Andong with . . .

“kak, kamu janji ajak aku naik gunung”
Tiba-tiba popup chat line dari dia muncul di handphone.

I remembered i had promise to take her to climb mount, but it was on august ago. Unilaterally she cancelled it, cause she comeback to lampung. if i forget it that’s not my serious mistake.

“kapan kamu ada waktu, kita berangkat”  balasku

“aku senin udah libur tapi rabu masuk,
dan belum tau kalo nanti tiba-tiba remed”  jelas dia

“aku senin ga bisa udah janji jadi pewawancara GMB di gereja.” Singkatku

Setelah berdiskusi dengan sangat peliknya akhirnya di putuskan kita akan berangkat kamis pagi untuk pergi daki gunung Andong bukan ke merbabu (karena rencana awalnya adalah merbabu). I very exited, cause this is first time for she to climb a mount. Rasa antusias saya karena ada dua alasan, pertama akhirnya dia bisa ngerasain sebuah perjalanan dan pengalaman naik gunung dan yang kedua finally i can be with her again (hell yeah).

Akhirnya saya chat mas Sugi sebagai penyedia peralatan gunung (tenda, matras, sleeping bag) langganan saya untuk hari kamis – jumat, and he confirmed all is ready.

Hari Kamis

Perjalanan dari semarang – basecamp Taruna Jayagiri (kopeng) 1.5 jam dan pendakian  Andong hanya membutuhkan waktu 1.5-2 jam, di perkirakan kita akan pergi dari semarang jam 12 siang. Kamis pagi dengan muka setengah mengantuk, saya pergi ke semarang bawah untuk mengambil perlengkapan pendakian, setelah itu ke indomaret untuk beli roti, air, dsb.

Setelah itu mulailah kita packing. Satu tas carrier ukuran 60+20 liter yang akan saya bawa, dan ransel daypack (punyaku) yang nanti dia bawa.

Sekitar jam 12an akhirnya kita pergi menuju kopeng.

Sesampainya di basecamp kita langsung registrasi

bukit-andong_1981

Sebelum pergi mendaki, saya ingatkan dia beberapa hal penting seperti 2 jam pertama merupakan proses adaptasi tubuh dengan kondisi sekitar, dari medan yang (lumayan) terjal, suhu yang dingin dan oksigen yang menipis. Kedua selama proses pendakian jangan mengeluh, karena keluhan hanya mensugesti pikiran kita bahwa keadaan terlihat semakin berat. Ketiga niat/motivasi dari menuju peak, selelah apapun kamu asalkan kamu tidak menyerah kamu pasti bisa.

And she deal with the all things.

Dan akhirnya kita memulai perjalanan kita, awal-awal perjalanan terlihat jelas kita sangat ngos-ngos an, nafas kita tak beraturan, detak jantung yang tak konstan, tapi kaki ini harus tetap melangkah.
naik beberapa menit, lagi break. . naik lagi, break lagi.

Ada beberapa momen yang saya ingat, ketika keberadaan kita sudah sangat tinggi dan pemandangan dari atas sudah terlihat indah, for the first time she opened her mouth and said “WOW, AMAZING”.

Sadar bahwa perjalanan belum selesei, muka keselnya keluar lagi, mungkin dalam hatinya berkata “Oh God, kapan ini selesei”.

“Ayo mbak, sebentar lagi sampai puncak” Kata bapak penjaga warung di atas yang sedang membawa barang jualannya.

“Bapak bohong, saya ga percaya pendaki pak” Jawabnya ketus

Ya, pendaki itu emang penipu

Sudah terlihat bahwa dia sudah mulai males melanjutkan perjalanan, dan sisa-sisa kelelahan tetap menempel di raga dia, tapi perjalanan harus tetap berlanjut dan saat itu hampir sebentar lagi sampai tujuan.
Akhirnya kita sampai di puncak.

Ternyata kita terlalu cepat sampai, matahari masih sangat menyengat saat itu. Sambil menunggu matahari sedikit bersahabat, kita duduk dekat tanda Andong Peak dan berbincang banyak hal, dari masalah JKI sampai kasus perceraian yang ada di sekitar hidup kita.

Mataharipun sudah mulai bersahabat dan kita mulai mendirikan tenda.

Hari semakin sore dan cuaca sangat cerah, terlihat jelas goresan awan maha indah ada di sepanjang kita melihat keatas membentuk pola abstrak yang penuh dengan estetika. Gunung Merbabu berdiri dengan gagahnya di depan kami dan gunung merapi selalu tak pernah ingkar janji, gugusan awan melingkupinya membuat dia terlihat sangat gahar, belum lagi dengan siklus 4 sampai atau 6 tahunannya yang membuatnya sebagai salah satu gunung paling aktif di dunia.

Sepertinya Tuhan sedang ingin sombong pada kami.

