Langkah Maju: Perjalanan Meninggalkan Masa Lalu

Satu langkah kecil untuk sebuah move on yang panjang.

Setelah hampir satu bulan berada di Solo, cukup membuat saya banyak berpikir ulang, berkontemplasi, bicara dengan diri sediri, melihat kembali ke belakang apa yang sudah terjadi, melihat lagi kenyataan yang sedang saya alami, termasuk juga dengan permasalahan hati.

Salah satunya adalah keputusan saya untuk bergerak maju dan menjauh dari bayang-bayang masa lalu, singkatnya saya pengen move on. Ini klise banget sih, orang-orang terdekat saya mungkin udah capek denger berkali-kali saya bilang  “Okay, i am done with all of this”, tapi akhirnya tetep aja berkali-kali juga saya jatuh lagi.

Sudah cukup lama orang-orang dekat saya tahu saya selalu bilang kalau saya  ingin mengakhiri perasaan saya tentang dia yang sampai sekarang masih belum berani saya sebut namanya di tempat umum.

Kayaknya udah begitu banyak rasa sakit dari kekecewaan, perasaan yang tidak diprioritaskan, berada di area abu-abu yang buat kamu melihat semua samar-samar tanpa kepastian, sounds familiar ? ehe.

Bukan karena dia (lagi) tapi karena memang harapan yang saya buat terlalu besar bahkan sebelum saya membangunnya di dunia nyata.

Jangan tanya siapa yang salah atas semua keadaan ini, dia tidak salah dan sebenarnya memang tidak ada yang salah jadi tak usah dipermasalahkan.

Pindahnya saya ke Kota Solo semakin menyadarkan kalau jarak antara saya dan dia emang sudah jauh, bukan sekedar jarak secara fisik, tapi juga jarak kedekatan personal diantara kami.

Tentang hal yang kedua tadi sepertinya itu emang sudah lama terjadi, tapi saya menyangkali kenyataan itu. Berkali-kali denial, berkali-kali tidak percaya, berkali-kali juga gue masih mengusahakan agar diantara kami bisa jadi lebih dekat, namun ya gagal.

Jadi yaudah lah ya, saya berusaha untuk melepaskan dia pergi, toh sudah ga bisa dipaksa juga.

Tapi berkali-kali berusaha ya hasilnya selalu sama.

Seperti perasaan saya selalu sama dia, jiwa saya terikat padanya nya, dan perhatian saya selalu ke arah dia, bahkan fiksi yang saya buat untuk menjalani hidup nyaris semuanya tentang dia.

Kekuatan dan harapan itu lah yang buat saya gagal berkali-kali. Maju satu langkah mundur dua langkah, maju dua langkah mundur tiga langkah, maju lima langkah dan saya ga punya kekuatan untuk melangkah lagi.

Ada yang berkali-kali mencoba move on tapi selalu gagal ? kamu ga sendirian mylov.

Nah, setidaknya beberapa waktu di Solo dan dengan kesibukan pekerjaan yang ga kaya kerja bisa buat saya memecah perhatian saya tentang dia dan semakin lama semakin terbiasa untuk melepaskan. Yaudah lah, udah gini juga kan.

Sepertinya ini saat-saat yang tepat buat saya untuk menjadi Zen dengan mengosongkan diri dan segalanya wkkwkwk.

Akhirnya, saya menyadari bahwa move on itu seperti mengambil satu langkah kecil untuk sebuah perjaanan kehidupan yang panjang.

Ya kita harus tau alasan kenapa kita harus move on itu sesadar-sadar nya, memang pemicu utamanya pasti karena perasaan tapi kalau sekedar perasaan perjalananmu akan terus muter-muter di tempat yang sama.

Kalau kamu udah punya alasan yang kuat untuk memutuskan kamu harus move on, tinggal ambil satu langkah untuk menjauh dari dia, baik secara jarak maupun harapan.

Satu langkah ini bukan sebuah pencapaian besar, tapi justru sebuah perlawanan berat menghadapi harapan yang sebenarnya sudah hancur.

Rasanya tidak akan pernah mengenakkan, dadamu sesak, harapanmu pupus, jiwamu pun masih tersandra.

Keinginan keinginan untuk kembali ke tempat kamu terluka, diabaikan dan disakiti pun akan semakin besar.

Kita tak pernah terbiasa dengan harapan yang membawa kita terbang tinggi dan kenyataan yang menjatuhkan dari tempat tinggi tersebut.

Perjalanan awal kamu untuk meninggalkan masa lalu akan dipenuhi dengan kompromi akan rasa sakit.

“Gapapa deh sakit, aku juga sayang”

“Aku masih punya harapan untuk memperjuangkan dia”

“Aku percaya ini jalan terbaik buat aku”

LAMBE MU DEK.

Comprimising ini yang akan membuat kamu terus berputar dan berputar. Itu hal yang sia-sia Jendral.

Kalo kamu berhasil terus menjauh langkah demi langkah, terus dan terus melangkah suatu saat nanti kamu akan tahu perjalananmu sudah sangat jauh dan terasa sangat sayang apabila kamu ingin kembali.

Ga ada yang bisa jamin kita butuh waktu berapa lama untuk terus melangkah menjauh hingga akhirnya harapan, jiwa dan hatimu tidak tertahan lagi.

Tapi yang jelas kamu bahwa kamu sedang melakukan hal terbaik untuk dirimu sendiri.

Banyak yang gagal berkali-kali dan akhirnya menyerah, tapi ada juga yang masih terus berusaha demi kebaikan dirinya.

Jarak yang semakin jauh mengindikasikan kemungkinan besar kamu bisa move on.

Untuk saya, saat ini saya sudah berjalan cukup jauh dari dirinya, meninggalkan semua harapan yang besar begitu saja disana.

Markus, seorang teman, awal dia harus menerima kenyataan bahwa hubungan dia dengan kekasihnya telah usai nyaris tak punya harapan untuk hidup lagi.

Masih ingat jelas dia bersandar di dipan kasur sambil duduk di lantai berkata.

“Masa depan yang kita rencanakan udah terlalu jauh kak, tapi semua berakhir disini”

Butuh waktu berbulan-bulan dia mengembalikan konsentrasinya pada prioritas dan perhatian hidupnya, sidang skripsi.

Berkali-kali dia jauh, lemah tak berdaya, berharap dan berdoa agar ada kekuatan yang menuntunnya keluar dari kesesakkan ini.

Sudah hampir setahun dan dia kini bisa tersenyum kembali, sayap-sayap semangat yang patah sudah bisa dibentangkan kembali, kekuatannya yang hilang sudah pulih kembali, dan dalam waktu dekat dia akan sidang, sebuah kabar yang baik.

Kita tidak tahu kemana keputusan hidup membawa semesta menuntun hidupnya.

Kalau dia kembali lagi dan mengambil langkah mundur, bego sih wkwkkwkw

Mungkin sepenggal lirik dari Barasuara tepat untuk mengakhiri tulisan ini untuk kalian yang sedang berusaha untuk melangkah maju meninggalkan luka di masa lalu.

Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari
Saranku kau berhenti menyiksa diri
Waktu yang akan mengobatimu
Yang kau perlu kau mendewasakan itu

– Barasuara

 

Leave a Reply