OneDayTrip ; Jogjakarta

Sudah berkali-kali pergi ke Jogja,
dan baru kali ini Jogja begitu istimewa. . .

Gara-gara baca blognya Azizah, pengalaman dadakan dia pergi ke Jogja berasa flashback lagi cerita pejalan saya dengan Adit, Satu hari di Jogja dengan banyak destinasi dan budget tipis tentunya.

Mencoba mengingat-ingat lagi, sembari menuliskan salah satu perjalanan yang paling berkesan. Sebenarnya ini bukan kali pertama atau kedua pergi ke Jogja, sudah sering banget pergi ke kota gudeg itu, first and second impression waktu itu, Jogja biasa aja, saya masih jatuh cinta dengan Semarang.

Akhirnya perjalanan ini mengubah saya, saya masih jatuh cinta dengan Semarang dan Jogja menjadi tempat yang mengagumkan, kadang emang kagum tak harus berpindah hati.

Perjalanan One Day Trip ini adalah salah satu kegiatan dari MISI21, sebuah ide iseng-isengan untuk melakukan hal yang baru dalam 21 hari. Beberapa kota yang menjadi destinasi, seperti Jepara, Jogja, Solo, Wonosobo dan Semarang sendiri tentunya.

Jogja menjadi destinasi yang pertama tentunya.

Berbincang dengan Adit, akhirnya kita sepakat untuk menyusuri tempat-tempat yang belum pernah kita jejaki sebelumnya. Destinasi sudah ditentukan, niat sudah membara, persiapan aman.

Saatnya pergi ke . . . . Magelang 🙂

Kita menginap di rumah Adit dulu, karena jarak Semarang – Jogja mayan bikin pantat tepos. Sore berangkat ke Magelang dan bermalam disana, keesokan pagi baru ke Jogja.


Jam 5 pagi kami mandi dan bersiap. . tak lama setelah itu kita berangkat. . .

Tujuan pertama adalah Candi Ratu Boko, pengenya sih ngejar sunrise di Ratu Boko, tapi apa daya kecepatan motor berbanding terbalik dengan berat badan Adit.

Tak apalah yang penting kita berjalan dan bercerita

Sesampainya di candi Ratu Boko. .

ettts, ada apa ini rame-rame ?
Ada Polisi juga yang berjaga.

Ternyata hari itu ada arakan dari orang-orang Hindu, mengambil air suci dari Ratu Boko kemudian dibawa ke Prambanan. Kalau tidak salah dalam rangkaian hari raya nyepi.

double ultra keberuntungan nih namanya. . .

IMG_20160308_064702

Ke Ratu Boko, dapet bonus apik.

Akhirnya kita masuk kedalam area Candi Ratu Boko. . .

ternyata itu luaaaaasssssss bangeeeeettt.

IMG_20160308_072457
Masih area pintu masuk

and welcome to Ratu Boko temple

IMG_20160308_074042
Me and Adit

Bukan cuma luas, tapi di sini juga banyak spot yang instagramable. Dari banyak candi yang pernah saya kunjungi, Ratu Boko adalah yang paling indah menurut saya.

IMG_20160308_083550_HDR
Sendiri itu tak selalu berarti menyedihkan, ya gak dit.

Puas dan lelah menyusuri kawasan candi Ratu Boko, akhirnya kita cari sarapan di sekita sana, lupa kita belum pada sarapan karena sangking bergembiranya kita. .

Akhirnya kita nemu warung soto klaten.

“Buk, sotonya berapa buk ?” tanya kami

“Mangkok kecil 3000, mangkok besar 4000 mas” jawab sang ibu

Murah banget. . . ah Tuhan emang selalu bersama para petualang


Puas dengan soto pagi ini, kami bersiap lagi, tujuan selanjutnya adalah Hutan Pinus Imogiri. Sedikit agak jauh karena tempat antara ratu boko dan Imogiri itu berlawanan arah kalo dari Jogja.

Adit sebenarnya merekomendasikan kebun buah mangunan, yang letaknya ga jauh dari hutan pinus, tapi rasanya kebun buah belum memikat hati saya. .

Akhirnya kita hanya pergi ke Hutan Pinus Imogiri.

Jalanan menanjak dan berkelok harus kami tempuh, beat Adit ternyata tangguh juga menopang dan membawa Adit selama ini. .

Dan sampailah kita di Hutan Pinus Imogiri

IMG_20160308_111144_HDR
Kaya hati kamu ya dek, banyak kursi kosong

IMG_20160308_110615
Dit, kapan kita main lagi ?

Kawasan Hutan Pinus ini juga banyak spot-spot menarik, orang jogja eman ga diragukan lagi kreativitasnya.

Yang kusuka dari tempat ini itu udaranya sejuk, bersih, nyaman, ga panas, walaupun sudah siang rasanya adem, dan kita sempet terlelap cukup lama disini. . . sampai Adzan Zuhur membangunkan kita.


Jam 12 siang, perjalanan kita harus berlanjut lagi, kali ini menuju Gumuk Pasir Parangkusumo. Seperti padang gurunnya Jogja. Lautan pasir ini terletak di daerah Pantai Parangtritis deretan pantai parangkusowo dan cemoro sewu.

