Kenapa saya naik gunung

Sebenarnya saya sendiri tidak tahu kenapa saya menjadi pecandu ketinggian, bela-belain membawa tas carrier yang besar nan berat berjalan naik selangkah demi selangkah meniti jalan setapak, melewati hutan pinus, menyusuri semak belantara, tunduk saat menanjak dan tegak saat turun bukan sesuatu yang mudah, tapi dalam jiwa saya ada suatu kepuasan sendiri, lewat mendaki gunung saya menemukan hidup yang adalah perjuangan dalam perjalanan.

DSC07492

By the way, ada tulisan yang recomended buat kalian yang masih meragukan seorang pendaki gunung, walaupun ditulis secara subyektif tapi gaya penulisan dan isinya sangat bagus . klik di sebelah Pacarilah Pendaki Gunung Nduk

Banyak  yang tanya sama saya
Kok kamu suka banget naik gunung ?
Apa sih enaknya naik gunung ?
Kasih aku alasan biar aku mau naik gunung ?
Naik gunung kan capek, kok kamu mau-mau aja ?

Dan masih banyak pertanyaan semacam itu kadang dilontarkan dengan nada ingin tahu tak jarang juga diucapkan dengan nada sinis, seakan-akan naik gunung adalah sesuatu hal yang percuma, meaningless, buang-buang energi, waktu dan sia-sia

Pertanyaan semacam ini sudah terlalu familiar buat telinga saya, membuat saya kesal  bukan karena udah berapa kali sering saya mendengar pertanyaan itu, tapi karena saya sendiri tidak tahu apa jawaban yang tepat buat semua pertanyaan itu, seringkali pertanyaan yang sama saya berikan jawaban yang berbeda-beda, hingga pada akhirnya saya sering menyarankan,“lebih baik kamu coba untuk naik gunung sendiri dan temukan jawaban semua pertanyaan itu”.

DSC07220

November 2013 adalah kali pertama saya naik gunung, saya diajak oleh dosen dan kakak tingkat saya untuk pergi ke merbabu via jalur wekas, saya pun mengajak beberapa teman dan dua orang adik tingkat (Eda dan Hendy). Dalam perjalanan menuju basecamp wekas di daerah kopeng Salatiga, saya melihat iring-iringan motor rombongan saya sendiri dengan tas carrier di belakang dengan sangat gagahnya, saya bilang ke menik

Nik, liat deh iring-iringan kita pada bawa tas gede semua.
Keren banget deh

Iya ik gih, jawab menik

DSC03917

Ternyata kesan pendakian pertama saya tidak begitu menyenangkan, terus berjalan menanjak keatas ternyata tidak mudah dan senyaman yang dibayangkan, saya harus menyimpan tenaga, mengatur nafas dan menjejakkan langkah kaki yang kokoh agar tidak terjatuh.selangkah demi selangkah kita mencoba untuk tetap berjalan dan sesekali berhenti dengan nafas yang terisak.

Ini masih awal, jalan masih panjang.

Akhirnya saya menyadari, 2 jam pertama mendaki gunung adalah 2 jam yang paling berat, karena itu adalah permulaaan tubuh dan tenaga kita beradaptasi dengan jalur yang terus menanjak. Saat kamu sudah seleseikan 2 jam pertama di perjalananmu, pendakianmu terasa lebih mudah, karena otakmu sudah menstimultan untuk bertahan dan beradaptasi antara tubuhmu dan situasi di sekitarmu. Tapi itu bukan 2 jam yang mudah, itu adalah 2 jam yang paling lama untuk dilalui, penentunya adalah dirimu sendiri. membuktikan bisakah kau rendahkan dan taklukkan dirimu sendiri ? Alam sedang mengajari satu hal yang sangat penting yang tidak kau terima di sekolah dan perguruan tinggi.

IMG_1030

Dari gunung saya belajar memanusiakan manusia, ga peduli apa gendermu, ga peduli berapa banyak hartamu, ga peduli seberapa tinggi tahtamu, ga peduli apa agama dan suku mu, dalam setiap pendakian ketika bertemu dengan pendaki lain yang tidak dikenal kita saling sapa dalam kesantunan dan bercanda seolah-olah kita sudah saling kenal sejak lama. Saat kau jatuh, terluka dengan sigap mereka menolongmu meskipun mereka tidak mengenal kamu. Rasa kekeluargaan yang begitu lekat tanpa ada topeng yang menutupi kami, disana saya melihat manusia begitu penting dan sangat berharganya, tidak ada yang tidak lebih penting atau tidak lebih tidak penting daripada dirimu, semuanya sama derajatnya, itulah identitas manusia sejatinya.

