Bandung, merayakan kesedihan (2)

Lanjtan cerita yang kemarin ya, yang belum baca sila buka disini
Hari keempat

Rencananya hari keempat ini main sama Kak Jo, Ednita dan Vania. Ga jauh-jauh hanya keliling-keliling dalam kota Bandung aja. Janjiannya sih kumpul jam 8 pagi di MEKDI Dago, tapi emang udara Bandung itu bikin ogah buat kemana-mana, maunya narik selimut aha kalau pagi. Alhasil, semuanya jadi molor sampe jam 10an. Itupun harus nunggu Ednita dulu.

IMG_1640
mekdi dago

Pemberhentian pertama ; Hutan kota Siliwangi

Sumber referensi tempat anak gaul kekinian itu cuma satu, instagram. Yang dirasa instagramable akan lebih banyak ingin dikunjungi. terlebih kota Bandung, cukup skrolling aja Ig nya Ridwan Kamil wkwkwkwk. Nah, katanya ada tempat wisata baru di kota Bandung ini, Hutan Kota Siliwangi. Kalo dari IG sih terlihat bagus. Akhirnya we decided this place for our first destination. Tapi ternyata ekspektasi dan realita tak terlihat sama dan memuaskan. Di Ig sih bagus, tapi ternyata less than our expectation. Ga perlu lama ada ditempat ini, kami melanjutkan perjalanan.

Pemberhentian kedua ; Alun-alun Bandung

Antara bingung dan bosen di hutan, rencana selanjutnya adalah naik Bandros, Bandros ini semacam bis pariwisata yang disediain sama pemkot Bandung, fungsinya ya buat keliling-keliling kota Bandung gitu. Minimnya info yang kami tau, gue menyimpulkan kalau Bandros itu bisa dari alun-alun.

Naik Gocar, kami cuss lagi sampai di alun-alun kota Bandung.

Oh iya, tempat wisata di Bandung yang bener-bener pengen aku kunjungin itu cuma dua, pertama terowongan yang ada tulisan “Bumi pasundan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum” sama pergi ke Rumah Hobbit. Nah kebetulan itu terowongan ada di alun-alun Bandung, sambil menyelam dua tiga pulau akhirnya tertikung.

IMG_1774
Photonya bagus tapi ambil momennya mampus :”)

IMG_1745
Alun-alun Bandung

Selanjutnya adalah mau naik Bandros, kami bingung karena ga ada shelter pengangkutan penumpang Bandros di alun-alun. Setelah tanya bapak satpol pp, ternyata titik poin pengangkutan Bandros ada di daerah kantor walikota Bandung sodara-sodara.  Tapi karena perut udah pada laper, kami memutuskan untuk makan. Atas ide dari kak Jo, kami makan di tempat makanan korea alasannya mah satu, tempatnya instagramable. Yaudahlah aku mah ikut-ikut aja.

IMG_1794.JPG
Cukup lama di tempat makan, karena kita semua udah capek, terus turun hujan juga. Setelah hujan reda, kami (masih) ngotot mau naik bandros.

Dan. . .

Ternyata. . .

Operasional bandros dihari biasa cuma sampai jam 4 sore

Dan sekarang udah jam setengah 4.

Oke, ganti destinasi.

Kita pergi ke jalan Braga, jalan yang (katanya) punya view yang bagus dan aestetic. Pesen gocar lagi, kita mau menyusuri jalan Braga. Tapi sesampainya di Braga kami diguyur hujan deras, alih-alih ingin meniti jalan Braga malah kami pergi ke mall (aing lupa namanya) lumayan lama muter-muter disana tanpa tau arah kemana.

IMG_1809.JPG

Setelah dari mall, hujan sudah mulai reda akhirnya kita menyusuri jalanan Braga, keren sih berasa diluar negeri gitu. Kita susuri dari ujung ke ujung. Selesai sampai jalan Braga, kita mau pergi ke Asia Afrika dengan berjalan kaki. Ga terlalu jauh sih tapi ga deket juga. Hari sudah semakin sore dan JENG JENG. . ternyata di jalan Asia Afrika ini banyak SETANNYA (ga berani photo wkwkwkwk).

Bukan setan beneran, tapi manusia yang pakai kostum setan gitu. Oh iya itu malam jumat sih ya. Kami para pembrani ini langsung aja ngacir berjalan sedikit menjauh dari para setan itu.

Disana udah cukup jauh, kami berhenti duduk di pelataran gedung yang kebetulan tertutup. Sedang asyik-asyiknya ngobrol, lagi-lagi JENG JENG
Si Setan merah menghampiri kami.
Ngobrol ngalor ngidul ternyata bapak setan berasal dari Semarang dan bla bla bla bla. Photo lah kami berempat bersama. . . .  setan sialan itu.

