Lelah Kan, Tapi Kamu Tidak Boleh Menyerah

Teruntuk kamu yang masih memutuskan untuk melanjutkan hidup

Hari ini 31 Oktober 2018 tepat 2 bulan gue kerja di Solo dan 2 bulan lebih dua minggu gue pindah dari Semarang setelah 7 tahun kuliah dan mencoba untuk tinggal di sana namun akhirnya gue berpindah jua.

Kalau dipikir-pikir ternyata dua bulan itu cepet banget, ga kerasa udah udah di ujung tahun 2018 aja gue berada di Solo.

Ritme yang gue alamin selama kerja di sini itu kurang lebih seperti ini, dalam satu bulan itu empat minggu, dalam satu minggu ada tujuh hari, dari hari Senin sampai hari Minggu.

Sabtu atau minggu itu biasanya libur, dan menuju Senin itu selalu berat.

Hari-hari terberat ada di hari Senin, Selasa dan Rabu, tiap minggu kalau udah lewat dari hari Rabu rasanya itu enak banget, udah mau weekend lagi, tinggal kamis, jumat lalu sabtu dan Minggu waktunya kita libur.

Mungkin ada yang merasakan hal yang sama, hari senin rasa nya berat sekali, sepertinya waktu di hari itu lama banget, tapi kalo dah masuk hari kamis, otot-otot dan pikiran tidak setegang tiga hari laknat sebelumnya.

Terus, gimana kerja gue ? sebagai orang yang berkerja yang menggunakan kemampuan menulis dan menyusun kalimat, sebenarnya ga terlalu sulit buat gue, yang menjadi permasalahan utama adalah ide untuk menulis itu sendiri.

Kadang ada satu hari awalnya punya ide banyak, tapi tiba-tiba stuck ga ada ide lagi dan banyak waktu terbuang percuma, jadi balik lebih lama.

Ada juga, ketika pagi sedikit ide, tapi seiring berjalannya waktu ide-ide tulisan itu selalu ada sehingga gak perlu pulang lebih lama, kadang sering tepat waktu.

Buat kalian yang belum bekerja, percayalah pulang tepat waktu di perusahaan koorporat itu hanya sekedar mitos, akan banyak hantu yang menahanmu tetep berada di kantor, ya selain kamu jadi PNS, udah paling enak itu sudah.

Terus, karena gue tipe orang yang pikirannya jalan terus, kadang gue sering kesusahan mengelola pikiran itu sendiri, jadi lama-lama ya capek sendiri dan kerjaan banyak ga kelar.

Mikirin ini itu dalam waktu yang bersamaan, jadi bingung sendiri, jadi tertekan sendiri, jadi stres sendiri.

Dan akhirnya gue lelah.

But not for now, gue kerja sesuai dengan bidang yang gue sukai, menulis. Terus juga gue kerja dengan rekan-rekan yang enak, friendly, lucu, ga punya malu, tidak saling menjatuhkan, sedikit ngomongin orang di belakang dan yang terpenting suka ngomong jan-cuk tanpa mikir-mikir lagi wkwkwkwk, untuk setahun lebih dikit di kota ini semoga gue bisa betah.

Seenggaknya gue cukup beruntung berada di tempat seperti ini.

Untuk orang yang kerja dengan kerjaan yang dia sukai ditambah lingkungan yang bersahabat aja gue sering merasa capek dan lelah, apalagi yang enggak ?

Ada banyak sekali orang-orang yang terjebak dan tidak mempunyai pilihan selain memilih alur hidup seperti itu.

Bekerja di dunia yang tidak dia begitu dia sukai karena terpaksa, pimpinan yang otoriter, orang yang punya jabatan lebih tinggi merendahkan dibawahnya, dan jam kerja yang tidak sesuai dengan kontrak kerja sampai sikut-sikutan saling menjatuhkan untuk mencari ‘muka’ dengan atasan, sounds familiar ? Ada banyak seperti itu, banyak sekali.

Lelah ga menjalani kehidupan seperti itu ? enam sampai tujuh hari dalam seminggu. Terus-terusan dengan pola seperti itu berbulan-bulan bahkan sampai tahunan. Kamu tertekan, muak dan tidak tahan.

Sekarang dipikir lagi, kenapa kok masih mau berada di situasi seperti itu bahkan sampai bertahun-tahun.

Lelah bukan. . . . tapi kamu tidak menyerah.

Coba kamu mundur satu langkah dari kehidupan pekerjaan dengan intrik drama yang remeh tapi bikin ribet.

Bagaimana rasanya berada di masa-masa kamu sedang buat tugas akhir atau skripsi ? Dari cari ide judul proposal, buat rumusan masalah, cari landasan teori, cari jurnal sebelumnya, terus buat kuisioner belum lagi nyebar kuisioner, habis itu mengolah data yang ada, belum lagi revisi, belum lagi dan belum lagi banyak hal.

Capek kan buat skripsi, capek kan cari data, capek kan nemuin dosen yang susah ditemuin ? Capek kan ?

Lelah ga ?

