MARLINA ; Pembunuh dalam empak babak (review dan comment)

Kritik pada isu perempuan, birokrasi, kemiskinan dan ketidakadilan gender
Marlina-Si-Pembunuh-Dalam-Empat-Babak-pf-1a

Dunia perfiliman Indonesia sedang menunjukkan taringnya, bukan sekedar dari sisi euforia penonton yang selalu membanjiri bioskop, tapi juga kualitas film Indonesia itu sendiri yang sedang menghancurkan stigma bahwa film Indonesia terlalu lebay, “full of drama”, terlalu menonjolkan kombinasi paha-dada, cinematografi yang asal-asalan. Film yang berbobot, value yang terdeliver dengan baik, cinematografi yang apik, membuat industri perfiman Indonesia tidak kalah dengan film luar lainnya. Sebut saja Cek Toko Sebelah, Turah, Ziarah, Banda, Pengabdi Setan, Posesif dan Marlina (tentu saja masih banyak film Indonesia bagus lainnya, tapi saya belum nonton L).

Marlina sendiri sudah menjadi daftar list film paling atas yang harus saya ditonton. Pembuatan film inipun dengan kerjasama Perancis, Thailand dan Singapura. Review berdasarkan pengamatan di twitter, penghargaan internasional atas film besutan Mouly Surya ini cukup membuat saya terpikat dan bilang “Pokoknya gue harus nonton film ini”.

Namun belum sebulan tayang, itensitas film ini sudah mulai menyusut. Dari enam bioskop besar di Semarang, hanya satu yang masih menayangkan film ini. Itupun hanya dua kali tayang di siang hari. Atas dasar ketakutan Marlina akan menghilang dari peredaran di Semarang, akhirnya membulatkan tekad sehabis balik dari Jogja, langsung mengosongkan jadwal untuk pergi meskipun hujan dan sendirian.

Sebelum review film ini, lebih baik baca reportase Tirto.id tentang beberapa penanganan kasus pemerkosaan yang penuh dengan ketidakadilan dan terkesan asal-asalan. Itung-itung buat menambah list kebencian kalian pada kaum adam. Laki-laki itu emang bajingan men. 

Baca reportasenya Tirto.id  disini , disini dan disini.
Let’s review this ‘badass movie’
Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Film ini diawali dengan landscape Sumba yang sangat menakjubkan, gila men Indonesia punya beginian.  Sebagian besar bagian film penuh dengan pemandangan-pemandangan yang memanjakan mata, background laut, langit biru, matahari tenggelam, dan kesunyian malam. Overall, sinematografi film ini keren. Ironisnya, segala keindahan di Sumba berbanding terbalik dengan tingkat kemakmuran penduduknya. Rumah yang tak layak huni, keterbatasan akses listrik, sinyal yang yang terkadang ada dan tiada, akses jalan yang kecil, transportasi yang tersedia satu jam sekali. Pulau Sumba, NTT memang dapet predikat kota paling miskin ke tiga di Indonesia.

Menurut anda, mana di antara empat hal berikut ini yang merupakan perbuatan keji?
Pertama, seorang lelaki memperkosa seorang perempuan, sementara di lokasi ada mayat suaminya.
Kedua, si perempuan memenggal kepala orang yang memperkosanya.
Ketiga, lelaki lain memperkosa perempuan itu lagi di lokasi yang sama. Bedanya saat itu ada dua jenazah, sang suami dan si pemerkosa pertama.
Keempat, seorang perempuan lain membunuh si pemerkosa kedua, juga dengan cara memenggal kepala. Tentu kita tahu jawabannya bahwa dua perempuan itu sedang membela diri. (voxpop.id/marlina/)

Kemiskinan inilah yang membuat Marlina harus meminjam uang pada ‘orang kaya’ untuk biaya pemakaman anaknya yang belum sempet lahir. Topan, bayi yang akan Marlina namai hanya memiliki waktu 7 bulan dalam kandungannya. Keluarga Marlina meminjam uang pada pada Markus ( Egi Fedly) untuk biaya pemakaman.

Selang waktu yang tak lama, Markus datang seorang diri untuk menagih utang,  dengan arogannya dia masuk ke rumah Marlina, minta buatkan kopi, menyediakan sirih, memasak sup ayam untuk makan malam dan masuk kedalam kamar. Markus datang untuk mengambil hewan ternak Marlina, kerbau, babi, kambing.

“Setengah jam lagi, yang lain akan datang”.

Ternyata Markus membawa rombongan. Niat besar Markus adalah mengambil semua kekayaan Marlina. SEMUA.

“malam ini kamu akan menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia”
Bisik markus perlahan pada Marlina.

