Thank 2019, Next: 365 Hari dalam 1000 Kata

One taught me love
One taught me patience
And one taught me pain
Now, i’am so amazing

Penggalan lagu Ariana Grande ini cukup mewakilkan perjalanan hidup gue selama 2019 ini, walau antara konteks lagu Thank You, Next dengan hidup gue sebenarnya jauh banget sih, tapi tahun ini gue banyak belajar tentang love, patience, and pain. Hingga akhirnya gue bisa tutup tahun ini dengan perasaan amazing dan akan habis-habisan di tahun 2020.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini cukup kerasa roller-coasternya yang menghantam banyak aspek. Ga jarang juga buat gue minder dan insecure dalam beberapa hal. Kalau ngikutin roller-coaster kehidupan, banyak banget kejutannya awalnya dari yang mulai jalan datar pelan-pelan dan cukup percaya diri, yok bisa yok, kemudian naik ke atas perlahan dan  tiba-tiba terjun bebas di saat kita ga siap, di waktu yang bersamaan harus belok di tikungan tajam dengan kecepatan tinggi yang bisa bikin hati jejeritan. Sadar hidup udah lost control akhirnya beberapa kali di tahun ini memutuskan untuk ya udah deh.

Ga cuma rasa roller coasternya, tahun ini warna-warni dan manis-asem-asin hidupnya lebih bervariasi dan merata. Ya kalau disimpulkan hampir mirip dengan penggalan lirik Thank You, Nextnya Ariana tadi.

One taught me love

https://unsplash.com/@hellochang
Love as Family

Masuk di 2019, berarti gue udah berada di Solo selama 4 bulan 2 Minggu. Tapi dari awal pertama gue pindah ke Solo, sampai quarter pertama 2019, gue selalu menyempatkan diri untuk balik ke Semarang.  Tujuh tahun berada di Semarang dan mengalami banyak hal dalam waktu tersebut, gue punya ikatan yang cukup kuat dengan Semarang dan beberapa orang di dalamnya.

Masih inget banget, awal-awal pindah ke Solo, chat Grup WA Komsel Jahat selalu berisik dengan ulah Axa, Samuel, William, Hermon dan kemudian Jordi masuk di belakangan. Pernah juga nelponin beberapa orang seperti Rara, Devi, Ade, Anneta, Uti. Semuanya buat jadi pengacau agar perasaan homesick bisa gue abaikan. Orang-orang inilah yang ngajarin gue love as family.

Jadi dulu, dari awal pindah ke Solo sampai akhir Juni 2019 gue selalu nyempetin untuk pergi ke Semarang. Sampai akhirnya gue berani untuk bisa bergegas dan melepas, karena semua orang perlu move on, rait? Berpindah dari Semarang, meskipunmasih ada di Solo, sekarang tiap bulan gue selalu ke Jakarta hehehehe.

One taught me patience

https://unsplash.com/@lindsayhenwood
Patience

Banyak hal dalam hidup yang sebenernya ga perlu dipaksakan, kalau emang waktunya untuk menunggu, ya gausah nekat, sabar aja. Kesabaran gue pun terbayar tuntas dengan harga yang mahal di 2019. Setelah 9 tahun sendiri, 3 tahun “memaksa” memperjuangin seseorang, dan akhirnya ditolak dua kali yang artinya gue harus ngadepin luka dan trauma dengan waktu sembuh yang cukup lama, akhirnya menjelang akhir tahun malah ketemu dengan orang yang punya banyak kesamaan tanpa harus dipaksakan. Gimana rasanya? Seneng banget lah.

Tahun ini gue juga berusaha memperluas kemampuan buat nulis (meskipun rasanya sampe sekarang masih payah banget) coba nulis di beberapa platform seperti Kompasiana, pertama kali jadi headline itu rasanya seneng banget. Terus nambah platform lagi seperti Medium, IDN Times, sampe dapet freelance dari perusahaan media yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang (Makasih Mba Liya hehehe).

