Part 3 :  Keep walking until you can’t do.

Lakukanlah perjalanan, maka kau akan tahu betapa Tuhan sayang banget sama kamu.

Sepertinya jam 7 pagi belum sanggup membuat raga ini bangkit, rasanya sisa lelah kemarin masih belum selesei semua. Terdengar suara hujan sedang turun dengan deras diluar sana, rasa  ingin tidur sudah tidak ada lagi, akhirnya sarapan, mandi, dan mulai bersiap lagi.

Jam setengah 8 tepat akhirnya meninggalkan penginapan, menyusuri jalan yang sama menuju MRT, destinasi pertama adalah Sentosa Island, salah satu pulau reklamasi di Singapura. Sebenarnya ada banyak tempat destinasi di Sentosa Island, tapi saya memilih hanya mengunjungi Siloso Beach dan Universal Studio.

Di tengah perjalanan ke MRT Lavender, ternyata saya menemukan Fair Price, Fair Price itu semacam minimarket tapi dengan harga yang jauh lebih murah dari harga toko-toko biasanya, saya beli air mineral ukuran jumbo ternyata hanya 70 cent saja (berbanding dengan air mineral di Marina Bay ukuran sedang berharga S$4), it recommend for all traveller dengan budget miring.

IMG_20170405_091339_HDR

Dari MRT Lavender menuju Harbour Front MRT perlu beberapa kali ganti jalur, Pertama dari Lavender turun di Bugis, lalu pindah kereja menuju Dhoby Ghaut, di Dhoby Ghaut pindah lagi menuju Harbour Front MRT, setelah sampai di Harbour Front (Vivo City) kita harus berpindah naik LRT. Saya coba gunakan STP untuk masuk, ternyata sistemnya menolak, akhirnya saya harus beli tiket lagi seharga S$4.

IMG_20170404_102133_HDR

Ada 3 tempat pemberhentian LRT Sentosa, saya memilih untuk turun di stasiun paling terlebih dahulu, karena disana ada Siloso beach. Turun dari LRT lalu asal aja melangkah, enaknya di Singapura semua petunjuk jalan jelas, lalu setiap beberapa ratus meter selaluada peta ‘‘you are here’’ .

Pagi hari kedua di Singapura saya ada di PANTAI, menikmati pagi dipantai yang masih belum tercemar dengan para bule yang hanya pake bikini dan sempak saja, benar-benar hanya ada beberapa penjaga pantai yang sedang sibuk dengan urusannya.

Tujuan ke Siloso Beach sebenarnya mau photo di landmark nya Siloso Beach, karena tempatnya sangat instagramable, belum melihat tanda-tanda keberadaannya sang landmark akhirnya saya putuskan untuk susuri pantai ini.

Pagi-pagi ternyata baju sudah mulai basah lagi karena keringat, padahal baru destinasi yang pertama. Belum lagi itu SI Landmark belum ketemu juga. Rasanya ingin balik ke LRT langsung ke Universal Studio, tapi suara hati ini berkata “coba maju beberapa langkah lagi”, “Ayo maju sedikit lagi”, “Udah jauh ke Singapura loh”.

Daaaaaaaaaaaaaaaannnnn. . . . NEMU JUGA ITU LANDMARK.

IMG_8467

Puas photo-photo dengan tulisan Siloso Beach, akhirnya kembali ke LRT menuju ke Universal Studio. Jarak yang sama yang buat baju basah keringat harus di tempuh lagi, SIAPA TAKUT

Naik LRT lagi, turun di LRT Universal Studio, ga perlu banyak tingkah langsung turun dimana ikon yang sudah menghipnotis manusia dari seluruh penjuru dunia. Akhirnya sampai juga di Universal Studio yang katanya terkenal itu.

IMG_20170404_095543

Terdiam dan bergumam, “Oh gini, bentuk Bola Dunia Universal yang berputar itu” sambil menatapnya, melihat ada efek asap/embun keluar dari bawahnya.

Habis photo-photo di Universal Studio, akhirnya balik ke Vivo City untuk lanjut ke destinasi berikutnya, Henderson Wave Bridge. Sampai di Vivo City alih-alih langsung ke Halte Bus, malah mlpir ke ruang main anak yang ada di lantai atas. Tempatnya lucu dan asyik bet, bisa untuk main air juga, tapi karena mikir ini perjalanan masih panjang dan jauh banget, akhirnya main air diurungkan. Puas photo-photo di taman bermain Vivo City, akhirnya pergi ke Henderson Wave Bridge.

IMG_8494

Ke Henderson Wave Bridge ga bisa dijangkau dengan MRT, kenapa ? karena tempatnya ada di tengah hutan, yap tengah hutan. Inilah pentingnya mencari informasi yang lengkap sebelum pergi. Bus no 124 turun di halte Henderson, dari halte udah keliatan jelas tangga naik keatasnya, cukup tinggi dan curam. Akhirnya anak tangga demi anak tangga selesei di naiki.Masih harus jalan mendaki beberapa ratus meter lagi untuk sampai di Henderson Wave Bridge.