“malam ini sa perempuan paling sial” balas Marlina

Seakan-akan laki-laki punya hak atas tubuh wanita tanpa persetujuan, budaya patriakisme memang masih sulit dihapuskan di Indonesia, apalagi untuk daerah-daerah yang terbelakang dengan tingkat pendidikan yang rendah (bahkan tinggi juga). Perempuan hanya sebagai objek pemuas pria yang harus berada dibawah kasta laki-laki (thanks dosen Filsafatku). Kesetaraan antar gender, kesadaran bahwa perempuan mempunyai hak yang sama butuh usaha yang lebih keras untuk bisa mencapai semua itu. Saya sendiri awalnya berpikir perempuan itu harus bisa masak, ngasuh anak dengan baik, harus begini dan begitu. Alhamdulilah, Puji Tuhan, sekarang sudah berubah.

Oke, back to topic.

Atas dasar ketakutan tersebut, Marlina membulatkan tekad untuk meracuni semua orang lewat Sup Ayam buatannya. Tiga orang yang yang belum kena racun, Markus karena sedang tidur di kamar Marlina, dan 2 anggotanya yang sedang membawa binatang peliharaan ke rumah Markus.

Niatnya ingin meracuni Markus juga, ketakutan Marlina membuat mangkuk sup ‘racun’ itu jatuh dan tumpah.

“buka” perintah markus.
Markuspun menyetubuhi Marlina.

Scene berubah, parang Markus ada ditangan Marlina, dengan waktu yang cepat Marlina menebas leher Markus hingga terputus.

Marlina mencari keadilan, dengan membawa kepala Markus ke kantor polisi, ketika menunggu ‘truk’ yang dimodifikasi menjadi bus itu Marlina bertemu dengan Novi (Dea Panendra) yang sudah hamil 10 bulan padahal ideal kandungan adalah 9 bulan 10 hari. Novi memiliki suami, Umbu (Indra Birowo), yang jarang pulang dan cemburuan.

Sepertinya sudah banyak spoiler disini –‘’

Sampai di kantor polisi pun realitanya sangat berbeda dengan ekspekatasi. Berharap kasus pemerkosaan bisa cepat ditindak, dia harus menunggu polisi selesei bermain pingpong, ketika dibuatkan BAP pun prosedur yang harus dilewatipun akan panjang dan lama. Harus reka ulang yang mungkin bisa dilakukan paling cepat 2-3 hari karena menunggu mobil, cek visum yang harus berada di kota dan itu belum tentu alatnya ada. Fyi visum kasus pemerkosaan itu membutuhkan biaya yang sangat mahal bila dilakukan di rumah sakit umumnya, Rumah Sakit kepolisian mengakomodasi hal ini, namun dengan antrian yang sangaaaaaaaaaaaatttt puaaanjaaaaaaaaang (Tirto.id).

Sudah hopeless dengan pencarian keadilan Marlina, dia memutuskan untuk pulang ke rumah.

Cerita tak berhenti sampai disitu saja, Setelah perseteruan Novi dan Umbu, Novi ditahan oleh Frans (Yoga Pratama) dan menyuruh Marlina pulang ke rumah untuk mengembalikan kepala Markus.

Marlina pulang dengan membawa kepala Markus, Frans menyuruh Novi memasak sup ayam, dan Marlina dipaksa untuk “menemani” Frans. Dari dapur Novi mendengar jeritan Marlina minta tolong, konflik batin menghantui Novi.

Secara spontan, dia mengambil parang lalu menerobos kamar Marlina dan menebas leher Frans.

direct scenes yang diambilpun benar-benar epic, pemandangan yang kepala Markus yang ditenteng kemana-mana, tubuh tanpa kepala yang main alat musik tradisional mirip gitar, Marlina dan Novi yang sedang buang air kecil tampak tidak sopan namun elegan. overall emang keren sih.

Pesan utama dalam Marlina (menurut saya) bahwa perempuan belum bisa hidup aman di sini, survey mengatakan bahwa Jakarta salah satu dari 30 kita yang tidak aman di dunia untuk perempuan. Jakarta yang sudah maju aja tidak aman, terlebih lagi tempat miskin dan terpencil. Kasus HIV pun banyak di Indonesia bagian timur. Birokrasi di Indonesia pun masih dalam tingkat kampret-kampretnya, kemiskinan masih begitu terasa (karena miskin itu tentang rasa bukan nilai *eh :p), lalu mencari keadilan di negeri bukan hal yang mudah siapa yang berkuasa dan punya uang akan mempunyai peluang lebih besar daripada yang tidak punya apa-apa, dan diskriminasi terhadap gender masih sangat terasa.

Pemerataan kemakmuran, regulasi birokrasi, kemajuan intelektualitas, peningkatan literasi, dan keadilan sosial masih harus diusahakan di Indonesia. Jalan yang ditempuh masih sangat panjang tapi juga harus terus selalu diusahakan. – Sekian

Leave a Reply