PAGAR // Hed:ge

“Bro, gue ke rumah lo ya, rumah lo yang mana ?”
“Lo ntar lurus aja, pertigaan belok kiri, rumah gue yang PAGERNYA IJO”

1
Enter a caption

Gatau kesambet apaan nulis beginian –”

We know, hampir setiap rumah ada pagernya. Bukan cuma rumah, tapi juga kadang kebon, lapangan, stadion, kandang kebo pasti ada pagernya.

Sebenernya pager buat apa sih ? kita tahu, buat pager itu bukan karena iseng-iseng aja, daripada gue baper ga jelas mending gue magerin kandang domba. ga gitu juga kan.

Fungsi utama dari pagar itu sediri adalah sebagai PEMBATAS, pembatas antara rumah dan lingkungan di luar rumah. Pemilik rumah punya kuasa penuh ketika berada dalam area pagar, namun belum tentu ketika dia ada di luar pagar.

Fungsi lainnya dari pagar adalah sebagai PELINDUNG. Pagar membuat pencuri lebih kesulitan untuk menjangkau rumah, kecuali kalo yang di curi itu bukan barang-barang rumah, tapi hati kamu (apaan sih). Pagar menjadi perlindungan terluar untuk rumah, belum lagi kalau di jaga sama cowo mu yang suka menggonggong itu.

Apalagi kalo pagernya tinggi dan ujungnya tajem terus dikasih tawon, mesti mikir berkali-kali buat nerobos rumah itu.

Selain sebagai pembatas dan pelindung, pager juga bisa sebagai PENGHIAS dan sebagai ciri dari rumah. Banyak rumah yang pagarnya cantik-cantik pake kebaya, duh manisnya (pager ayu).

Ga jarang juga kalo ada teman yang menanyakan ciri-ciri rumah kita, kita sering mengatakan clue jenis pagar rumah kita. Warna, bentuk, jenis pagarnya.

“Rumah gue, yang pager besi warna putih”

“lo lurus aja, nanti ada pager warna putih, nah itu tumah gue”.

Yang menjadi permasalahannya adalah. seberapa kuat dan kokoh, ?

Apakah rumah pagar itu benar-benar melindungi ? atau hanya sebagai pembatas dan penghias saja ?

Unsur estetika memang diperlukan, namun fungsi utama dari pagar itu harus terpenuhi dahulu.

Pagar itu sebagai PEMBATAS, PELINDUNG kita, sedangkan fungsi PENGHIAS dan TANDA adalah fungsi tambahan.

DAN, SEBENARNYA HIDUP KITA JUGA MEMERLUKAN PAGAR

Pagar itu seperti bagaimana memberi batasan kepada “orang luar” dan merupakan suatu rangkaian seleksi untuk mengizinkan siapa aja yang kita perbolehkan untuk masuk kedalam “rumah”.

Saya terlalu sering kelewat percaya sama orang-orang disekitar saya, hingga akhirnya saya sadar saya salah meletakkan kepercayaan saya. Trauma yang saya alami, membuat saya menjadi orang yang ‘lebih’ tertutup dengan orang lain.

Sudah seberapa sering kita hancur karena orang-orang terdekat kita ?
Kadang kita tidak menuntut apa-apa, tapi ya gitu deh. . . . .

Seberapa sering kita ‘kaget’ karena sesuatu yang tidak pikirkan sebelumnya tentang orang terdekat kita ?

Seberapa sering juga kita melihat dan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan karena kita tidak bisa membuat ‘jarak’ dengan orang yang seharusnya berada ‘diluar’ ?

Seenggaknya pagar bisa membuat kita terlindungi. Batasan yang kita buat mengurangi resiko buruk yang seharusnya tidak perlu kita hadapi.

Tidak semua orang bisa menjadi orang-orang yang kita percayai, kita butuh HED:GE

Kita memang harus berteman baik dengan semua orang, tapi untuk menjadi orang yang kita percayai, hmmmmm wait.

Tetap jadi mengagumkan

Rgrd

Gigih Prayitno

Leave a Reply