Dan Sampai di Henderson Wave Bidge, Jembatan ini di design mirip dengan ular Cobra.

IMG_20170404_111507

Sampai ambil tripod lagi, photo-photo lagi, sambil menkmati view dari jembatan jangan sampai di lewatkan, hutan di tengah kota itu asyik. Disini juga banyak orang-orang yang jogging track, kaya semacam lintas alam.

Menyebrang ke sisi satu jembatan, lalu turun jauh banget hingga sampe parkiran mobil.

Dan baru sadar satu hal, Halte Bis cuma ada di sisi sebelumnya tadi, jadi mau gamau harus naik keatas lagi, nyebrang jembatan lagi, nurunin anak tangga banyak lagi. Capek ? JELAS.

Dari Henderson wave bridge, balik lagi ke Harbour Front MRT.  Tujuan berikutnya adalah Punggul waterpark. Punggol dan Harbourfront berada dalam satu jalur MRT, dan sama-sama berada di sisi ujung. Kalau ujung satu adalah harbourfront, maka Punggol adalah sisi lainnya.

Cukup lama di MRT, lumayan untuk mengistirahatkan kaki.

Sampai di Punggol, harus naik LRT lagi menuju DAMAI, iya namanya Damai.

Turun di Damai, letak Punggol Waterpark tak jauh dari sana. Yang jadi masalah adalah taman ni luaaaaaassssss bangeeeettt dan karena saya datang tepat ada di atas kepala saya.

IMG_8543

Nyaris 3 jam muterin itu taman.

Sehabis dari Punggol Waterpark alik ke MRT lagi, saatnya ke Orchard Road. Siapa saja yang pergi ke Singapura pasti tidak pernah lupa buat ke Orcard Road, apalagi para ibu-ibu jiwa shopping. Orchard Road adalah pusat perbelanjaan kaum elite.

IMG_20170404_153320_HDR

Di Orchard Road identik dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi, bersih, dan terjaga. Jalur pejalan kaki juga sangat luas.

Ga perlu lama di Orcard Road, masuk MRT lagi, dan berpindah tepat lagi. Tujuan berikutnya adalah Bugis, di Bugis ada Haji Lane, Arab Street. Kawasan bugis ini emang cocok buat para backpacker harga-harga yang di pasang di tempat ini lumayan agak miring, walau ga semiring Fair Price sih.

IMG_8549

Untuk memanjakan mata dan photo-photo, Bugis recommended. Apalagi waktu sampe Bugis sore hari, jadi ga terlalu panas-panas amat.

Tapi kaki sudah ga kuat lagi.

Jam setengah 5 sore, diputuskan kembali ke penginapan untuk mengistirahatkan kaki sejenak.

Jam 6 sore masih terlalu siang untuk tetap di penginapan, akhirnya putar otak kemana lagi tempat yang harus di kunjungi.

Akhirnya di putuskan untuk pergi ke Mustafa Center, apa itu Mustafa Center ? itu adalah tempat perbelanjaan oleh-oleh terbesar di India. Semacam Krisna kalo di Bali. Dengan budget seadanya akhirnya beli beberapa oleh-oleh.

Mustafa center ini berada di daerah Little India, nuansa India kental sekali di daerah ini, dari bunga-bunga yang sering mereka gunakan untu upacara, sampai bau dupa yang menyengat.

Jujur, saya tidak terlalu suka dengan bau seperti ini, sedikit agak menakutkan.

Selesei urusan beli oleh-oleh, akhirnya ke Marina Bay lagi, masih jatuh cinta dengan suasana malam Marina Bay yang sweet banget.

Dari little india, naik MRT lagi dan turun di Bayfront MRT. Sampai sana sialnya saya kehausan, mau tak mau harus beli air minum seharga 4 dollar.

Puas dengan Marina Bay, akhirnya mlipir sedikit ke sebelah, di sungai antara Merlion dan Raffess. Tiduran di pinggir sungai macem itu sungai milik sendiri. Peduli amat dengan orang liat, eh ga beberapa lama, ada yang ikut tidur-tiduran juga.

IMG_8466.JPG

Udah puas di Singapore River, akhirnya pulang ke Lavender lagi. Sesampainya di Lavender, ga langsung pulang. Mala mini malam terakhir di Singapore, besok ke Changi dan pulang ke Indonesia.

Akhirnya,singgah sebentar di taman Lavender tempat nyasar kemarin. Cukup sunyi, tenang, tentram dan damai.

Entah mengapa perjalanan hari kedua ini, ga terlalu banyak photo-photonya, terlalu asyik menyimpan kenangan perjalanan dalam pikiran ini. Bukan untuk kebutuhan eksis di sosial media, tapi lebih untuk menyegarkan jiwa yang butuh piknik.

Beberapa jam menikmati malam di Taman Laveder, akhirnya.

Pulang

One Reply to “Part 3 :  Keep walking until you can’t do.”

  1. Aaaah, love reading this tad but fun adventure. You should make a big bundle of photo album to reminisce this journey!

Leave a Reply