Perjalanan Paling Drama 2

Baca part satunya dulu ya disini
30 November 2017
“Gih, aku sampe stasiun Tawang jam 10 malam“  tulis Ichsan di wasap

Malam ini hujan sudah mulai turun dari sore, mager kali rasanya buat pergi ke Stasiun Tawang. Malam, jarak dan hujan memang kombinasi yang sangat kejam. Tapi masa saya akan menelantarkan Ichsan di stasiun sendirian tanpa siapa-siapa. Memang sulit buat melawan kemalasan ini, ya mau tak mau dipaksakan saja.

Akhirnya saya memakai jas hujan – nyalakan motor – lalu cau ke stasiun Tawang. Benar saja, sampai di tawang saya telat sekitar 30 menit dan hujan masih saja tetap bertahan dengan rintiknya, dan aku dengan kamu.

Karena hujan, kita engga langsung pulang ke tembalang. Selagi menanti cuaca reda, kita berbincang-bincang banyak. fyi, Ichsan yang sekarang sedang melanjutkan studi S2 Hukum di Universitas Indonesia, dia masih berdiri teguh dengan dunia dan idealismenya, mimpi dan cita-citanya sungguh mulia, ingin meniqa tanpa perjodohan LOL  dan Saya yang adalah bukan siapa-siapa ini ternyata memiliki cita-cita yang sama besar dengan Ichsan. Syukur alhamdulilah, mimpi dan ambisi kita masih belum hancur.

Saya dan ichsanpun ternyata punya pengamatan dan concern yang sama ; Ingin Memajukan Indonesia lebih baik lagi. Walaupun tidak seratus persen sama, tapi masih ada irisan-irisan harapan untuk berdiri untuk negeri ini. Senang sekali punya teman yang masih punya idealisme yang masih tersulut dan menyala besar. Disaat banyak yang berhenti dan terpentok dengan realitas, masih ada yang memutuskan menjadi independen. Tidak menyalahkan siapa-siapa, setiap aspek hidup manusia, ada masa untuk memutuskan sesuatu yang akan mempengaruhi hidup kita selama-lamanya. Hidup emang misteri, write your storyline guys. 

Hal-hal yang kami perbincangkanpun sangat banyak dan beragam, Politik, Hukum, KPK, OTT, Korupsi, Bengkulu, HAM, Gear Outdor, Piknik, anak-anak Efast, Arifah dan Budi wkwkwkw. Memang seru untuk diperbincangkan malam itu. Obrolan ngalor ngidul, tanpa tentu arah membuat kita lupa kalau kita masih di stasiun dan ternyata hari sudah berganti.

Kamipun memutuskan untuk pulang ke Tembalang walaupun hujan belum tampak reda. Baru beberapa menit keluar dari stasiun tawang, hujan semakin tidak bersahabat, rinainya semakin lebat dan anginnyapun semakin kuat. Dan pada malam itu, ada dua laki-laki malang ada dibawahnya berharap semoga mereka cepat sampai Tembalang.

Kami sampai kost dengan selamat, jas hujan yang kami pakai ternyata tak berguna, tubuh sudah tercover sampai kost an masih aja basah kuyup. Jas hujannya yang lemah atau memang hujannya yang kuat –”

Sampai di kost Ichsan ganti baju lalu makan dulu, ternyata si Ichsan ini belum makan dari kemarin. Memang agak misteri kisah hidup dia, tahun lalu, teringat benar di puncak kenteng songo, merbabu,  dia menulis di kertas untuk pasangnnya bahwa “tahun ini halal” tapi nyatanya si Budi lebih gerak cepat, dan Ichsan sudah siap lahir batin kalo ditinggal meniqa dengan pasangannya.. wkwkwkwkwk

 1 Desember 2017

Bangun jam 6 pagi ternyata berat sekali. Maklum kita tidur lewat dari jam 1 pagi. Mata masih merah, badan masih pegel. Belum lagi harus ambil peralatan gunung di tempat mas Sugi. Dengan langkah gontai, kita mulai prepare semua nya.

Pergi ke tempat Mas Sugi ambil peralatan – Packing – Mandi – Beli Makan – Cus. Dari Jogja, Arifah dan Intan sudah otw duluan, kita janjian akan bertemu di pasar ngablak. Saya dan Ichsan dari tembalang naik Gojek X Grab pergi ke sukun (biaya 7000). Dari sukun naik bis ke Pasar Sapi, Salatiga (Biaya 15000), sampai Pasar Sapi, pakai minibus ke Ngablak, Kopeng (7000). Berkali-kali naik gunung, sepertinya ini kali kedua naik angkutan umum, dan ternyata menyenangkan.

Sampai di ngablakpun, kita harus menunggu rombongan Arifah yang ternyata mereka mlipir dulu ke salah satu rumah temannya di daerah kopeng. Cukup lama menunggu, bolak-balik, duduk-berdiri tak jelas hanya untuk menantikan Arifah datang dari sebrang sana.

