Labirin

Setelah 1 bulan 2 minggu di kediri akhirnya bisa berada di Batu-Malang (lagi). Ketika berada di Kampung Inggris, hasrat main semakin pudar. Padahal dulu waktu di Semarang pengen banget ke Malang dan daerahtimur jawa. Bukan tanpa alasan yang jelas, disini saya dalam prioritas yang berbeda. Belum lagi kabar dari Della yang buat saya semakin tidak tenang disini. Rasanya seperti sedang di becandain sama Tuhan tapi ini serius.

Pengen sih main, kan udah deket tempatnya.

YAY, akhirnya saya main, lebih tepatnya melepas penat setelah skoring TOEFL yang hasilnya memang ga bisa diharapkan.

Para siswa dari EFAST 2, walaupun ga semuanya sih. Ada Ihsan, Lidya, Iin, Sakinah, Ayu, Aul, Haikal, Aku, Sena, Farah, Ririn, Arifah, Budi, Koko dan Komar. Kami berlimabelas pergi ke Batu.

Hari pertama kita ke Alun-alun batu dan menghabiskan malam di BNS Batu Night Spectacular.

Hari ke dua kita ke Labirin dan Perkebunan Apel.

Nah, Pergi ke Labirin adalah pengalaman yang paling menyenangkan dan berkesan.
Tempatnya di Coban Rondo, ga terlalu jauh dari sanggariti, tempat pengiapan kami.

Karena kita berkelahi dengan waktu, jam 8 kurang 10 kita sudah ada di Labirin Coban Rondo. Dan buka labirin adalah jam 8 pagi. Sepertinya kelompok kami adalah pengunjung yang bersemangat.

Biaya masuk ke Labirin pun 10.000 perorang, karena kita berlimabelas, kita tawar menjadi 100.000 satu kelompok. Si Bapak penjaga pun setuju. Mantap Jiwa

Dengan penuh semangat kita masuk ke Labirin. Ini adalah pengalaman pertama saya masuk labirin beneran.
Awalnya sih saya berpikir, ah segini doang mah gampang. ga sulit-sulit amat.
Labirin yang di Coban Rondo lumayan luas, mungkin setengah dari lapangan sepak bola, dan tinggi tanaman yang menjadi dinding labirin sekitar 2,5 meter. jadi, kami benar-benar masuk kedalam labirin, mau lompat sekalipun kami tidak bisa melihat untuk mengintip mana jalan yang benar.

Waktu-waktu pertama kita masuk dengan penuh semangat dan antusias. Kegembiraan membara ada dalam jiwa kami untuk menyusuri labirin tersebut.

“disini jalan buntu, putar balik” teriak aku dan beberapa teman didepan.

Saya ingat betul, waktu pertama kali kami menemukan jalan buntu, kami masih bisa tertawa gembira, bercanda, cekikikan.

“Disini jalan buntu, cari jalan lain” Kedua kali masih biasa.

“JALAN, BUNTUUUU” Udah mulai emosi.

“Loh, inikan jalan yang tadi” Sepertinya kami melewati dan memutari jalur yang sama

“BUNTUUUUUU” Mulai Panik

“NJIR, Ini tempat tadi” berputar lagi.

“MANA JALANNYA ??” ADA RASA-RASA DIKERJAIN SAMA LABIRIN

wp-1480252426096.jpeg
Abang tersesat di hatimu dek

“YANG DULUAN SAMPE AIR MANCUR, DIA YANG DIPOTO PERTAMA” teriak Budi Sang Kameramen dari atas Pemantau.

Seketika saja, naluri alay, narsis, dan eksis kami muncul tanpa terkendali.

Kami berlomba-lomba jadi yang pertama di hati dia, bukan deng. jadi yang pertama menemukan air mancur yang ada di tengah-tengah labirin.

Kami mempercepat langkah kami, kami BERLARI dan BERLARI, seperti KAPTEN TSUBASA, Bola adalah teman dan air mancur adalah impian kami.

Kami mulai tidak percaya dengan teman sendiri, sedikit sedikit mulai memisahkan diri dari kelompok, dan mencari jalan yang berbeda.

“Maaf, jalan ninja kita sudah berbeda”
“Sepertinya kita sudah ga sejalan lagi”
“Lebih baik kita berpisah baik-baik”
“Maaf, jalanmu bukan jalanku”

memisahkan diri berarti kami harus mandiri, meningkatkan semangat dan kecepatan langkah kaki untuk menemukan air mancur.

Ketidakefesienan antara lari dan berat lemak dalam perut mengakibatkan kami sudah mulai ngos-ngosan,nafas sudah tersengak-sengat mulai tak beraturan.

“NJIR, INI JALAN BUNTU”

“LAH, KOK MUTER LAGI”

Lama kelamaan ya kesel sendiri, kok daritadi ga nemu jalan yang bener.

Puter sana, balik lagi.
Kearah yang berbeda, ga ada jalan lagi.

Emosi saya sudah mulai tak beraturan, kebun binatang sudah mau keluar dari kandangnya.
Rasanya, ingin menyalahkan sesuatu apa seseorang. Tapi satu-satunya yang bisa disalahkan ya diri sendiri. Kok sampe seCUPU ini.

AKHIRNYA, KITA SAMPE DI AIR MANCUR

64730
TEPAT DI TENGAH

Walaupun bukan yang pertama, tapi saya mempunyai kepuasan tersendiri.
Rasanya LEGA BANGET, KEREN BAH RASANYA.

Disitu saya belajar, kadang hidup itu seperti labirin. Kadang kita bertemu dengan jalan buntu, kadang kita berputar di tempat yang sama untuk beberapa kali dan tak jarang itu sudah terlalu banyak.
Kadang kita bingung untuk memutuskan jalan yang harus kita pilih. Ke kiri atau ke kanan, lewat sini atau lewat sana. Keputusan yang kita buatpun tak jarang mengantarkan kita ke jalan buntu, jalan yang salah dan jalan berputar.
Pertama kali menemukan jalan buntu masih biasa aja, kedua kali masih aman, ketiga kali sudah mulai emosi. kalo berkali-kali ketemu jalan buntu, jalan memutar, balik lagi jalan yang sama, rasanya itu capek, sedih, marah, frustasi, kuesel, pengen berhenti aja deh.
Tapi, saat kita sudah sampe di tujuan, banyak rasa berbeda yang belum pernah kita bayangkan terjadi. Seneng, Lega, suasanya puas,mengharukan campur jadi satu.
Apa yang kita anggap sia-sia dalam perjalanan tadi, tidak sepenuhnya akan menjadi sia-sia.

Success is not about destination, but about journey. No matter how many time you fall down, walk in wrong ways, If you don’t stop and give up, you have not fail. Fail is not condition where you at down position, but fail is when you give up.
God in heaven always watch your step, He will guide you. His plan is not take you to the right destination easily, but he will guide you to accross many pain, tears, anger,hectic, frustation until you really know about the love and life.
At the end, all of your effort will be pay off by big smile in your face.

Ketika mau kembali dari air pancur ke gerbang utamapun saya masih menemukan jalan buntu dan jalan memutar, duh bego nya masih ga ketulungan.

God Bless

Gigih Prayitno

Leave a Reply