IMG_1817
muka Vania suda pucet wkwkwkwk

Setelah itu, Ednita pamit pulang dan gue, kak Jo dan Vania pergi lagi ke Ciwalk. Lagi-lagi ya pakai Gocar. Sesampainya di Ciwalk, kak Jo dan Vania menjadi penasehat “ajaib” untuk gue yang mau beli baju untuk Lisu (dia ultah di minggu itu) dan untuk ehm. . . dia.

 
THE NEXT DAY

Hari selanjutnya, karena kita berpisah satu sama lain, agenda gue adalah pergi explore daerah luar Bandung. Rencananya sih mau sewa motor atau gimana gitu, namun ternyata Koko menawarkan diri untuk menjadi tour guide selama sehari yang kebetulan hari terakhir gue di Bandung. Keberuntungan double extra, Tuhan lagi sayang-sayang sama aku, dan aku lagi sayang-sayangnya kamu LOLOLOLOL

Jadi kemana kita pergi ?

Fyi, gue kalo main-main pasti ke tempat yang berbau alam, pantai, gunung, hutan atau apalah itu. Nah di Bandung ternyata destinasi wisata nya banyak kafe-kafe kekinian nan instagramable juga wisata yang diperuntukkan untuk liburan keluarga gitu. Jadi ya bukan gigih banget lha.

Destinasi pertama gue adalah Tebing Keraton ketika waktu sunrise, berdua di tebing keraton dengan fajar yang akan terbit. ceilah romantisnya :p

Jam empat pagi kami bersiap, jam setengah 5 berangkat. Bandung jam segitu itu sedang dingin-dinginnya dan juga mager. Kolaborasi rindu, dingin, kasur, dan selimut itu benar-benar berat, adek ga akan kuat cukup aku sahaja.

Tapi niat sudah dibulatkan, rencana mandi pagi-pagi harus diurungkan, tau kenapa ? dingin bego –-“

Kam setengah 5 berangkat menuju Tebing Keraton. Kebaikan hati koko lah yang menuntun kami menuju tebing keraton, gue sama sekali ga ngerti jalan, cukup ngekor dan percaya aja sama koko.

Perjalanan menuju tebing keraton awalnya berjalan mulus, jalannya mulus terus Bandung masih sepi-sepinya (ya iyalah jam setengah 5 pagi). Semakin lama jalan yang kami lalui semakin terjal, namanya juga tebing, kami mengikuti trek jalan yang terus menanjak dan terjal. Batu-batu yang di jalan pun sudah mulai menjadi sanget licin.

Kawasan tebing keraton itu berada diatas kota Bandung, kalo ga salah nama daerahnya itu Dago atas. Dari sana gue bisa melihat seluruh kota Bandung dari atas. Gue bisa melongo melihat keindahan lampu-lampu kota Bandung yang mencoba menembus gelapnya malam, karena matahari belum terbit.

Cukup jauh dan bersusah-payah untuk dengan jalan mendaki akhirnya sampelah kami di pintu masuk tebing keraton. Dan ternyata pintunya masih terkunci sodara-sodara.

Alhasil ya harus menunggu si juru kunci tebing keraton, jam 6 pagi pintu kebuka juga, ternyata kita ga sendirian, ada beberapa traveller juga yang mencoba menikmati pagi di Tebing keraton. Menurut gue Tebing Keraton ini recomended banget dikunjungi tapi ketika masih sepi, karena spot utama di tempat ini ga terlalu luas, ga enak aja kalo harus ndusel-ndusel ketek orang lain kan yaa.

IMG_1830
Tebing Kerato

Sayang sekali hari itu kita ga dapet sunrise moment, bagian timur Bandung lagi berawan gelap. Matahari sudah mulai naik namun jingga nya tertutup awan.

Sudah selesai dengan Tebing Keraton kita balik lagi ke kost lagi karena kita belum mandi wkwkwkwk . tapi sebelum itu kami sarapan di pelataran ITB #ceilah.

Mandi, istirahat lalu cuss lagi.
Kemana destinasi selanjutnya ?

Ada satu tempat di Bandung yang bikin gue penasaran. Apa itu ? LEMBANG dan RUMAH HOBBIT.

IMG_1858

Dan lagi-lagi Koko tau dimana daerah itu, ngekor koko lagi kita cuss pergi ke Lembang. Perjalanan ke Lembang itu lebih jauh daripada Tebing Keraton aja, gue hanya menikmati perjalanan menyusuri kota Bandung lalu kepinggirannya dan menuju Lembang. Kesan pertama gue dengan Lembang adalah, buset ini tempat dingin banget, lebih dingin daripada Bandungnya sendiri. Dingin-dingin ena.

