Ketika Hidup dalam Hitungan

https://unsplash.com/photos/VT-dBtF8kb0

Tau engga? Stress release terbaik ketika kita hanya bisa berada di rumah saja karena physical distancing adalah workout dan nyuci. Either nyuci piring atau nyuci baju bisa mengurai konflik dalam otak kita yang ruwet karena banyak hal. Belum lagi, di masa pandemi seperti ini, ada banyak masalah yang sebenarnya kecil tiba-tiba menjadi raksasa karena sistem operasi di otak kita yang tidak bekerja dengan normal seperti biasanya. Makanya, untuk mengatasi segala masalah yang kita pikirkan, kita perlu mengurainya satu per satu. Sebelum mengurai masalah tersebut, kita perlu melepaskan stress dan keruwetan yang tumbuh dan berkembang di pikiran kita. Salah satu cara termudahnya ya dengan nyuci piring atau nyuci baju.

Dan bila beruntung, saat sedang melepaskan stress, kita akan mendapatkan iluminasi atau pencerahan yang biasa kita kenal sebagai wisdom. Hikmat dan nasehat seperti ini, terlebih yang kita temukan sendiri, banyak membantu kita menumbuhkan nilai dan prinsip hidup yang sedang kita jalani. Ya, mungkin kita tidak bisa langsung jadi bertindak malaikat, tapi kita selalu punya kesempatan untuk berubah dan bertumbuh. Maka, jangan sia-siakan setiap iluminasi yang hadir dalam hidupmu itu.

Nah, beberapa waktu yang lalu, saat gue sedang nyuci piring, pikiran gue setengah terbang melayang entah ke mana. Tangan gue masih nyabunin piring, gelas, sendok kotor, tapi agaknya pikiran gue setengah sadar sembari termenung. Entah apa yang gue pikirkan saat itu pun gue udah lupa. Tapi, gue mendapatkan AHA moment, sebuah iluminasi bagaimana seharusnya gue menjalani hidup. Gue uraikan sendiri dari satu titik AHA (bukan Atta Halilintar ya bangsat) itu sampai ke bagian yang cukup kecil. Hingga akhirnya, satu iluminasi itu gue kasih nama “Hidup dalam Hitungan.” Bukan, ini bukan bagaimana waktu kita hidup berhitung mundur hingga kembali ke titik nol. Tetapi, ini tentang bagaimana matematika hidup. To be honest, dari dulu gue payah dalam hitungan dan matematika, jadi akan gue buat lebih  sederhana ini.

Perhatikanlah  hitung-hitungan sederhana ini! Anggap saja 7 (tujuh) adalah hidup yang utuh (fullfillness), di mana kita bisa menjadi dewasa, sudah mengerti tujuan hidup sendiri beserta konsekuensinya, kemudian juga mampu dan tangguh menghadapi segala perkara yang ada di depan kita.

Namun ternyata, untuk mendapatkan nilai tujuh ternyata tidak hanya satu cara. Beberapa hitungan sederhana ini juga ternyata menghasilkan nilai tujuh.

1 + 6 = 7, 9 – 2 = 7, 35 : 5 = 7, 4 x 8 – 25 : 7, (11+25+20) : 8 = 7

Bahkan, rumus dan hitung-hitungan dalam matematika yang rumit sekalipun akan ada yang mendapatkan hasil tujuh.

Nah, sekarang bayangkan saja hidup seseorang, kamu misalnya, untuk mendapatkan hidup yang benar-benar kamu, kamu harus mendapatkan tujuh apa pun nilainya dan bagaimana pun caranya. See, kita punya banyak cara, tidak hanya ratusan atau ribuan, tapi di atas angka itu akan selalu ada soal dan hitungan dengan hasil tujuh. Dan tugas kita adalah, mencari formula hitung-hitungan yang kita banget dengan hasil tujuh.

Untuk mendapatkan tujuh, tidak harus 1 + 6. Dengan demikian, kamu yang mendapatkan tujuh dari 1 + 6 tidak perlu memandang rendah tujuh orang dengan tujuh dari 9-2. Artinya, kita semua punya jalannya masing-masing dan harus menemukan jalan tiap-tiap kita. Ada yang sederhana 1+6, ada yang cukup rumit seperti 4 x 8 – 25, ada yang rumit sekali yang harus menggunakan integral turunan atau apalah itu. Tak perduli bagaimana orang lain mendapatkannya, tugas kita adalah menemukan mana tujuh kita.

Orang lain mungkin bisa menemukan tujuh dari 1+6, tapi kita belum tentu punya feel yang sama dengan cara itu. Maka dari itu, carilah hidup yang harus kamu jalani sendiri. Sebuah hidup yang didesain untuk dirimu, karena hidup tiap-tiap orang tidak sama, kamu pun bukan seorang peniru.

Kedewasaan menemukan tujuh kita secara mandiri membuat kita mampu menilai bahwa orang yang menjalani hidup dengan 35 : 5, atau (11+25+20) : 8 adalah keputusan merdeka dari tiap-tiap orang. Berbeda bukan berarti salah, tak sama bukan berarti lebih rendah. Dengan begitu tujuh mu yang berasal dari 1 + 6 tak perlu dipaksakan pada orang lain, serta orang lain pun tak bisa memaksakan tujuh dari 35 : 5 ke padamu.

Menemukan jalan hidup sendiri membuat kita semakin mengerti kalau kita tidak perlu iri saat ada orang memiliki hidup yang mudah dan tidak sombong saat hidup orang lain terasa sulit. Jika kamu mengerti bahwa cara hidupmu adalah cara yang sulit dan berat, akan selalu ada kekuatan yang dihadirkan. Kalau cara hidupmu mudah dan dimudahkan, anggap saja itu sebuah keberuntungan yang berlebih. Baik cara pertama maupun kedua adalah sama-sama sebuah miracle untuk hidup.

Tidak perlu takut menjadi besar dan tidak perlu minder karena kecil. Selama kamu tau hidupmu  berada di dalam hitungan yang benar, kamu akan mempunyai energi yang cukup untuk melanjutkan hidup.

Kadangkala, untuk menemukan hitungan yang benar, kita sering takut dan ragu-ragu. Pilihan-pilihan cara yang dicoba sangat banyak berarti tingkat resiko yang harus dihadapi juga banyak. Seperti, bagaimana kalau aku jadi memelih keyakinan yang berbeda, atau ternyata aku tidak cukup nyaman berada dalam komunitas ini, dan masih banyak lagi hal-hal dengan konsekuensi besar yang harus dihadapi.

Namun, lebih baik merima resiko karena mencoba untuk menyesuaikan hitungan yang baru daripada selalu berada di hitungan yang salah. Dengan mencoba cara yang salah, kita menjadi menyempitkan area sehingga probabilitas di mana kita mempunyai hidup yang benar-benar didesain untuk kita semakin besar. Bukankah itu fungsi kita mempunyai waktu yang super panjang di dunia ini. Salah satu hal yang harus kita lakukan adalah mencari hitungan yang benar untuk kita sendiri. Temukan hitungan dalam hidupmu dan kamu akan merasa benar-benar berdaya ketika menjalani hidup.

Leave a Reply