Mencintai Rupiah, Mencintai Indonesia

Gih. . . bulan depan kamu ke Singapura ya

Tawaran dari mba Evi itu tanpa pikir panjang langsung saja saya sanggupi, siapa juga yang tak mau pergi ke luar negeri hanya untuk jalan-jalan saja, belum lagi  akomodasi dan transportasi sudah ditanggung. Saya benar-benar mendapatkan keberuntungan double extra. Kebetulan juga, ini adalah pengalaman pertama buat saya untuk pergi ke luar negeri. Akhirnya, petualang yang biasanya pergi ke pantai, gunung atau tempat-tempat yang sepi dan tenang, kini dia mendapat kesempatan untuk pergi ke negara metropolitan yang sangat maju. Sebuah perjalanan dan pengalaman yang sangat berbeda.

H-3 sebelum berangkat, saya diberi beberapa lembar dollar Singapura, jumlahnya sangat  cukup untuk survive selama disana nanti. Saya yang sedikit agak katro, ada perasaan terpukau ketika memegang dan melihat sendiri uang dollar itu. Keadaan fisik mata uang Singapura itu sangat bersih, ga lusuh, ga ada coretan kumis atau kacamata pada gambarnya, ga terlihat tulisan nomor handphone pada sela-sela kosong kertasnya, dan juga tak ada lubang bekas steples di bagian pinggir uangnya.  Bila dibandingkan dengan rupiah, kondisinya benar-benar  sangat berbeda .

IMG_0588.JPG
Jadi, apa yang menyebabkan masyarakat Singapura dan Indonesia berbeda sikap dalam memperlakukan mata uang mereka ?

Beda sikap dalam memperlakukan rupiah disebabkan oleh budaya dan kebiasaan dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Sebagian besar dari rakyat Indonesia adalah kelas menengah kebawah. Kelas ini mempunyai karakteristik yang tidak begitu memperhatikan estetika. Budaya mengabaikan estetika pada rupiah tersebut sudah terbentuk dan mengakar kuat selama puluhan tahun bahkan lebih. Pandangan terdahulu menyiratkan bahwa yang terpenting dari mata uang adalah tentang keaslian uang dan nilai yang tertera pada uang tersebut. Selagi masih bisa digunakan sebagai alat pembayaran uang rupiah bagaimanapun kondisinya masih berlaku.

Ga peduli itu lusuh, robek kecil, ada coretan, bahkan bekas disteples, uang tetap uang

Pandangan seperti ini seharusnya kita ubah, rupiah bukan hanya sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi juga sebagai salah satu nilai yang tertanam dari bangsa Indonesia itu sendiri. Dengan memperlakukan uang rupiah dengan baik, kita belajar untuk menghormati dan menghargai tentang nilai dari suatu entitas kebangsaan.  Rupiah adalah simbol negara yang merupakan bagian identitas dari Indonesia dan masyarakat di dalamnya.

Akhir dari 2016 yang lalu, pemerintah mengeluarkan beberapa mata uang baru. Mata uang terbaru ini dilengkapi dengan security system yang canggih, sehingga sangat sulit untuk dipalsukan. Ada banyak fitur pengamanan rupiah yang sangat keren, mulai dari colour shifting, rainbow feature, latent image, ultra violet feature, tactile effect dan rectoverso tentunya. I must to admit that our money is very cool.

Belum lagi, gambar pahlawan yang dipilih sebagai simbol mata uang  berasal dari berbagai daerah yang mewakili Indonesia, ada Cut Mutia dari Aceh, hingga Frans Kaisiepo dari Papua. Bukan hanya itu, para pahlawan  yang tertera pada rupiah adalah orang-orang yang berjuang dari berbagai bidang yang berbeda-beda seperti Dr. K. H Idham Chalid, dia adalah Guru besar Nahdatul Ulama yang konsen pada bidang keagamaan dan juga ada Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, pahlawan yang berjuang dalam pengukuhan kedaulatan Indonesia.

Dari berbagai macam daerah dan berbagai macam bidang, mereka memperjuangkan satu tujuan dalam satu naungan, Indonesia.

Pemerintah sedang berusaha menghidupkan lagi nilai dan rasa yang mulai sirna dari rupiah. Rupiah bukan lagi hanya sekedar menjadi alat pembayaran namun jua sebagai pengingat historis tentang keberagaman Indonesia. keindahan Indonesia itu berada pada sejarah perjuangan menegakkan bangsa ini yang terdiri dari berbagai macam golongan dan bidang.

Lalu, bagaimana kita memperlakukan mata uang kita ?

Karena kita sudah memahami tentang besarnya nilai yang tak terlihat dari rupiah, seharusnya kita tahu bagaimana memperlakukan rupiah. Manusia berpandangan bahwa tingkat kepentingan nilai dari suatu barang akan mempengaruhi bagaimana mereka memperlakukan barang tersebut.

Mudah saja. . . .

Jaga agar mata uang kita rupiah kita jangan sampai terlipat, jangan dicoret, diberi gambar jenggot, bahkan kaca mata. Jangan menulis apapun dalam lembar uang kita, jangan disteples, jangan diremas, dan jangan dibasahi. Karena itu semua bisa merusak dari bentuk uang itu sendiri. Alih-alih ingin berkreasi, malah terkena masalah hukum.

Setiap orang yang dengan sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah Rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah sebagai simbol negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
 – (UU No. 7 tahun 2011 pasal 35)

 Menghargai Indonesia, berarti menghargai rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Menghormati Indonesia, berarti memperlakukan rupiah dengan sepantasnya. Berawal dari hal-hal kecil itulah kita mencoba untuk terus mengingat dan mencintai Indonesia, ruang dimana tunas-tunas kehidupan manusia bertumbuh, ruang dimana ada keindahan dalam keberagaman.
Mencintai Rupiah, Mencintai Indonesia.

Leave a Reply