I WAS SLAP

Akhir-akhir ini ada ketidaknyamanan dalam diri saya. Sudah di rencanakan kalau januari sampai maret saya akan fokus untuk IELTS Preparation (fyi ielts itu bukan sesuatu yang mudah. bekali-kali lebih susah dari toefl). Jadwal sudah dibuat terperinci, ada beberapa goal yang harus achieved.  Semua bahan dan perencanaan sudah tersedia dengan lengkap kap kap.

Implementasi minggu pertama. . . . kacau. . . . maklumi

Implementasi munggu kedua. . . tersendat, ga ngerti apa yang salah.

Masuk minggu ketiga, loh bulan januari tinggal 2 minggu lagi, dan ini masih stuck and nothing progress.

Bahasa Inggris saya masih gitu-gitu aja, memorize vocabulary seems useless. Ya Alloh, ternyata sebulan itu cepet banget.

And, i still nothing. .


i made line conversation with my friend, namanya Candy (bukan nama samaran). Biasanya sih kalo kita ngobrol sering kemana-mana dan ampe lupa waktu. Kita bicara tentang apa rencana masing-masing, apa achievements yang mau kita raih, dari urusan politik, agama, perekonomina dunia lah banyak kita obrolin.

Comparing with me, dia jelas diatas aku, dari sisi karakter, logika berpikir, kemampuan bahasa inggris, dan berat badan (yang ini jelas).

Tapi beruntung, Tuhan sayang sama aku, jadi ga terlalu terlihat rendah remah-remah roti lah aku ini.

Ga tau kenapa, percakapan kita berujung ke minta tips gimana bisa belajar bahasa Inggris dengan faseh.

Disinilah di mulai pertempuran jiwa, antara suka-tidak suka.

kenapa ?

Karena kita kalo ngomong ga pernah punya filter, semua blak-blakkan, tanpa menghiraukan perasaan satu sama lain yang suka menyombongkan diri ini. Tapi tujuan kita satu, saya mau bertumbuh dan dia mau berkembang (kekanan dan kekiri).

Jelas awal-awal dia ngasih masukan masih enak di dengar.

‘Open your mind without the boundaries’ kata nya terdengar bijak

Banyak masukan-masukan yang harus saya dengar, tapi masalahnya kadang itu tidak enak di dengar

“you are still beginner”. . . . . Etdah, udah lulus S1 masih di katain beginner

“kalo aku liat, kamu itu masih lack understanding, cara kamu buat kalimat bahasa Inggris mirip banget sama orang Thailand” . . . . WHAAAATTT ? Thailand ? are you kidding me ?

Semua chat dari dia cuma saya bales, Oh, Terus, . . . Then. . Lanjoooott.

Pesan singkat dari saya sebenarnya mengindikasikan kalo saya tidak terima apa yang dia katakan, tapi ya. . .

Terakhir yang paling nancep itu ketika dia bilang, Gausah nafsu kalo masih belum ngerti, start from casual things, JANGAN BELAGU.

NJIR, BE-LA-GU

Saya diam, ingin membantah semua yang dia katakan, menentang bahwa apa yang dia katakan itu salah untuk menutupi rasa malu.

Emm. .  tapi yang dia bilang sih bener semua.

Sayapun terdiam dan mikir.

Saya bisa aja ngebantah, marah, memutus tali pertemanan, tapi apakah ketika saya lakukan itu, saya bisa leveling up ? Jawabannya sudah jelas, saya akan stuck di tempat ini.

Terlalu banyak orang yang mengatakan apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang harus kita dengar.

Apa yang harus kita dengar itu pasti bukan hal-hal yang menyenangkan, tapi sebenarnya itulah yang akan membangun kita.

mengetahui kondisi kita yang sebenarnya, apalagi ketika masih berjuang, itu bukan hal yang gampang – apalagi buat orang-orang yang cenderung ingin sombong (nunjuk diri sendiri).

Satu lagi perkataan dia yang saya ingat.

“Jangan malu kalo salah”

“Jangan malu kalo di kata-katain”

Sebenernya ini BIG Problem buat kita, sering kali kita takut dan malu ketika kita salah, dan banyak orang-orang di sekitar kita yang tertawa atas kesalahan kita.

Satu-satunya cara ya cuma cari partner belajar yang sama-sama ingin membangun, bukan yang menertawakan kesalahan kita. Itu sebenarnya bikin para pembelajar ngedown  dan ga punya keinginan bangkit lagi.


Saya bersyukur punya partner seperti dia, tamparan dia seperti rasa sakit, tapi ga berdarah.

Tapi saya tahu, semua yang dia katakan tujuannya cuma satu, dia ingin saya leveling up dari kondisi saya sekarang ini.

Menyakitkan bukan ?

Iya sangat menyakitkan, tapi kalo melihat nanti,saya tau semuanya bakal pay it off.

Gausah banyak alasan, terus belajar, terus menulis, terus membaca, belajar mengajar, mulai membuat sesuatu di halaman yang kosong dari Indonesia.

7743710-shablvk-0-1479387656-0-1479461918-1479461932-0-1479810166-0-1479817450-1479817462-850-26b2473068-1-1479818927

Leave a Reply