. Bahkan di Pacitan, banjir merendam rumah hingga 2 meter.

GILA.
banjir pacitan

Untuk yang kesekian kalinya, muter otak kemana lagi tempat yang harus kami tuju. Sudah H-3 tapi tetep saja kami belum bisa memastikan kemana kami akan pergi.

Merbabu, Andong, Ungaran. Hanya tinggal 3 destinasi itu yang bisa direkomendasikan. Menimbang, memikirkan, memutuskan dan mendapat INTIMINDASI dari Arifah yang selalu mengirimkan video @mountainesia tentang parahnya badai di Merbabu, yaudahlah kita naik gunung Andong, setelah itu main ke Jogja aja. Sayang si Ichsan sudah keluar uang banyak masa cuma ke Andong doang.

Drama ke 3
Fah, temenku ga bisa ikut. Yang satu ada UAS, yang atu udah pergi ke Pare.

Mampus. Kalau ga ada teman cewe satu lagi, bisa dipastikan Arifah ga bakal dapet izin.

Coba lihat chatlist di wasap, mencoba, mencari sapa tau ada nama yang kemungkinannya bisa diajak main. Memang karena sedang ada UAS, jadi usaha ini NIHIL.

Temenku ada yang bisa nih. Tulis Arifah di grup wa pelancong.

Alhamdulilah, Intan (temen Arifah) bisa gabung main sama kita.

Akhirnya semua aman terkendali, walaupun melenceng sangat jauh dari perencanaan, ya begitulah usaha mau piknik, mencoba menghindari menjadi duta wacana tidak mudah. Berancana-berencana akhirnya hanya menjadi berwacana saja.

Drama ke 4
Ketika rencana ke Karimun dan Sindoro, segala peralatan untuk camping disiapkan dari Semarang, namun karena perubahan destinasi akhirnya saya serahkan di Jogja. Ternyata ada misscomunication, kami kira persewaan peralatan camping di Jogja itu per malam, dan bukan per 24 jam. Perbedaannya 24 jam itu, kalau kita meminjam jam 9 pagi, mau tak mau harus kembali jam 9 pagi juga. Sedangkan kalo permalam, walaupun kita pinjam jam 9 pagi, jam 9 malam masih bisa dikembalikan, selagi malam belum terganti.

Untuk harga sih normal. Namun ternyata kita perkiraan beda.

“Gih nih aku udah di persewaan, totalnya 250 ribu” kata Arifah

“DEEEEEEMMMMNNNN, ITU MAHAL BANGET, CANCEL AJA” kata ku

“IH, GUE UDAH DI DEPAN NOTANYA NIH” balas Arifah ngegas juga

“ITU MAHAAAL BANGEEET GILAAA” balasku

Perbandingnya, di Semarang sewa menjadi 140ribu. Perbedaan yang cukup besar buat mahasiswa. Beda 100ribu itu cukup buat beli otak-otak di rumah makan padang dan dibagikan kepada manusia yang banyak ga punya OTAK di bumi ini, MENENG WAE KOE NDES.

Akhirnya, ada beberapa peralatan yang masih tetap disewa, untuk menjaga nama baik dan integritas Arifah yang baik nan bijaksana ini. Anak komunikasi yang miss komunikasi. Untung cakep lau.

bersambung. . . . .

3 Replies to “Perjalanan Paling Drama”

  1. hmmmmmm akhirnya ketemu hahha

  2. […] Baca part satunya dulu ya disini […]

  3. […] baca part satu dan dua nya dulu […]

Leave a Reply