Belajar Berhenti di Masa Pandemi

https://unsplash.com/@tcwillmott

Akhir-akhir ini, gue menyadari sepertinya dunia bergerak begitu cepat dan engga pernah istirahat. Selalu ada hal baru yang jadi dibicarakan oleh orang banyak di medsos setiap harinya, beberapa di antaranya jadi trending di medsos. Lagu Korea satu berganti dengan lagu Korea lainnya, cuplikan berita fenomenal satu berganti ke cuplikan berita lainnya. Hal-hal yang trending tersebut (selain kebodohan) tidak akan bertahan lama dan digantikan dengan sesuatu yang baru, meskipun kadang diperankan oleh orang yang sama.

Sangking cepatnya semua hal bergerak dan berubah, membuat kita lupa apakah kita telah melewatkan hal baik atau belum? Apakah kita terus menikmati hal-hal yang terasa menyenangkan dan mengenyangkan tetapi kehilangan banyak hal penting nan berharga?

Kesibukan dan banyaknya hal yang jadi perhatian kita sering kali membuat kita lupa untuk belajar, lupa untuk merasakan dan mengenal diri sendiri, lupa untuk memandang dari sudut yang berbeda, hingga akhirnya kita lupa untuk bertumbuh.

Ketika kita menyadari banyak hal yang telah menjadi toxic dalam hidup, salah cara yang bisa kita lakukan ya berhenti.

Itulah yang sedang gue pikirkan dan coba terapkan beberapa waktu terakhir. Gue mencoba berhenti (sesaat) memberi jeda untuk semua hal dan melakukan banyak halnya secara perlahan. Ternyata, berhenti menjadi salah satu pelajaran yang berharga karena menumbuhkan kesadaran untuk berpikir lebih jernih. Dan hal itu akan memudahkan banyak perkara yang gue hadapi sehari-hari.

Hal yang paling sederhana, mengambil nasi saat makan di kantin yang kebetulan prasmanan, nyaris selama dua tahun terakhir, gue ambil nasi dan sayur yang banyak supaya gue bisa kenyang lebih lama. Tetapi nyatanya, semakin ke sini, selain gue harus kenyang karena makan yang banyak, gue juga semakin cepat lapar. Kemudian ambil jalan pintas dengan sering makan, ngemil, buat mie, yang jadi alasan lingkaran perut membesar tak terkendali. Sekarang, kalau gue ada di kantin, gue akan ambil nasi pelan-pelan dan sedikit-sedikit untuk memastikan sebenarnya ukuran segitu udah cukup kasih tenaga untuk gue. Sesekali juga gue menahan lapar untuk waktu yang cukup lama sebagai bentuk upaya “perlawanan” terhadap diri sendiri.

Kemudian, gue adalah orang yang gampang terdistraksi dengan sosial media. Twitter dan Instagram seperti menjadi candu yang bisa buat kacau dan perasaan jadi sering gelisah. Meskipun, gue jarang terpengaruh dengan sentimen dan narasi yang keluar dari sana, sosial media menjadi satu hal yang menarik banyak perhatian gue. Rasanya ada yang kurang aja kalau bukan jadi salah satu orang yang update yang berita terkini. Gue pun masih struggling tentang hal ini. Sesekali berhenti dan melepaskan handphone dan memperhatikan sekitar dan kemudian ambil handphone lagi.

Masih tentang sosial media, ada banyak hal yang membuat gue pengen banget berkomentar tentang apa yang dicuitkan orang lain. Entah itu opini atau berita rasanya tangan gatel banget buat komen. Dengan fitur reply, kita bisa memberikan komentar sesuka kita tentang apa yang dilempar orang lain.

Udah beberapa kali gue nemuin cuitan yang memicu untuk dikasih komentar, pertanyaan maupun pertanyaan. Hanya dengan satu ketukan, gue melanjutkan mengetik apa yang ada di pikiran. Setelah apa yang ingin gue omongin hampir kelar diketik, gue berhenti sejenak, kemudian memutuskan untuk menghapus kembali apa yang udah gue tulis. Bukan berarti gue dewasa penuh, tetapi karena setelah dibaca dan dipikirkan lagi, komentar gue ternyata cuman dari orang yang sok asyik aja. Hasilnya, sekarang gue jadi lebih sedikit berkomentar tentang apa yang terjadi di lini sosial media.

Gara-gara belajar buat berhenti, ada beberapa rutinitas yang gue (paksa) ubah. Tentu saja gue lakuin itu karena hal tersebut ga baik, berasal dari rasa malas hingga terus ditunda dan akhirnya tidak dikerjakan. Alih-alih punya rutinitas yang baik, gue malah punya kegiatan yang gue sering sesali di ujung. Gue coba ubah perilaku, mulai dari selalu baca newsletter langganan setiap pagi, sampai nyuci piring pas udah makan malam biar besok pagi ga ada piring dan gelas kotor berjejer.

Akhirnya, gue sadar kalau berhenti tidak selalu buruk. Bicara tentang berhenti tidak selalu tentang kemandegan atau sesuatu yang membuat kita stuck off. Justru sebaliknya, berhenti membuat kita lebih mampu menilai apakah hal tersebut penting dan berguna untuk kita atau tidak. Berhenti membuat kita dapat menentukan pilihan dengan bertanggungjawab. Dan saat kita dapat memutuskan sesuatu dengan bertanggung jawab, kita sedang bertumbuh untuk dewasa.

Coba flashback lagi ke belakang, tanpa gue sadari, ada tiga hal besar dalam hidup di mana gue memutuskan untuk berhenti. Pertama, gue nekat berhenti kuliah dan engga ikut UAS untuk fokus ujian SNMPTN dengan tujuan universitas di Semarang. Kedua, gue berhenti untuk mengejar seseorang (setelah bertahun-tahun) yang nyatanya tidak pernah memandang gue sedikit pun. Ketiga, gue berhenti kuliah S2 dan ambil pekerjaan di Solo. Kalau dipikir-pikir lagi, justru tiga hal yang dipandang sebelah mata sama orang-orang dan pernah jadi keraguan besar buat gue malah jadi bagian yang enggak pernah gue sesali.

Berhenti makan sebelum kenyang
Berhenti membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan
Berhenti untuk terus-terusan skrolling timeline Twitter
Berhenti tap-tap Instagram Stories
Berhenti menyakiti diri sendiri
Berhenti jadi syndrom savior
Berhenti mengeluh dengan hal-hal yang tidak kita miliki
Berhenti menormalisasi hal-hal yang membuat hati kita terluka
Berhenti membangun ekspektasi pada orang lain
Berhenti mengejar orang yang tidak memandang kita
Dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita putuskan apakah kita akan berhenti atau tidak.

Entah itu untuk berhenti sementara waktu, mengambil jeda istirahat, mencoba untuk rehat atau berhenti total dan membuat haluan serta prilaku baru, kedewasaan kita lah yang sebenarnya sedang diasah untuk memutuskan hal-hal tersebut. Berhenti seolah menjadi pelajaran penting bagaimana seharusnya kita melihat arah dengan lebih jelas untuk membuat pilihan. Gagal atau tidak, satu hal yang pasti kita memiliki keberanian untuk membuat sebuah keputusan. Dan, hal tersebut bukanlah hal yang terlalu menakutkan untuk hidup.

Leave a Reply