All isn't always true

Sebagai pengamat di dunia twitter, cukup membuat saya mengamati banyak hal. Dari konten konyol bercandaan hingga konten yang serius.

Dan saya benar-benar tak menyangka di dunia maya bisa seserius ini. Kadang banyak yang mempertaruhan segalanya hanya karena ingin mendapatkan “panggung” di dunia maya.

Kemarin sempat heboh karena ada ustad yang mengatakan bahwa salah satu dari kenikmatan surga itu adalah pesta sex, *wtf*.  Tidak mempersalahkan apakah informasi ini benar atau tidak, menjauhi ranah-ranah sensitif tentang perspektive surga di kebanyakan keyakinan.

Tapi apakah itu layak disampaikan pada ceramah televisi nasional dengan audiensi seluruh Indonesia yang tentunya tidak bisa dia kendalikan. Akhirnya Ustad tersebut dengan besar hati meminta maaf. Sebuah sikap yang luar biasa.

Beberapa hari kemudian, ada  juga pemuka agama yang mengatakan bahwa operasi caesar adalah hasil dari salah satu bentuk anarkisme setan pada manusia. di hari yang sama juga ada penceramah yang mengatakan bahwa alasan wanita susah hamil adalah pembalut dan sepatu hak.

Dalam hati saya berteriak menahan diri dan berkata
jangan ngomong kasar
jangan ngomong kasar
jangan ngomong kasar
uaasssssuuuuuuu.

Karena ini adalah ranah keilmuan modern, tidak seharusnya berbicara sengaco ini di depan publik. Nda usah berbicara yang sebenarnya bukan bidang keahlian anda lah kalau informasi yang ingin disampaikan belum dicek kembali kebenarannya. Kebodohan yang akan ditertawakan oleh sekitarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari pun banyak sekali berita dan informasi yang belum diketahui kebenarannya sudah menyebar kemana-mana. Belum lagi ditambahkan dengan bumbu-bumbu yang menyentuh lalu ditambah juga emosi rasa kasihan dan penasaran. Bila tidak percaya lihat saja tabs trend di youtube Indonesia, penuh dengan konten-konten yang ga bermutu sama sekali.

Faktor lainnya adalah yang cepat menyebarnya berita hoax ini adalah kebencian dan SARA. Seakan-akan kebencian dapat merubah berita bohong menjadi berita yang benar. Peperangan argumen antara haters dan die hard Jokowi misalnya, ada yang mengelu-elukan atas kerja yang dikerjakan oleh Jokowi, namun tak sedikit juga terus dan menerus menebar kebencian.

Lewat peristiwa ini saya menjadi sadar untuk selalu mempunyai filter dalam menerima informasi, tak hanya itu setelah informasi tersebut difilter harus ada klarifikasi lagi apakah berita tersebut benar atau tidak, karena yang terlihat meyakinkan ternyata belum tentu benar. Kurangnya filter dan konfirmasi ulang bisa menyebabkan kita salah menyebarkan berita bohong. Belum lagi saat ini, di Indonesia banyak sekali orang-orang sok tahu yang ngeyel dan keras kepala untuk dibenahi.

Daripada ikut-ikutan pusing untuk membenahi orang keras kepala tersebut, lebih baik membenahi diri sendiri dengan filter informasi yang baik.

Leave a Reply