Waktu gue sedang buat tugas akhir, kebetulan angkatan gue adalah angkatan kedua di jurusan jadi semua sistem perkuliahan lagi trial and eror, pembagian dosen pembimbing tepat di pertengahan semester delapan, jadi setengah semester kami ga ngapa-ngapain selain nunggu pengumuman dosen pembimbing doang.

Pas udah dapet, eh dapet dosen pembimbing yang susah ditemuin, paling cepet dua minggu sekali bisa ditemuinnya, udah susah ditemuin harus turun ke Kampus Pleburan lagi untuk bimbingan.

Kurang lebih delapan bulan gue garap skripsi (harusnya bisa lebih cepet dari itu), tiga minggu sebelum sidang itu masa-masa gue dan beberapa temen yang senasib panik.

Tiap pagi setiap pagi udah nunggu di Jimusyo (ruang dosen), siang dosen datang dan bimbingan, lalu pulang ke kost, istirahat, malam buat revisi, pagi datang ke kampus lagi.

Seminggu sebelum sidang, panik makin menjadi. Gue, Balqis, Rinanda, Helen, dan beberapa temen lagi menyebut ruang kepala jurusan dengan nama “Jalur Gaza”, bagaimana enggak untuk nemuin Eliz Sensei selaku Kajur kami itu sudah banget sangking sibuknya.

Kalau pintu Kajur kebuka, kami bilang “Eh Jalur Gaza udah buka” gitu juga sebaliknya “Jalur Gaza masih tutup nih gaes.”

Seminggu sebelum sidang itu masa-masa perasaan kami campur aduk dan banyakkan lelah, capek, mengurah tenaga dan pikiran banget. Gue harus sidang disaat youshi belum kelar, Rinanda dan Helen masih urus-urus berkas, yang paling membekas si Balqis, sore-sore setelah bimbingan, wajahnya merah padam, perasaan marah campur ngambek, dan sedih jadi satu, tapi apa daya sebagai mahasiswa dia tidak punya daya.

Akhirnya Balqis nangis.

“Tinggal beberapa hari gue sidang, masih ada aja yang dicoret-coret.” si Balqis kesal sambil menangis.

Kejadian itu udah dua tahun lebih berlalu, kami sudah lulus dan sekarang punya dunia yang beda-beda.

Balqis udah nikah sama Rama, pacar nya sejak SMA, Rinanda kerja di Jakarta dan gue menikmati Kota Solo yang tenang ini.

Lelah kan, tapi kenapa kami memilih untuk tidak menyerah ?

Setelah kuliah tiga sampai empat tahun, kita harus berhadapan dengan gerbang penentu untuk masuk dalam kehidupan selanjutnya yang bernama tugas akhir atau skripsi.

Coba mundur beberapa fase lagi, masuk-masuk semester dua, tiga, empat, lima dan enam gimana rasanya ? kejar pratikum ini itu, buat laporan yang ditulis tangan, belum tugas-tugas kuliah. Ditambah lagi kegiatan-kegiatan organisasi yang kadang menghabiskan banyak waktu dan duit kita. Buat project yang menyita banyak waktu, tenaga, dan pikiran bahkan sampai muak sendiri,

Gimana ? Capek ?

Lelah kan. . . Tapi kenapa kamu enggak nyerah aja ?

Karena setiap fase dari masing-masing hidup kita itu punya kesusahannya sendiri, untuk sebagian orang ada yang berada di tahap yang memuakkan.

Baik itu kerja, baik itu garap tugas akhir, baik itu kuliah ada banyak tantangan yang membuat kamu tidak hanya sekedar menjadi lelah tapi juga harus bisa dewasa.

Semakin kita berumur semakin kita lebih sensitif dengan rasa lelah, kamu udah harus hidup mandiri, mengharuskan semua dikelola sendiri, belum lagi kalau udah menikah, tanggung jawab bukan jadi permainan lagi.

Rasa lelah itu mengisyaratkan tiga hal, pertama itu tanda kamu harus beristirahat sejenak, kedua itu tanda kamu sedang memperjuangkan sesuatu, ketiga tanda kamu harus berganti arah.

Kadang kamu perlu untuk beristirahat, berdiam diri, menenangkan pikiran dan mententramkan jiwa. Sudah banyak hal yang kamu lakukan, sudah banyak masalah yang harus kamu pikirkan, sudah banyak tenaga yang kamu keluarkan, seudah banyak waktu yang sudah kamu habiskan, sejenak kamu beristirahat.

Lelah juga berarti itu tanda kamu sedang memperjuangkan sesuatu, apa yang kamu perjuangkan itu merefleksikan nilai-nilai apa yang ada di dalam hidup kamu.

Kamu memperjuangkan hidupmu, memperjuangkan pasanganmu, sinamot, karir, traveling, atau apapun itu berarti kamu masih menjadi manusia yang mempunyai jiwa. Kamu masih punya haran yang besar seenggaknya untuk dirimu sendiri.

Lelah juga menandakan kamu harus memutar arah, arah yang mana tidak ada yang tahu selain dirimu sendiri. Seenggaknya kamu harus memilih arah yang lebih baik.

Lelah kan, tapi kamu tidak boleh menyerah 🙂

Leave a Reply