Wait and see

Baru saja dilantik hari senin kembali, sudah membuat gaduh dunia para netizen. Selamat buat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, lima tahun kedepan Jakarta dipimpin oleh mereka berdua. Peristiwa hari kemarin pun bukan hanya sekedar kronologi biasa. Tapi juga melewati banyak drama dengan banyak perspektive. Perseteruan para bani taplak dan datarians sampai sekarangpun masih belum mereda. Sebuah truth claim saling serang berusaha membela bahwa keyakinan yang mereka (masing-masing) anut lah yang paling benar. Kebrutalan saling serang mengakibatkan rusaknya ranah publik dan ranah private bagi masing-masing semua orang. Para bigot ini pada ga tau diri menempatkan dirinya di sosial media.

Sehari sebelum dilantik, Anies baswedan terlihat membuat kehebohan dengan video yang katanya memperlihatkan sisi arogan seorang penguasa (katanya arogan), video yang terlihat seperti ajudan mengantarkan sapu tangan kepada Anies Baswedan dan video kesombongan yang (sekali lagi katanya) tidak berterima kasih pada orang yang membawakan kursi untuknya duduk. Video itu secara cepat tersebar luas di dunia maya, dan mendadak menjadi viral dikalangan kaum bani taplak. Efek sakit hati jagoannya kalah di pilkada kemarin sepertinya masih menyisakan luka yang sukar sembuh. Video “kearoganan” seorang Anies Baswedan menjadi bahan yang sangat baik untuk digoreng-goreng para barisan yang belum move on ini.

Belum selesei sampai disitu saja, ketika pelantikan, Anies Baswedan juga berpidato menyenggol isu pribumi non pribumi. Beliau berkata “Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,”. Lagi-lagi dalam dua hari berturut-turut, dunia maya kembali gaduh. Disisi lain memang Indonesia mempunyai sejarah yang kelam tentang “pribumi dan nonpribumi” pada 98 lalu, yang menyisakan banyak trauma mendalam pada orang-orang keturunan tionghoa. Hingga akhirnya, Pak Habibie, presiden ke tiga Indonesia mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) untuk menghentikan istilah pribumi nonpribumi ini karena hal ini adalah isu yang sangat sensitif untuk kondisi Indonesia saat itu bahkan hingga sekarang.

Menyadari Indonesia saat ini sedang penuh dengan kebencian, nampaknya doa-doa untuk mengasihi musuh seperti diri sendiri tidak berlaku di negeri ini. Hatespeech adalah sebuah kebangaan tersendiri dan cuitan menjatuhkan lawan adalah kepuasan tersendiri. Manusia mempersembahkan kesombongan dan keangkuhannya dihadapan altar ego mereka sendiri.

            Saya bukan haters ataupun die hard Pak Ahok maupun Pak Anies, cukup Pamela aja yang menjadi junjungan tertinggi saya (Anak MM pasti ngerti :”). Mereka berdua punya kontroversinya masing-masing. Mencaci-maki, nyinyirin, ribut masalah attitude tidak akan merubah keadaan bahwa Jakarta mengganti gubernurnya. Dan itu semua tidak membuat dirimu menjadi lebih baik, dendam, kepahitan, sakit hati yang terus ditanam dan dirawat tidak menjadikan kira manusia yang baik.

            Dalam seratus hari kedepanpun sepertinya alam sudah mempersiapkan untuk membandingkan pemimpin Jakarta saat ini dan sebelumnya. Para Datarians akan terus menyalahkan Jokowi dan melabeli Ahok sebagai Penista, sedangkan kaum Bani Taplak juga akan membuat kegaduhan akan hal yang sama, hanya topiknya saja yang berbeda. Kedua hal ini tidak akan membawa perubahan sama sekali.

Buat saya, just wait and see, Pak Ahok sudah membuat standar yang sangat baik sebagai tolok ukur Jakarta dan hanya waktu akan membuktikan semuanya, apakah Pak Anies lebih kompeten dan mempunyai leadership yang baik untuk memimpin DKI, atau sebaliknya. Kalau dia bisa membuktikan semua itu, selamat buat Jakarta. Sekalipun tidak, 5 tahun kedepan Jakarta akan maju bersama Pak Anis dan Mas Sandi, Maju kotanya, Bahagia orangnya.

2 Replies to “Wait and see”

  1. Orang netral itu masih ada, Anies bukan iblis, dan Ahok bukan malaikat :”

Leave a Reply