(belum) selesei

18 Agustus 2016, Akhirnya saya putuskan untuk menulis ini, setelah ada yang merubah profile pict LINE.
Masih tentang dia yang dulu ku panggil Nona Manis.

Sabtu, 13 Agustus yang lalu saya pergi ke  Getsemani. Rasanya sudah lama sekali tak pergi kesana. Ternyata freelance di JatengFair2016 menyita sangat banyak waktu belum lagi pola tidur yang berubah karena selalu pulang pagi terus. Saya sadar satu-satu nya tempat yang saya rindukan adalah Getsemani dan Gereja, tempat dimana saya bisa mendapatkan rest dan kelegaan rohani. Rasanya rindu sekali datang dala hadirat Tuhan.

Akhirnya saya pergi ke Getsemani sama Ednita.

Saat ini kondisi hubungan saya dengan dia terlihat mundur satu tahun kebelakang ; kami belum saling kenal dan tidak tahu apa-apa. Karena apa yang terjadi dan sepertinya dia masa bodo, saya pun ikut masa bodo. Hingga pada titik saya tidak dapat melihat pola yang terjadi dalam hubungan saya dan dia, bahkan saya pun tidak bisa melihat harapan bahwa hubungan saya dan dia bisa membaik dan maju.

Dia juga suka dengan kakak tingkatnya yang jadi asdos anatomi, dan sepertinya kakak tingkatnya juga suka dengan dia. Ya Udahlah Tuhan, aku sudah capek, aku sudah lelah, aku sudah ga mau ngapa-ngapain lagi kalo ada hubungannya dengan dia, dan pokoknya SUDAH SELESAI. (terdengar seperti ungkapan rasa frustasi)

Kalau memang dia itu benar-benar dia, itu 100% memang pekerjaan Tuhan, bukan kemampuan dan usahaku.

Sekali lagi, pokoknya SUDAH SELESAI. Dia, C——-E akan tetap selalu ada, tapi akan hanya jadi serpihan kenangan perjuangan yang menyerah.

Dulu aku pernah menggebu-gebu mendoakan dia, namun sekarang aku menyerah tak berdaya.

Mencoba tetap tegak berdiri seorang diri, akhirnya tak mampu lagi.

Tapi, di getsemani kemarin. . . . .

Saya datang dengan hati yang normal, karena semuanya sudah menjadi terbiasa. Saya pun tidak tawar hati apalagi pahit.

Saat worship moment di tempat itu
Saat saya sedang merasakan teduh-teduhnya
Saat saya sedang menikmati hadirat Tuhan

Tiba-tiba lidah saya berkata-kata sendiri, kata-kata yang sama yang selalu saya naikkan setiap pagi dalam doa ~ diluar kesadaran dan kendali saya.

Kata-kata yang tersusun jadi sebuah doa saya untuk dia.

Setiap pagi. . .
Setiap aku menghadap Tuhan. .
Setiap aku mengingat dia. . .

Doa yang sama agar kamu tetap mendekat dengan Tuhan, semakin dewasa, dan dijauhkan dari segala yang jahat.

Tanda-Nya sudah jelas, komando-Nya tak terbantahkan.

Ini BELUM SELESAI

Saya sudah angkat tangat tapi belum angkat kaki untuk pergi.
Sekarang Tuhan yang turun tangan dan membuat saya tegak berdiri.

Be brave and keep calm

God be with us

Leave a Reply