DCIM100MEDIA
DCIM100MEDIA

“kak lihat, ada pelangi. .  potoin aku” pintanya

Lengkap sudah sore itu membuat jiwa kami terpuaskan. Saya akui senja saat itu adalah salah satu pemandangan terindah yang kami lihat.

Diatas juga kami bertemu dengan anak-anak SD yang sudah beberapa kali mendaki gunung ini, ternyata mereka satu rombongan dengan para orang tua mereka. Terlihat seperti family Vacation tapi kok ya sangar gitu, udah naik, terus makan-makan bentar sambil bercanda tawa lalu turun lagi kebawah terdengar seperti mudah sekali bagi mereka naik gunung.

Ada juga pendaki lain berasal dari bekasi, mendirikan tenda tepat disebelah kami dan tiba-tiba saja kami menjadi sangat akrab meskipun kami belum mengenal sebelumnya bahkan sampai saat ini kami tidak tahu nama mereka.

Matahari sudah terbenam, malampun tiba terlihat lampu-lampu kota dari atas. Secara pribadi ini adalah salah satu yang saya rindukan dari naik gunung.

Dan malam ini kami tidur diatas ketinggian 1726 diatas permukaan laut. Kesederhanaan yang mewah, bukan hotel bintang lima, tapi sebuah tenda kecil dengan milyaran bintang diatas kami dengan udara dingin yang nanti bakal kita kangenin.

Hari Jumat

Pagi-pagi sekali saya sudah terbangun, bahkan terlalu pagi untuk menunggu sunrise.

Pukul setengah 6, perlahan tapi pasti sang mentari pagi sudah mulai terlihat. Pagi itu tidak kalah indahnya dengan kemarin. Untuk kesekian kalinya si mbak terpana dan terkejut dengan pemandangan yang dia lihat, mungkin karena pertama kali dia berada diatas ketinggian yang benar-benar tinggi.

Tuhan pun sombong lagi pada kami.

Namun belum puas dengan semua keindahan itu, kabut tebal datang menyelimuti tempat kami. Seketika keindahan yang kami lihat menjadi samar dan akhirnya benar-benar tak terlihat.
Setelah menunggu cukup lama, dan kabut putih tidak juga menghilang, akhirnya kami memutuskan untuk packing dan turun kebawah.
Cukup sekitar 45 menit untuk turun dari puncak menuju basecamp. Sampai di basecamp kita istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan pulang yang sebenarnya tidak pulang.
Masih ada tujuan dadakan yang ingin kita tuju yaitu benteng Pendem Ambarawa, tempat hits anak instagram’s traveller di kota ini.
Perjalanan pulang dari basecamp sudah terlihat mendung, “tenang kak, ga bakal hujan sampe ke tembalang nanti” kata mbaknya mulai menggunakan instingnya.
Walaupun intuitif perempuan sangat kuat, bukan berarti dia selalu benar. keluar dari kopeng menuju salatiga perlahan hujan yang semula gerimis menjadi sangat deras.
Petigaan bawen langsung ambil kiri, dan perjalanan menuju Ambarawa tidak ada bekas hujan sama sekali.

Tuhan suka sekali bercanda.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Benteng Pendem, tapi si mbak emang ga sabaran.
Sampai di benteng Pendem pun tidak lama, sesampainya disana pun langsung poto-poto ga sampai 5 menit dan gues what ? langsung pulang ke Tembalang.
Ternyata Sang Puan sedang terburu-buru, harus ada latihan PSM untuk acara Dies Natalies FK.

Perjalanan Ambarawa-Bawen-Ungaran sangat lancar, cuaca cerah dan tanpa macet. Sesampainya d Pudak Payung (10 menit perjalanan terakhir menuju Tembalang) HUJAN DERAS LAGI. Akhirnya satu lagi sifat Tuhan yang saya tahu : Dia suka bercanda beneran.

Seketika saya sadar, dua kali saya main dengan dia, selalu saja turun hujan deras ketika kita pulang, seakan-akan semesta sedang memberikan tanda.

“Saat hujan turun, ingatlah kalian pernah berjalan bersama”

Pukul 11 siang kami tiba di Tembalang.

Akhirnya si Anak Mami telah menyelesaikan perjalanannya baru nya. Perjalanan, pengalaman, pemandangan baru saja dia hadapi. Sepertinya dia masih belum sadar perjalanan yang cukup berat sudah dia selesaikan.

Untuk saya, saya bisa melihat banyak hal baru dari dia seperti touch up catokan -__-” dan banyak lagi.

. . . .karena ngebahagiakan orang lain ternyata kebahagiaan saya juga.

DCIM100MEDIA
DCIM100MEDIA

*Kapan-kapan kita ke merbabu ya

Stay Calm and be brave

GodBless

Leave a Reply