Fyi, fenomena gumuk pasir ini ada dua di dunia, salah satunya ya di Jogja. .  keren kan ? pasir-pasir ini ternyata pasir dari gunung Merapi, dan alam membawanya sampai parangtritis.

Ditengah perjalanan, tiba-tiba hujan deres banget. . untung kita sudah siap jas hujan ‘egois’. Justru yang kita takutkan gimana di gumuk pasirnya, masa ujan-ujanan main pasir.

ternyata ketika sampai sana, kawasan parangtritis terang benderang, begitu juga dengan Gumuk Pasir. .

Tarararaaaaa

IMG_20160308_130452
Gumuk Pasir, Indonesia Punya 🙂

IMG_20160308_131336_HDR
No caption needed

IMG_20160308_132158_HDR

Karena ini gurun pasir, dan kita datang waktu tengah hari, harus rela panas-panasan dan sesiap untuk gosong.


habis dari Gumuk Pasir, kita berlanjut lagi menuju pantai Cemoro Sewu, letaknya ga terlalu jauh, mungkin hanya 5-10 menit aja.

Akhirnya pantai lagi.

IMG_20160308_142347
Ga peduli muka kucel, yang penting pantai lagiiiii

IMG_20160308_145036_HDR

Tulisan selanjutnya ; PAMIT

Tanpa kami sadari, saya dan Adit terus melangkah dan terus melangkah menyusuri pantai ini. deburan buih ombak mendinginkan kaki kami.

“Yok, kita jalan sampai Parangtritis” ucapku tanpa berpikir

Jarak dari pantai cemoro sewu ke parangtritis cukup membuat lutut tersiksa, kurang lebih satu jam kita berjalan.

Dan akhirnya kita sampai di landmark parangtritis

IMG_20160308_153247_HDR
Satu kali berjalan, tiga pantai terlewati, kaki lempoh

Setelah berjalan lumayan lama dan kami sampai di Parangtritis, kami baru ingat bahwa motor kami terpakir di pantai cemoro sewu, mau ga mau harus jalan balik lagi dan jarak yang sama lagi.


Setelah bercapek-capek ria berjalan di pinggir pantai, kami harus meninggalkan tempat ini. haripun sudah semakin sore, tujuan selanjutnya adalah Malioboro dan Titik Nol Kilometer.

Di awal-awal perjalanan menuju pusat kota, tiba-tiba langit menjadi gelap, awan hitam berkumpul menjadi satu, tak lama setelah itu hujan sederas-derasnya.

“Jadi piye ? meh lanjut ke Malioboro opo langsung mulih ?” tanya Adit.

“enak e pie ? mulih wae yo rapopo dit” jawabku

Hujan, capek, lelah, tenaga yang tersisa pun tak banyak lagi, pulang aja sih gapapa. Akhirnya Adit memberikan solusi alternatif.

“Kita pulang, tapi lewat kota, nanti pas di Malioboro baru diputuskeun mau berhenti apa ndak” emang bijak sekali si Adit ini bah.

yaudah, kita pulang tapi lewat malioboro.

Dan hujan turun semakin deras saja, di Adit fokus mengemudikan motornya, sedangkan saya termenung dibawah derasnya hujan, flashback tentang perjalanan seharian ini.

Ya Tuhan, INDONESIA INI INDAH BANGET” Gumamku.

Tiba-tiba saja, lagu Indonesia Pusaka keluar begitu saja bermain di pikiran saya.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Rasanya udah pengen nangis aja, selama ini elo di tempatkan Tuhan di negeri yang luar biasa eloknya. Ini baru Jogja udah dibuat melongo aja, saya tau masih banyak tempat indah di ujung-ujung sana.


Perjalanan udah semakin mendekati pusat kota, dan kita hampir sampai di Malioboro.

“Gimana ?? lanjut pulang apa singgah dulu ?” Tanya Adit.

yaudah kita pulang aja lah, udah capek ini, ujan pulak” jawabku


Sesampainya di Malioboro

“DIT, KEPARKIRAN” teriakku tiba-tiba

Reflek yang apik dilakukan oleh Adit, akhirnya kita memutuskan untuk singgah di Malioboro.

Hujan-hujan di Malioboro, hanya untuk poto di plang jalan Malioboro aja.

Orang gila mana yang ujan-ujan hanya untuk poto di papan jalan Malioboro, tapi lihatlah ekspresi bahagia kami. Akhirnya kami menyusuri jalanan Malioboro dengan mengenakan jas hujan, emang luar biasa antimainstream. Kita hanya bisa menertawai kelakuan absurd kami.

Berjalan dan terus berjalan, hingga sampai di titik nol kilometer Jogja.

IMG_20160308_180228
Malam itu, di titik nol kilometer Jogja. and we still wear raincoat :”)

Puas dengan hari ini, akhirnya kita pulang kembali ke Magelang, dan esok saya harus ke Semarang.

Candi Ratu Boko – Hutan Pinus Imogiri – Gumuk Pasir Parangkusumo – Cemoro sewu – Parangkusumo – Parangtritis – Malioboro – Nol Kilometer.

Delapan destinasi dalam satu hari. ternyata hidupku (masih) asyik.
Perjalanan ini meyakinkan saya, Jogja memang ISTIMEWA

Leave a Reply