Waktu menunggu dengan sabar di tahun ini juga gue pake buat banyak self talking and do more selflove. Kesabaran dan konsisten menjadi harga mati yang harus lo perjuangin untuk improve hidup lo. Tahun ini gue masih berasa pemula banget, dan kayaknya akan terus berlanjut di tahun 2020.

And one taught me pain

https://unsplash.com/@saneej
Pain

Melewati waktu demi waktu, tahun demi tahun bukan hal yang mudah. Berganti tahun berarti lo udah semakin tua, semakin lo tua berarti semakin banyak beban yang jadi tanggung jawab, semakin banyak tanggung jawab, berarti kita dituntut bisa jadi lebih dewasa.

Perkara dewasa juga berarti kita harus selesai dengan diri sendiri. Which means hal itu menjadi perkara yang paling sulit untuk para milienals. Dealing with ego, struggling the fear, facing the lonelyness, dan masih banyak hal yang harus diselesaikan.

Setahun di Solo, gue belajar untuk menghadapi rasa takut kesepian dari sendirian. Kalau dulu di Semarang masih banyak temen, di sini  emang sengaja gamau menciptakan lingkaran pertemaan baru yang dekat. Akhirnya apa-apa pun sendiri, tanpa harus peduli dengan orang di sekitar. Sempat ragu-ragu juga apakah akan kembali ke hati yang lama, kemudian di bulan April memutuskan untuk rela.

Selesai dengan beberapa ketakutan besar seperti kesepian dan kematian, justru menunjukkan gue ke rasa takut gue yang tersembunyi: takut miskin dan takut orang-orang di sekitar ga bahagia. Ngelihat orang-orang di sekitar kita ga bahagia itu ternyata sangat menyakitkan. Jadi mungkin, tujuan hidup gue ke depan ga akan jauh-jauh dari melawan kedua ketakutan itu.

Oya, 2019 gue memutuskan diri untuk agak chills dengan kehidupan, receive the good and bad things as gift jadi tema karena di tahun ini gue mau belajar untuk nerima hal baik dan buruk yang terjadi dalam hidup gue sebagai hadiah yang harus diterima. Ga mudah sih, apalagi ketika melewati hal-hal buruk dan menyakitkan, tapi di akhir tahun ini gue bener-bener dapet GIFT itu.

Now, i’am so amazing

Akhirnya, tahun ini ngajarin kalau kita punya pace hidup masing-masing. Ga semua orang bisa berlari dengan cepat, juga meskipun larimu lambat bukan berarti kamu tak hebat.

Tahun ini gue bener-bener sadar kalau pace hidup gue cukup lambat dibandingkan dengan teman letingan gue, mulai dari masuk kuliah terlambat, lulus kuliah ga secepat banyak temen angkatan (walaupun temen yang lulus setelah gue lebih banyak) jobless hampir dua tahun, dan jomlo sembilan tahun itu terdengar gue punya track record yang buruk. Tapi kan hidup bukan sekadar tentang track record, tapi juga tentang perjalanan bagaimana kita bisa kenali diri sendiri dan paham seberapa cepat pace hidup kita. Now i’m amazing.

Saat kita ngerti riama hidup kita sendiri, kita ga perlu insecure dengan pencapaian dari hidup orang lain.  Gue pun begitu, di saat temen-temen gue udah banyak yang menikah dan bahkan mulai gendong anak, dalam hati gue bilang ke diri gue sendiri “kayaknya sekarang waktunya gue buat pacaran deh.” Dan bener, di saat emang gue ga pengen pacaran, dan enjoy dengan diri sendiri, ga ada rencana mau ngegebet siapa lagi selanjutnya, malah ketemu sama Tiffany.

Itu baru tentang relationship, belum masalah pekerjaan, sirkel pertemanan, dan mimpi-mimpi yang masih belum terwujud.Karena hal inilah, gue jadi makin pede buat lanjutin hidup di 2020 besok meskipun tahu banget bakal habis-habisan juga.

Thank 2019, NEXT.

Leave a Reply