Kami berjalan dari siang sampe malam kita baru sampai di post terakhir menuju puncak, akhirnya kita mendirikan tenda dibawah pos menara dan perjalanan dilanjutkan esok jam setengah 4 pagi agar bisa mengejar sunrise.

SAM_4087

keesokan harinya, saya bisa menjejaki puncak syarif, puncak kenteng songo, dan puncak triangulasi dalam sekali perjalanan. Namun masalah terjadi dengan kaki saya, saya mengalam cidera otot dibagian lutut, sehingga kaki kiri saya tidak bisa ditekuk, saat di tekuk rasanya sangat sakit, yang mengharuskan saya melangkah turun dengan sangat pelan, tak jarang saya harus merangkak kebawah agar kaki saya tidak ditekuk  (terjadi lagi saat mendaki gunung sumbing yang pertama), di awal pendakian saya, saya harus survive habis-habisan, saya berada dititik antara hidup dan mati, menyerah atau berjuang. but waktu 6 jam untuk bisa turun ke basecamp pendakian.

Jpeg

Akhirnya saya mempersilahkan rombongan yang lain untuk turun duluan, beberapa orang meninggalkan saya namun ada mas sugi dan oment yang ada di belakang saya menemani saya turun dengan tertatih, disitu saya belajar untuk tidak meninggalkan temanmu dalam perjalanan, bagaimanapun juga rekan adalah rekan dan mereka adalah manusia, manusia akan menjadi sangat rapuh ketika harus menghadapi ke-sedirian (saya pernah lewati itu ketika solo trip ke karimunjawa), seenggak nya teman membuktikan kalau kamu tidak berjalan sendirian, setelah kejadian itu saya selalu mengambil barisan paling belakang saat turun, karena saya ingin menjadi penjaga dan  tidak ingin ada yang tertinggal sendirian di belakang.

Saat dalam perjalanan pulang saya merasa kapok dan gamau lagi naik gunung, ini akan jadi perjalanan yang pertama dan terakhir buat saya. Pokoknya saya gamau naik gunung lagi.

Namun beberapa hari kemudian, malah saya sendiri yang paling semangat untuk menentukan kemana destinasi berikutnya yang ingin kita tuju. Ada semacam candu yang tidak dapat di tahan, meluap tak terbendung dengan begitu liarnya berbisik pada jiwa saya, ayo lakukan lagi, ayo muncak lagi, ayo berpetualang lagi, ayo. .  ayo. .  ayo. .

IMG_20160117_085243

Dari gunung saya belajar untuk mempersiapkan dan merencanakan segala sesuatunya dengan baik.

Pendakian kedua setelah merbabu adalah ke sumbing tepat sebulan setelah ke merbabu akhirnya saya, amira, riki (kita bertemu di merbabu), dan blu (teman riki) sepakat untuk pergi mendaki gunung sumbing, semua persiapan dan dan perlengkapan sudah siap ketika kita ingin pergi ke wonosobo. keesokan pagi nya, kita melihat cuaca sangat cerah dan kami menduga cuaca akan bersahabat dengan perjalanan kami. jadi kami meninggalkan jas hujan, pakaian ganti di basecamp pendakian. Namun apa yang kami perkirakan berbeda dengan apa yang kami alami, tepat di bawah pos pestan, kami di hantam hujan badai yang sangat ganas, tidak ada tempat berteduh, tidak bisa kembali turun, tidak bisa melanjutkan untuk naik. kami tertahan di tengah jalan selama 3 jam, beruntung 2 orang diantara kami membawa jas hujan.

DSC07215

kami sampai di pos watu kotak dengan bersusah payah (karena ada tebing batu yang mengharuskan kami merayap), kedinginan, baju basah semua dan kami tidak membawa baju ganti, beruntung sleeping bag kami tidak terlalu basah karena terlapisi oleh matras dalam carrier.

