(Belum) Move On

Apa jadinya aku yang (masih) berdiri disini menatapmu yang (tetap) menatap dia yang tak pernah berpihakmu.
Bertepuk sebelah tangan, sudah biasa. (The Rain, terlatih patah hati).
Okay ini curcol lagi.
Ah elah baper lagi.

Tampaknya usaha moveon dalam dua bulan hancur dengan dua hari naik gunung andong. Sound like, udah belain menyibukkan diri dengan ikut panitia Jateng Fair sebulan yang tiap malem dangdutan dengan sentuhan ciu (you don’t know what i feel and i know you don’t care)  ternyata masih ga bisa melepaskan bayang-bayang Oh My God, ciptaaan Tuhan yang satu ini kok manis banget.

Pembuktian akhirnya aku bisa move on, ternyata salah besar.

Bukan berarti aku buta, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Kamu sedang jatuh cinta dengan lelaki lain, sudah jelas aku tau itu.

Sudah sering aku bilang sama diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku udah ya, aku selesei dengan mbaknya, udah capek, aku nyerah, kayaknya ga ada harapan lagi selain harapan jaya bus jurusan semarang-jawa timur (kalo gasalah). Tapi kenyataannya statement yang kubuat lebih mirip perkataan politikus Indonesia akhir-akhir ini, banyak boongnya.

Sama kaya aku bilang ke Tere, cak, aku udah selesai.

And simply she reply “kamu udah sering ngomong gitu kak”.

Ada yang bilang cara terbaik untuk move on adalah dengan mencari penggantinya.

Pernah aku coba ? SERING

Tapi kenyataannya aku tetap ga bisa boongin diriku sendiri (bego), dan menyadari mencari pengganti secepat itu hanya menyakiti diri sendiri hidupku ga bisa sesandiwara ini untuk berpura-pura menyukai seseorang.

Bila ini terlampau jauh bisa di pastikan aku juga akan menyakiti dia (sang pengganti).

jadi biarlah ini tetap begini.

Aku dan perasaanku biarlah menjadi urusanku karena aku tau kamu pasti ga mau tau.

Leave a Reply