Ernest Francouis Eugene Douwes Dekker

Ulasan singkat sejarah ; Sang Inspirator Revolusi

 douwes

Read the book, so you will not blind,

See the History, so you’ll know that how lucky you are.

Pada awalnya saya tidak tahu apa-apa tentang Douwes Dekker, sekilas pelajaran sejarah sewaktu SMA hanya menjelaskan dia adalah pendiri Indische Partij, partai politik pertama di Indonesia, lalu sebutan Tiga Serangkai yang sangat terkenal, yakni Douwes Dekker, Soerwadi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan dr Tjipto Mangunkusumo.

Ketika saya cari tahu dan baca lebih dalam,ternyata Douwes Dekker adalah salah satu orang yang berperan sangat penting untuk kemerdekaan Indonesia.

Dia, Ernest Francouis Eugene Douwes Dekker, salah satu orang yang memperjuangkan kita bisa berdiri sendiri di tanah air, Indonesia Raya.

Lahir di Pasuruan, Jawa Timur pada 8 oktober 1879, berdarah Belanda, Perancis, Jerman dan Jawa. Pendidikan dasar di Batavia (Jakarta), lalu dilanjutkan di HBS (Hogere Burger School) – setara SMA di Surabaya dan Batavia. Perjalanan panjang  Douwes Dekkerdi dimulai saat dia bekerja di perkebunan doeren di lereng gunung semeru (1987), kemudian bekerja di Pabrik Gula Padjarakan, Probolinggo. Di dua tempat itu, ia berkonflik dengan atasan demi membela nasib buruh. Cikal-bakal ketidaksukaan akan kolonialisme membakar semangatnya lebih gila ketimbang penduduk bumiputra.Pemerintah Kolonial  Belanda memberi tanda cap berbahaya.

Dunia Douwes Dekker tidak jauh dari menulis dan menentang sistem perbudakan, kesukaannya akan dunia menulis sudah terlihat sejak usianya 9 tahun pada saat beliau sudah bisa membaca. Pada usia14 tahun ia menulis buku Gedenkboek van Lombok (Buku peringatan dari Lombok). Tahun 1907 bekerja sebagai reporter Koran De Locomotief, Semarang, lalu pindah ke Soerabaia handelslad. Pada tahun 1909, dia menjadi pemimpin redaksi bataviaasch Nieuwsblad, Lalu menerbitkan majalah Het Tijdschrift di Bandung pada 1910. Pada 1 Maret 1912 dia menerbitkan De Expres, Douwes Dekker mejadi pemimpin redaksi dan Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi wakil. De Expres berisi tentang kecaman terhadap belanda dan memangkitkan nasionalisme. Tulisan-tulisan Douwes Dekker sangat keras menentang kolonialise, terinspirasi dari Benjamin Franklin di Amerika Serikat.

Pada 6 September 1912, Douwes Dekker membentuk Indische Partij, partai politik pertama di Indonesia. Salah satu tujuan partai ini adalah memperjuangkan kemerdekaan Hindia (Indonesia). Banyak propaganda yang dilakukan beliau, dari Bandung, Cirebon, Pekalongan, Teal, Yogyakarta, Semarang, Madiun dan Surabaya. Indische Partij membuka 30 cabang dengan jumlah anggota 7.300 orang. Pergerakan politik DD dipandang berbahaya bagi pemerinta Belanda, sehingga ia di penjarakan karena mendukung tokoh Bumiputera yang ditahan karena membuat tulisan berjudul “Andai Aku Seorang Belanda”, yang mengkritik kolonialisme Belanda (1913).

Douwes Dekker, Tjipto, dan Soewardi disetelah di penjara (6 september 1913) di buang ke Belanda. Selain menjalankan aksi politik mereka melanjutkan studi. Soewardi memilih sekolah guru, Tjipto kuliah kedokteran dan Douwes Dekker memilih jurusan ekonomi politik di Zurich, Swiss. Yang menarik adalah bagaimana dia diterima di studi doktoral yang notabene nya DD lulusan setara dengan SMA. Dalam salah satu dokumen pendaftaran, DD membuat tulisan 10 halaman tenang perjalanan hidupnya dengan tujuan agar dia diizinkan melamar studi doktoral dibawah persyaratan normal. Karena curriculum vitae itu, pihak kampus mengabulkan permohonannya. Dari Zurich, DD berhubungan dengan tokoh-tokoh perjuangan yang melawan kolonialisme.

Douwes Dekker juga kerap berdiskusi dengan HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam, Tjokroaminoto sendiri adalah tokoh penting kemerdekaan, dimana nantinya seluruh anggota BPUPKI merupakan anak didik Tjokroaminoto, mereka menganut ideology yang berbeda, namun memiliki guru yang sama.

DD juga dekat dengan Soekarno, kedekatan mereka terjalin berkat Tjipto Mangunkusumo ketika kuliah di Bandung, mereka terlibat dalam diskusi di Tegallega. DD dan Tjipto merupakan pembuka jalan bagi Soekarno bertemu dengan tokoh-tokoh lainnya. Pada saat berpidato di depan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, 3 Desember 1966 – Soekarno menyebut Tjipto an Dekker sebagai mentor.

Aku bersyukur bisa mereguk air nasionalisme dari Tjipto Mangunkusumo, dari Ernest Douwes Dekker. Aku bersyukur, dari merekalah aku mendapat pegajaran. Aku maguru pada Tjipto, Aku maguru pada Douwes Dekker, Setiabudi. Pada Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara.  Maguru artinya aku nglesot di bawah kakinya. Aku terima semua pikiran dan alran. Semua menjadi simfoni bagiku- Soekarno.

Douwes Dekker adalah salah satu dari banyak orang-orang yang turut andil untuk membawa dan membangun Indonesia. Hidupnya penuh dengan perjalanan, pengalaman, pelajaran. Orasinya selalu mematik semangat keluar dari belenggu perbudakan, perlawanan-perlawanan lewat tulisannya membuat dia dianggap orang yang sangat berbahaya bagi Belanda.

Hidup dan perjuangannya jauh sebelum proklamasi di deklarasikan, namun roh dan semangatnya terus menginspirasi semua yang menginginkan perubahan Indonesia yang lebih baik

Sumber : Seri Buku Tempo:Bapak Bangsa

Leave a Reply