Sesampainya Arifah dan Intan di Pasar Ngablak, langsung cus lagi ke basecamp gunung Andong. Ga terlalu jauh sekitar 15 menit lah akhir nya sampai di basecamp taruna jayagiri, Ngablak, Kopeng.

Ichsan sholat jumat dahulu dan saya mempacking ulang tas-tas besar yang tak ada isinya ini. Selesai Ichsan sholat jumat, kami registrasi di pos lalu memulai pendakian.

Titik-titik hujan menghantarkan kami menuju jalur pendakian bukit Andong. Namun tidak terlalu lama, hujan pun berhenti. Ah. .  sepertinya cuaca sedang bersahabat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Masih Bersemangat

Jalur pendakian gunung Andong itu udah banget, anak SD aja bisa, trek yang tak curam, tak ada titik-titik membahayakan terlebih lagi jalan yang menyesatkan. Bagus sekali untuk mereka yang hendak menikmati gunung tanpa mau menanggung kesusahannya. Kepenatan hidup dalam perkotaanpun tersegarkan kembali dengan hutan pinus, tumbuhan hijau, jalan setapak, udara dingin yang menusuk namun mendamaikan (ini yang sebenernya saya sendiri cari ketika naik gunung, makanya saya sebisa mungkin ga pernah pakai jaket gunung kalau udaranya tidak terlalu dingin)

Setelah mendaki sekitar 2,5 jam, akhirnya kita hampir sampai di puncak. Ternyata di puncak sedang kabut dan angin. Sesekali angin menghalau kabut yang menutupi keindahan yang seharusnya dapat kami lihat. Kabut datang lalu pergi, datang lagi, pergi lagi dan sepertinya akan turun hujan lagi.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Pendaki Cantik

Sesampainya di atas, langsung saja mendirikan tenda, ada dua tenda yang kami dirikan. Ukuran tendanya pun tidak terlalu besar, kami cari tempat yang tidak terlalu terbuka supaya seketika ada badai, seenggaknya kami masih terlindungi.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Diri’in tenda bre

Tenda selesai didirikan, saatnya masak dan makan sore dan malam. Beruntung Arifah dan Intan ini suka dan (kayaknya) super dalam memasak, alhasil kita para lelaki hanya menyiapkan kompor, nesting, lalu leyeh-leyeh ena.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
kaki napa kaki

Selesai makan, kami ga tau mau ngapain lagi, tidak teralu lelah namun sudah kenyang. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah tidur, dengan berharap tidak ada badai seperti yang di upload di mountainesia.

Malam datang dan semakin kelam, udara dingin semakin menusuk, cahaya yang ada hanya berasal dari senter dan tenda-tenda tetangga, dan kabut mulai datang.

22.00
WUUUZZZZZZZZ. . .  WUUUUZZZZZZZZ
Apa yang kami takutkan datang.
BADAAAAAI PUAAAAN TELAH BERLALU
SALAHKAAAH KU MENUNTUT MESRAAAAA
TIAP TAUFAN MENYERANG KAU DISAMPINGKU
Banda Neira – Sampai jadi debu

Yak yak yak, tenda mulai condong, ternyata ada badai di atas gunung. Kadang pelan, kadang kencang, tenda mulai condong, perkiraan saya dengan angin sekencang ini, pasti ada salah satu frame di tenda kami yang patah. Tapi ya udahlah, pokoknya malam ini harus tidur dengan tenang, bodo amat dengan badai.

Liat kesebelah, Ichsan masih pules tidurnya, sedangkan saya masih grasak grusuk cari tempat tidur yang nyaman. Perjalanan seharian ini ternyata belum terlalu lelah, sehingga saya tidak bisa tidur dengan lelap.

Akhirnya, tanpa sadar saya juga ikut terlelap dalam malam dengan badai di puncak bukit ini.



2 Desember 2017

Pagi pun tiba, Poto-poto dan poto-poto lalu poto-poto akhirnya poto-poto. Hidup anak pendaki zaman sekarang itu penuh dengan poto-poto. Apalagi Arifah yang ingin menjadi Duta Eiger Indonesia sekaligus Pendaki Cantik, Hijabers Petualang, Pendaki Hijabers Petualang Cantik, apalah itu, ya emang cantik sih wkwkwkw

IMG_5862

Setelah poto-poto, kita masak buat sarapan, lalu  ya poto-poto lagi LOL. Karena emang puncak andong itu ga terlalu luas, jadi area photo-photonya hanya segitu aja.

SAM_0980.JPG
Rindu kan yaaa 🙂

Setelah bosen diatas, akhirnya para manusia kurang piknik itu turun gunung. Bersyukur tidak ada hujan baik naik maupun turun. Andongpun sedang ramah dan tidak terlalu ramai.

Sekitar dua jam kita sampai basecamp lagi. Estimasi waktu yang agak lama karena di tengah hutan Arifah pingin mendirikan hammock yang dia bawa, sayang kan kalo ga dipake. Sayang juga kan kalo cintanya bertepuk sebelah tangan *eh.