Jadi, Rumah Hobbit itu ada dikawasan Farmhouse, tempat kawasan wisata dengan konten perternakan, tiket masuk kesana itu 25.000 perorang dan kita mendapatkan kupon susu murni nasional geratis. Mayan dong ya

IMG_1853
Rumah Hobbit Lembang

Awalnya gue nyangka, Rumah Hobbit itu ada di daerah hutan atau alam begitu, ternyata beda dari bayangan gue. Farmhouse sendiri emang cocok untuk wisata keluarga dan orang-orang kota yang jarang pergi ke desa, main dengan kambing, kambing, domba, dan binatang lainnya. Lah, gue sendiri orang kampung wkwkwkwk

IMG_1859

Di Farmhouse sendiri ada beberapa spot, kaya tempat bermain dengan mantan hewan, Rumah Hobbit, kawasan dengan suasana perkampungan Belanda dan rest area sendiri. Tempatnya nyaman dan bagus sih. Tapi gue sedikit agak kecewa karena realitanya berbeda dari ekspektasi gue. . Oh gini toh.

Sudah berkeliling farmhouse ampe bosen, gue tanya ke koko lagi, tempat wisata alam, secara gue anak adventure keleus. Ternyata di Bandung emang sedikit daerah wisata alam, yang ada pun pasti lumayan jauh, dan terdekat dari Lembang adalah : TANGKUBAN PARAHU.

OKE CUS KITA KESANA.

Jalan ke Tangkuban Parahu emang agak jauh sih, menghabisakan daerah Lembang, menyusuri hutan pinus, lalu terus meluncur kedaerah pegunungan. Yang bikin gue kaget adalah tempat parkit kendaraannya sendiri ada di puncak gunung wkwkwkwk

Angin diatas tangkuban perahu ini kenceng banget (yaialah diatas gunung)..

IMG_1900
With Koko di Tangkuban Parahu

Kita ga lama berada di Tangkuban Perahu, mungkin sekitar 15-20 menit aja diatas sana, lalu pulang lagi ke kost an. Sebenernya hari masih siang, tapi karena rasa karena ga ada lagi tempat yang mau gue kunjungin. Ya akhirnya istirahat aja di kost an. Agenda selanjutnya ada di sore hari, meet up sama sahabat waktu di kampus dulu ; Indah Susilawati.

Kita janjian jam setengah 5 sore di Ciwalk (lagi), tapi sayang meet up nya ga lama, karena terkendala jadwal Inddae yang baru kelar les (fyi, dia pengen banget pegi ke Jepang) sama yang kebetulan hari ini dia udah pesan travel untuk balik ke Bekasi. Pertemuan singkat itu sudah cukup untuk melepas rindu setelah mungkin satu tahun ga bertemu dan bercengkrama.

IMG_1904.JPG
With Ndae

Inddae pamit pergi ke Bekasi dan gue bingung mau ngapain. Muter-muterlah gue sekitar Cihampelaz Walk, lalu balik ke kost an.
Packing di dan bersiap karena besok harus balik ke Semarang.
Hari dan malam itu gue habiskan istirahat.

Jadwal keberangkatan kereta pada hari sabtu jam 06.10 pagi. Koko nganter jam 5 pagi, dan di stasiun Bandung gue berpamitan untuk kembali ke Semarang.

Beli makan, dan check in, masuk ke kereta. Dan mulai play musik di handphone.
Track pertama adalah DISTILASI ALKENA,

“karena untukku kau tak pernah punya cinta”

Perjalanan ke Bandung ini jadi rangkaian perjalanan patah hati (di bulan januari) gue, dimana gue berada di stage untuk menikmati semua kenyataan, dan terus menaruh harapan pada se(seorang) yang masih sama. Emosi yang terkuras, perasaan yang menyesak, satu-satu escaping gue ya cuma pergi dan menyibukkan diri dari ke cumbri dan karanganyar, lalu ke Bandung. Tapi perjalanan ini bener-bener berkesan buat gue.

Dalam perjalanan ini juga gue bisa merasakan hal-hal yang sederhana nan luar biasa, seperti dapet tiket konser Planetshakers gratis, bertemu kakak kelas sewaktu SMA yang 7 tahun ga pernah ketemu dan ga pernah kontakkan dan mendapatkan privilidge dari hal itu, mendapatkan tumpangan menginap tanpa harus membayar, teman-teman baik hati, tour guide geratis. Bisa bertemu teman-teman yang dulu pelayanan sama-sama di GBT yang lalu, meet up juga dengan teman seperjuangan ketika di kuliah di Undip. Serasa flashback dan mulai berpikir betapa waktu tidak bisa dilawan, kita semakin tua dan kenangan akan tertanam.

Hidup itu misteri, perjalanan itu indah dan aku masih berdiri untuk orang yang sama 🙂
Akhirnya, jam setengah 2 siang gue sampe di stasiun Tawang, Semarang.

Leave a Reply