Meredakan Kebencian

Ketika perbedaan dijadikan sebagai musuh.

Ada yang menyedihkan dalam aksi 313 yang dilakukan oleh FUI pada 31 Maret 2017 yang lalu, dari berbagai macam jenis berita yang terjadi, bagi saya pribadi, penempelan stiker “PRIBUMI” pada kendaraan menyakiti rasa kemanusiaan yang ada. Tujuan tersirat dari kegiatan penempelan stiker ini adalah ajakan untuk menolak pasangan calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang notabenenya adalah seorang keturunan China. Bagaimana tidak menyakiti, identitas berbeda pada diri seseorang yang sudah tertempel sudah lahir dianggap sebagai ancaman kehidupan dan dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan.

Kita tidak bisa memilih mau lahir sebagai keturunan apa, dari keluarga mana, punya bentuk wajah seperti apa, berjenis kelamin apa, semuanya terbentuk dari sebuah proses yang sampai saat ini akan tetap menjadi misteri Ilahi. Jadi ketika menggunakan identitas alami untuk mengejek dan menjatuhkan orang tertentu, sebenarnya kita sedang memperlakukan Tuhan sebagai pencipta yang tidak pantas. Tuhan yang menciptakan kita adalah Tuhan yang sama yang menciptakan orang China, Negro, dan semua bangsa.

Hate speech atau ujaran kebencian yang terjadi di social media semakin menjadi jadi. Ujaran ajakan, cacian, kebencian sangat mudah kita temukan di twitter, facebook, youtube dan media sosial lainnya. Orang Indonesia kebanyakan masih belum bisa menggunakan sosial media mereka dengan bijak.

Yang sangat disayangkan ketika ada orang yang berbeda dengan kita.

Berbeda agama dianggap musuh, agama sama tapi beda aliran dianggap sesat, berbeda ras dijauhi, berbeda pandangan politik dicatut sebagai ancaman, berbeda perspektive dianggap lawan. Perbedaan bukan dinilai sebagai keberagaman yang indah malah dijadikan alasan untuk tidak menjadi orang baik.

Semenjak pilkada DKI berlangsung, ada dua kubu yang selalu bertentangan, yaitu kubu Ahok dan kubu Rizieq Shihab. Banyak pihak yang membenci Ahok habis-habisan, begitu pula sebaliknya yang nyinyirin Imam Besar Front Pembela Islam juga bisa dikatakan tidak sedikit. Banyak juga yang awalnya hanya sebatas ketidaksukaan pada seorang sosok saja baik Ahok maupun Rizieq, berubah menjadi kebencian yang tidak bisa padamkan.

Pertanyaannya adalah mengapa kita harus membenci ? yang lebih bodoh kenapa harus membenci orang yang tidak kenal dengan kita ? lo benci sama orang yang sama sekali ga pernah mikirin lo. HELL~O.

Membenci itu sama saja anda mengizinkan orang tersebut memberikan pengaruh pada hidup anda.
Membenci itu sama dengan anda membuatkan tempat pada pikiran anda untuk orang yang anda tidak suka.

Mengizinkan dia mempengaruhi hidup anda sama aja anda mengizinkan kebahagiaan dan syukur akan hidup lenyap bagai uap air.

Jadi apa untungnya membenci ? SAMA SEKALI TIDAK ADA.

Saya punya ketidaksukaan dengan beberapa orang, lantas apakah harus membencinya ?  Saya lebih baik membuat batas daripada mengizinkan dia mempengaruhi hidup saya. Kalau saya tidak bisa mengambil bagian yang positif untuk meningkatkan kualitas hidup saya, buat apa saya bersusah payah dan memberikan ruang kepada dia ?

Tapi tidak sedikit hal tersebut terjadi sekarang ini.

Banyak yang membenci baik Ahok , Rizieq Shihab  dan mantan lalu mengizinkan orang yang mereka benci mempengaruhi dan mengambil bagian kebahagiaan hidup.

Membenci itu sama seperti meminum racun dan berharap orang lain yang meninggal karena racun yang anda minum. Itu bodoh.

Kenapa kita tidak mendoakan (bukan mengutuk) orang tersebut, bukankah jauh lebih indah apabila semuanya bisa melangkah dalam level kehidupan yang lebih baik, tanpa dia ketahui, Sang Allah adalah yang Maha membolak-balikan hati manusia, hanya Dia yang mampu mengubah hati orang lain, dan whoknows anda diam-diam turut andil dalam kehidupan orang yang sebelumnya pernah anda benci.

Menjadi Pereda Kebencian bukanlah hal yang buruk, justru anda akan menjadi lebih expert mengendalikan hati anda dan lebih menguntungkan kita sendiri juga. Bukan hanya mempertahankan rasa syukur dalam diri kita, tapi bisa menjadi Penebar Kebahagiaan untuk orang lain.

Ga ada salahnya kan untuk mencoba ?

Leave a Reply