IMG_5920

Sampai di basecamp, anak-anak pada sholat dhuzur, sedangkan saya tiduran di depannya wkwkwkw *engga lha*

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Muka tak terkondisikan

Selesai  beres semuanya, kita melanjutkan petualangan ke kota Jogja. Saya sendiri padahal baru minggu kemarin ke jogja, liat supershow stand up comedy Adriano Qolby, sekarang sudah di Jogja lagi LOL

Perjalanan ke Jogja berawal dari kopeng lalu menembus magelang dan akhirnya berhenti di POS POLISI :”)
DRAMA KE 5
Lampu merah magelang setelah borobudur
*prit prit prit*
Motor Arifah dihentikan oleh bapak Polisi,.
Daaaaaaaaaan
Ternyata lampu depan di motor Arifah ga nyala.
TIDAK MENYALAAAAAA
Kena tilanglah ini si Pendaki Hijaber Cantik 2017-2018. Sibuk berdiskusi dengan pak polisinya, lalu Icshan dengan idealisme s2 Hukumnya, kita tidak mau “berdamai” dengan polisi, kita mau berperang wkwkwkwkw
Sidang deng sidaaaaaaaaaaang. . bukan perang ya. Mana berani kita melawan aparat, ngeri eui. 14 desember sidang di kejaksaan Magelang, catat itu.
Selesai urusan dengan polisi kita melenggang bebas ke Jogjakarta, dengan surat (tilang) cinta untuk pak Polisi tentunya.
Jogja jogja, jogja memang istimewa.
Istimewa orangnya, istimewa jalannya. Trauma dengan tilang polisi, setiap ada lampu merah Arifah selalu ke tengah, biar pak polisi engga memperhatikan.
Di jogja, kita mau singgah sebentar untuk istirahat di kost Intan. Jalan memutar, belok sana belok sini.
Lalu. . . .
DRAMA KE ENAM.
Perjalanan menuju kost intan harus memutar, duo perempuan berhijab ala mama dedeh pengen liat sekaten, di Jogja. . dan tiba-tiba mereka berhenti. Ternyata ban motor arifah bocor.

Karena itu malem sabtu dan jogja sedang rame-ramenya acara sekaten di hari terakhir, kita usaha buat nyari tempat nambal ban. Kata bapak disekitar sana sih ada deket tempat tambal ban nya. Waktu kesana ternyata tutup, maju dikit lagi kata bapak yang berbeda ada, maju dikit lagi dan tutup lagi, menuju tempat keempat kata bapaknya yang beda lagi ada dan itu di seberang jalan sana, arifah mencoba nyebrang dan nanya ternyata buka dan

Hh SHIT, JALANNYA SATU ARAH.

Oh iya, karena ban motor nya bocor, formasi kita adalah gue bawa motor arifah yang bocor itu, intan sama arifah naik motor intan, dan ichsan . . . . .  TENTU SAJA JALAN KAKI :p

Arifah ada di tempat tambal ban di sebrang sana, sedangkan intan dan saya harus nyusuri jalan satu arah dan berharap ketemu belokan untuk muter dalam jarak yang dekat.

Iya jarak yang dekat. . . sangking dekatnya kita ga nemu-nemu jalan muternya. Setelah nemu jalan muter, baru muter sebentar ADA TEMPAT TAMBAL BAN YANG BUKA.

Yaudahlah nambal ban disini aja, daripada harus bawa motor bocor ke tempat arifah. Jadi kita terpisah menjadi tiga, saya sama intan ditempat tambal ban, arifah di tambal ban yang ono, dan ichsan tak tau tersesat dimana.

Dari kesemua peristiwa istimewa itu, ada kesamaan diantara kita : HAPE KITA SAMA-SAMA MATI. MAMPUS GA TUH.

Akhirnya, sembari nunggu ban yang ditambal, intan jemput Arifah dan Ichsan masih hilang dimana :”

Ga berapa lama, intan datang dengan membawa Arifah. Setelah meletakkan arifah, intan nyari si anak ilang ; ichsan.

IMG_5883
Me and Ichsan

Lama nunggu, si intan ga dateng juga. Ban motor juga udah selesei ditambal. Tapi kita gatau mau gimana. Mau lanjut ke kost intan, tapi takut intan sama ichsan mendatangi kami. Mau tetep nunggu tapi nanti ternyata mereka udah pulang duluan. Serba salah kan ? sama kaya perasaanku ke kamu dek ; salah terus.

Lama- si intan ga dateng, akhirnya kami jadikan itu momen untuk saling mengenal lebih dekat APAAN WOI.

Kita ngobrol topik tentang apa aja, dan tiba-tiba, tanpa diduga-duga
GIH. . . . .
ARIFAH CURHAT SODARA-SODARA kwkwkwkwk
BADAAAAI PUAAAAN TELAH BERLALUU.
Arifah cerita tentang hatinya, and i really missed that’s moment :”)


Bersambung, Selamat merindu teman-teman
 

2 Replies to “Perjalanan Paling Drama 2”

  1. sukses ngebuat aku ngakak malam2,
    dan rindu malam2 :”

  2. […] baca part satu dan dua nya dulu […]

Leave a Reply