Dan sialnya, kami baru sadar ternyata baterai senter dan tabung gas kami tertinggal di basecamp, jadi percuma berat-berat bawa kompor kalo ga bawa gasnya, saat itu kami melewati malam yang sangat dingin dan mencekam. Dalam pendakian pertama kesumbing, kami tidak dapat  menjejaki puncak, namun semuanya terbalas dengan sangat indah dalam perjalanan kedua beberapa bulan kemudian.
(FYI, gunung sumbing adalah gunung dengan track pendakian paling berat di pulau jawa, jalurnya selalu menanjak tidak ada jalan mendatar dan tidak ada sumber air sedikitpun.)

Pendakian ke gunung sumbinglah yang memberikan paling banyak pelajaran, mengatasi rasa sakit, mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, karena ternyata banyak hal diluar perkiraan kita akan terjadi. Merencakan dan mempersiapkan semuanya dengan matang tidak menjadi jaminan perjalananmu akan sesuai dan baik-baik saja, tapi itu bisa meminimalisir resiko yang akan terjadi. Disini saya tidak akan bermain-main (lagi) dengan alam, dan saya sadar ketika kita memelihara semesta ini, maka semesta akan memelihara kamu kembali

1459292761174

Dari gunung saya belajar untuk tidak menyerah dan tunduk pada pada Sang Pencipta.

Kalau pendakian ke sumbing yang pertama membutuhkan waktu 12 jam dari basecamp menuju post watu kotak, pendakian ke Sindoro membutuhkan waktu 13 jam lebih untuk sampai di puncak. Panjang jalurnya itu Nauzubilah rasa-rasanya ada perasaan menyesal mendaki gunung ini kok ga sampe-sampe dan seakaan udah ga sanggup lagi karena  disana banyak puncak PHP, kami kira puncak diatas itu adalah puncak terakhir, ternyata masih ada puncak diatas puncak. Ketika saya sampai puncak yang sebenarnya, saya langsung terdiam dan sujud lemas ketanah dan menangis. Saya teringat perkataan Ps. Jose Carol, “bahkan laki-laki dewasa pun menangis, perbedaan antara tangisan lelaki dewasa dengan anak-anak adalah lelaki dewasa menangis ketika dia sudah menyelesaikan tantangannya sedangkan anak-anak menangis bahkan ketika belum mengambil langkah pertama untuk menghadapi tantangannya”.

Saya benar-benar merasakan kekuatan saya sendiri tidak akan kuat untuk sampai tempat itu, ada tangan kuat yang tak terlihat selalu menuntun dan memberikan kekuatan pada setiap langkah saya.

SAM_5500

Dari gunung saya belajar, tidak semua teman bisa menjadi partner pejalanmu.

Perjalanan ke merbabu dan merapi membuat saya berpikir seribu kali bila ada ajakan untuk naik gunung dari orang yang belum pernah naik gunung. Ke merbabu bersama anak pmk dan ke merapi bersama anak jurusan, yang ada ‘anak mama’ didalam nya. Partner yang tidak seimbang akan banyak menyulitkan, bukan karena saya egois tapi naik gunung itu sendiri udah sulit, saya tidak mau menderita karena kesulitan yang tidak saya buat.

SAM_5677

Saya tidak menyalahkan para ‘anak mama’ karena memang kapasitas setiap orang emang berbeda, hanya saja kapasitas saya emang keren. Permasalahan yang sering terjadi adalah bagaimana menyulut motivasi dan niat dari dalam hati mereka supaya berkobar sampai tujuan bukan sesuatu yang mudah, karena saya percaya motivator terbaik adalah diri kita sendiri, kalau mereka (sendiri) sudah menyerah ditengah perjalanan karena kelelahan, dan merasa tidak kuat, dibutuhkan niat yang benar-benar niat yang memotivasi mereka untuk tetap berjalan. Sehingga kalau ada paksaan untuk naik gunung, saya akan ikut kalau itu ke andong, ungaran, prau dan paling banter ke merbabu via cunthel. keempat gunung itu jalurnya cukup bersahabat buat pemula.

Digunung juga saya menemukan partner yang cocok, kami menamai kelompok kami adalah Kuartet Purapala-Su akronim dari Penikmat Alam Paling Lama (jalannya). Kami berempat adalah Riki Setiabudi, Amira Imroati, Dwi Intan Mutiara Biru dan Saya sendiri. Walau jarang full team, tapi mereka adalah orang pertama yang saya ajak kalo lagi pengen naik gunung. mereka orang-orang yang asyik, terlatih untuk bertahan hidup, jarang mengeluh, cerewet (apalagi amira dan riki), berani capek, dan pantang menyerah (kecuali kalo ke sumbing).

