4-11-2016 dan Panggung Tunggal sang Petahana

Beberapa pekan terakhir ini netizen di sosial media terpecah menjadi dua,  yang mendukung Ahok dan yang menganggap Ahok telah menistakan agama lewat apa yang dia ucapkan di kepulauan seribu.

Saya sendiri percaya Ahok tidak menistakan agama islam, banyak sekali tulisan-tulisan di facebook, askfm, blog mencoba menjelaskan apa yang yang Ahok sampaikan. Sebagian besar mereka menjelaskan dari rumpun ilmu linguistik.

Mendekati 4 November terjadilah civil war di dunia maya, ada yang mendukung Ahok mati-matian ada juga yang menentang dan memaksa Ahok harus di hukum. Dari yang berkata-kata dengan tutur kata yang lembut dan manis sampai nyinyir, sarkas, dan maki-maki.

Saya rasa kedua kubu ini (pro dan kontra) sama gobloknya ketika mereka mencoba membenarkan pendapat mereka dengan berita hoax di situs-situs yang ga kredibel.  Ada yang menganggap Ahok seperti dewa, adapula yang membenci Ahok habis-habisan.

Saya memang berada di pihak Ahok, karena menurut  saya pribadi beliau tidak salah. Meskipun saya mendukung Pak Ahok, saya tidak mendukung membabi-buta karena banyak yang mendukung membabi buta, pokoknya Pak Ahok tidak salah, sampai berita hoax tentang pernyataan bareskrim yang mengatakan Ahok tidak salah tidak salah di share, padahal kan Ahok masih dalam proses penyidikan dan Polisi belum memberikan keputusan apapun. Jelas ini BEGO.

H- sebelum tanggal 4 banyak terjadi peristiwa politis, seperti Presiden menemui rivalnya Pak Prabowo, kemudian bertemu dengan 2 lembaga islam terbesar di Indonesia Muhammadiah dan Nahdatul Ulama, terakhir SBY mengadakan konferensi pers ‘lebaran kuda’. Saya bukan ahli politik, daripada saya mencoba menerka-nerka saya memilih menjadi silent reader.

Tanggal 4 November dunia maya menjadi semakin memanas, ada yang tetep kekeuh dengan pendiriannya baik itu yang pro dan kontra, ada yang menyebarkan potongan-potongan video Ahok dengan nada arogannya dengan nada status kebencian.  Pokoknya semua yang terjadi tidak jauh-jauh dari dua hal tersebut.

Aksi Damai pada 4 November harus di appresiasi, karena sebenarnya aksi damai berlangsung dengan damai dengan tertib, walaupun ada beberapa makian dan tulisan, Ahok penista agama, Hukum mati Ahok, Bunuh Ahok, Ahok makan BABI yang terakhir bohongan).

Lautan manusia berjubah putih menjadi pemandangan yang apik, terlebih mereka berinisiatif mengumpulkan sampah mereka dan tidak menginjak taman, saya salut dengan FPI dan  FBR dua ormas tersebut yang menjadi korlap Aksi damai 4 November. menghandle ribuan atau mungkin jutaan manusia itu tidak mudah.

Sampai ketika ba’da isya, terjadi kericuhan dan kerusuhan pun tak terelakkan.  Usut punya usut yang memicu kerusuhanpun sebenarnya bukan dari pihak pendemo, tapi ada penyusup yang mencoba membuat chaos di Jakarta. Menurut saya mereka yang menjadi provokator punya kepentingan politis lain, demo yang tujuannya menuntut agar Ahok di hukum (padahal sedang dalam proses), berubah menjadi demo turunkan presiden Jokowi. Sekali lagi saya pribadi percaya perusuh ini bukan bagian dari Aksi Damai 4 November.

Akhirnya nyaris tengah malam Presiden melakukan konferensi pers. Beliau mengatakan ada aktor politik yang menunggangi kerusuhan tersebut. Dan memerintahkan kepada Kapolri Tito Karnavian untuk mengusut kasus Ahok dengan adil, cepat dan transparan. Penyidikanpun akan di lakukan secara live. Lebih dari 20 saksi dan 15 saksi ahli akan di periksa. Pemerintah berjanji akan menyelesaikan ini paling lama dua minggu.

Pak Tito mengatakan penyidikan ini akan melibatkan 3 saksi ahli, yaitu ahli linguistik/bahasa, ahli agama, dan ahli pidana. Penyidikan akan dilakukan secara live dan transparan supaya masyarakat dapat menilai sendiri. Ini adalah salah satu langkah cerdas dari pemerintah untuk membuat kepercayaan masyarakat kembali.

Kita tunggu dalam 2 minggu apa yang akan terjadi, apabila Ahok memang bersalah, beliau harus di hukum sesuai apa yang dia lakukan/katakan. Kalo Ahok dinyatakan tidak bersalah, ya sudah semestinya semua yang mengatakan Ahok menistakan agama harus menerima dan tidak menuntuk lagi, kecuali ada bukti baru. Berlapangdada lah pokoknya.

My Side

Ini adalah opini saya pribadi. .

Saya pribadi, sebelum tanggal 4 november sangat gregetan. Aktifitas netizen yang secara membabi buta menyalahkan Ahok kadang bikin saya eerrrrrgggghh. Ingin sekali rasanya bilang ke mereka kalo Ahok tidak salah, dengan banyak argumen yang saya dapatkan. Saya urungkan itu karena saya tahu itu sia-sia aja.

Akhirnya saya belajar untuk bersabar dan tidak ikut-ikutan menyulut api dalam suasana yang sudah panas ini. it’s better if i control my self. walau beberapa kali saya kelepasan dengan men-share argumen-argumen di pihak Ahok. Seenggaknya saya sudah mencoba tenang untuk diri saya sendiri.

Dalam hati, saya bertanya pada Tuhan.

Apakah Ahok Salah ? Kalo dia benar, kenapa harus sampai kaya gini ? kenapa kok Tuhan diem aja ? 4 November itu ada ribuan bahkan jutaan orang mencoba menurunkan Ahok.

Saya buka bbm saya, hanya iseng aja. Saya terdiam ketika salah satu teman saya memasang DP yang mungkin jadi jawaban Tuhan atas pertanyaan saya.

103457

Sudah jelas, Tuhan mengambil kesempatan ini untuk menaikkan level bapak Ahok. Terlebih dalam 2 minggu ini (karena live), semua mata dan telinga pasti akan tertuju pada kasus pak Ahok. Dua minggu ini akan menjadi panggung tunggal sang Petahana. Channel televisi, Youtube, Facebook, Askfm, twitter, instagram bisa di pastikan kasus Ahok akan menjadi trending dibandingkan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi, bukan sekedar jakarta tapi juga “Indonesia” (God have other scenario).

Mendengar keterangan pak Kapolri tentang proses penyidikan kasus Ahok, dari transparansi, live, ahli bahasa, konteks, agama, dan pidana, sangat besar sekali kemungkinan kalo putusan dari kepolisian menyatakan penyidikan bapak Ahok tidak bisa dilanjutkan, karena tidak ada indikasi penistaan agama.

Kita sudah tahu siapa yang akan menjadi DKI 1.

“. . . .and hater gonna be hater”

Leave a Reply