DSC05818

Di gunung, semua sifat asli mu keluar. tekanan dalam perjalananlah yang secara alami mengeluarkan sifat asli teman-temanmu, ada yang egois, ada yang tidak perduli dengan temannya, ada yang sesuka hatinya, yang begitu perduli, ada yang suka modus, banyaklah sifat-sifat asli yang awalnya tersembunyi menjadi terungkap semua dalam perjalanan.

20140330_081641

Dari gunung saya belajar untuk lebih memperdulikan orang lain terutama wanita. Perjalanan ke Merbabu via cuntel yang ke dua kali, kami bertemu dengan rombongan dari Jogja yang ternyata mereka adalah para pemula, mungkin kaget ternyata mendaki gunung tidak semudah yang dibayangkan, kami yang sudah berada dipuncak menara mendengar teriakan minta tolong dari bawah, saya dan riki bergegas turun lagi ke bawah, terlihat tampak para lelaki besar yang sudah tak berdaya, akhirnya saya dan riki lah yang membawa carrier mereka keatas, dan mendirikan tenda buat mereka. Belum cukup sampai situ, karena para wanita terlihat sangat lelah akhirnya mereka tidur di tenda kami, sleeping bag tentara, kupluk dan jaket waterproof saya yang dilapisi selimut bayi harus saya (relakan) pinjamkan pada mereka. Saya dan riki yang jadi korban, di merbabu yang sangat dingin itu, saya harus tidur dengan sarung dan manset saja,dan riki tidur di lapisan luar tenda. Untuk kesekian kalinya, saya nyaris mati di ketinggian.

DSC07287

Masih banyak pengalaman sejenis, seperti saya harus berjalan nyeker dari puncak menara menuju basecamp karena sepatu teman kami terlalu licin untuk turun, ada juga saya harus membawa dua tas carrier full depan belakang karena mika sudah ga kuat lagi.dari situ saya tahu wanita kuat untuk naik gunung yang saya kenal cuma Amira, Blu dan mbak mbak di Sindoro.

Dari gunung saya melihat surga tingkat pertama, goresan lukisan Sang Pencipta yang tiada tandingannya. Salah satu kebanggan ketika sudah sampai puncak adalah saya berada ketinggian diatas awan. melihat awan ada dibawah kaki kita, itu pemandangan yang sangat menakjubkan buat saya, belum lagi kalau cuaca sedang bersahabat, sunrise dan sunset bisa kita nikmati dengan benturan garis berwarna jingga nan elok sangat menyejukkan mata sambil sesekali berkata ‘thanks Lord’.

P1060088

Pemandangan alam yang terbentang, kumpulan bunga edelwis yang sangat elok dan ketenangan dalam keheningan alam membuat jiwa ini terasa damai.

DSC07493

Namun untuk sampai di tempat indah itu butuh usaha yang sangat berat namun pantas dibayarkan. Kabar baiknya adalah ketika kamu ingin menjejaki tempat itu, selalu ada pertolongan dari semesta yang memberi kekuatan dalam hidupmu.

20140330_082613_1

Dari gunung saya belajar tentang keheningan dalam kata dan airmata yang berbicara,
kebiasaan saya ketika sudah sampe puncak atau ketika sedang melihat matahari sedang terbit adalah saya mengasingkan diri dari kelompok, saya ambil note, handphone dan headset saya. Saya terdiam, melepaskan semua kesesakkan jiwa, dan berbicara pada Tuhan tentang kamu yang kadang tak terucap dengan kata-kata namun dengan air mata.

dan terakhir

Dari gunung saya belajar bahwa tujuan utama sebuah perjalanan bukanlah puncak, tapi rumah untuk pulang.

tentunya setiap perjalanan selalu memiliki cerita dan petualangan yang berbeda, Tuhan sayang kamu.

Jadi kamu, kapan naik gunung bareng aku ?

Be brave and keep calm

God Bless

0 Replies to “Kenapa saya naik gunung”

  1. Kenapa waktu di pendakian merasa anda menuliskan sesuatu yang agak lucu menurut saya “anak mama” kenapa begitu kakak??

Leave a Reply