One Day Solo Trip Sukoharjo: Gunung Sepikul–Telaga Claket–Dam Colo

Upin Ipin ke Sukoharjo
WOOOOOOOOOOOOO

Setelah hiatus setahun lebih sedikit, akhirnya gue memutuskan untuk traveling lagi. Bukan tanpa alasan, sejak pindah kerja di Solo, semua banyak berubah, mulai dari ga punya teman buat traveling dan semakin kesini konsep tentang traveling dalam pemahaman gue juga ikut berubah.

Sekarang kebanyakan orang traveling jadi gaya hidup sebagai bentuk aktualisasi diri, which is nga salah. Udah pergi ke tempat yang bagus, jauh dan mengeluarkan banyak uang, ya harus punya feed IG yang baguslah. Sebenarnya sih konsep traveling untuk pamer dan aktualisasi diri udah kesingkir jauh, dulu waktu main atau naik gunung sama Purapala-su Riki, Blu, Rara dan gue jarang banget buat foto-foto, kita malah sibuk saling bercerita kekonyolan diri sendiri dan orang lain. Dan gue bakal rindu momen-momen seperti itu.

Nah, salah satu konsep traveling juga berubah ketika gue harus Solo Traveling. Meskipun ini bukan kali pertama pergi main seorang diri, beberapa destinasi seperti Karimunjawa, Bandung, Kediri, Jepara, Jogja pernah gue kunjungi sendirian, walaupun pas sampai di sana juga ketemu orang juga.

Nah, bagaimana kalau gue dari berangkat sampai pulangnya gue pure Solo Travel? Pertanyaan itu menimbulkan ketakutan yang memaparkan gue kadang masih ga berani menghadapi beragam situasi tak terduga sendirian. Belum lagi, semakin lo jadi lebih tua beranjak dewasa, hasrat untuk ga pergi ke mana-mana dan leyeh-leyeh di kasur itu semakin besar.

Ngapain sih capek-capek pergi traveling, udah ngabisin waktu, uang, dan tenaga, cuma untuk sekadar main saja. Hal ini terbukti, beberapa kali gue merencanakan untuk pergi jalan-jalan, dan ujungnya end up di kasur ga pergi kemana-mana.

Ga tau kenapa, sehari sebelum Iduladha kemarin, hasrat mau traveling untuk semakin membesar, dan akhirnya gue putuskan hari itu buat One Day Trip ke Sukoharjo.

Hah? Sukoharjo? Dimana tuh? Emang ada apa di sana? Bagus tempatnya?

Perjalanan Menuju Telaga Claket

Nah ini, gue tuh biasa nyimpen destination list kalau-kalau suatu saat nanti bakal gue kunjungi, seperti di Klaten, Sukoharjo, Pacitan, Boyolali, Hatimu. Di Sukoharjo ada beberapa tempat yang bisa lo kunjungi, meskipun ga banyak sih, dan beberapa tempat itu aslinya bukan tempat wisata.

Berhubung ini One Day Trip, gue ga muluk-muluk harus bisa sampai ke banyak tempat. Kalau dulu gue pernah One Day Trip ke Jogja dan mampu dateng ke 8 destinasi sekaligus, kali ini gue nga mau muluk-muluk kaya sebelum-sebelumnya.

Rencananya ada empat destinasi yang mau didatengin, Gunung Sepikul, Watu Giring, Telaga Claket sama Dam Colo. Alasan untuk datengin tiga tempat itu pun simpel, karena di Instagram itu tempat kelihatan bagus, karena sekarang kayaknya Cuma Instagram yang sering dijadikan referensi buat pergi, jadi gue ga mau naroh ekspektasi terlalu tinggi.

Dan dari empat tempat yang masuk list destination, cuma bisa kunjungin ke tiga tempat aja. Ketika di perjalanan entah kenapa Watu Giring jadi (sengaja) terlupakan.

Karena gue pergi di hari Minggu pagi dan kebetulan bertepatan dengan Iduladha, otomatis jalan-jalan utama dari Solo sampai mendekati Sukoharjo kosong plong. Di dalam perjalanan gue merasa jadi kafir kuadrat, udah ga ke gereja, ga salat ied juga wkwkwkwk.

Perjalanan dari Solo sampai Sukoharjo dan balik lagi ke Solo cuma ada satu lagu yang selalu keputer di Spotify, memang karena disetiing buat satu lagu itu aja. Sepanjang perjalanan, gue membunuh rasa bosan dengan ndengerin lagu Speechlesnya Naomi Scott, kalau di film Aladin Jasmine naik karpet terbang, gue naik motor matic, beda jauh huahahahaha.

Berangkat sekitar jam 7 lewat dikit, tujuan pertama adalah Gunung Sepikul. Ga susah untuk bisa sampai di tempat ini, dengan bantuan Google Maps, lama perjalanan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Meskipun namanya Gunung Sepikul, sebenernya ini adalah gunung yang bukan berbentuk gunung, bingung kan? Sesuai dengan namanya, Gunung Sepikul itu adalah gunung purba, iya gunung purba, tapi bukan boru yang itu 🙁 Namanya gunung purba, jadi ini gunung sudah aktif dan berbentuk lagi, dari segi bentuknya sendiri Gunung Sepikul lebih cocok dibilang bukit, karena untuk sampai di puncaknya kamu cuma perlu trekking sekitar 15 menit sahaja.

Selfie at Gunung Sepikul

Dinamakan Gunung Sepikul karena gunung ini mempunyai tiga puncak yang berbeda yang terlihat sedang memikul sesuatu, dan gue cuma naik di satu puncaknya aja, ternyata capek coy, belum lagi jaraknya juga jauh, lo harus turun lagi dan pergi ke desa sebelah.

Satu lagi, ada legenda rakyat yang terkenal tentang Gunung Sepikul ini. Kalian tau cerita tentang pembuatan Candi Prambanan? Konon katanya Bandung Bondowoso memerintahkan pada jin untuk mengangkut batu dan membuat candi dalam waktu semalam. Nah batu-batu yang dibuat untuk membuat Candi Prambanan adalah batu-batu yang dibawa oleh jin tersebut dari Gunung Sepikul. Seru uga ceritanya.

Di sini paling juara suasananya, dingin kawasan perbukitan dengan pedesaan itu nyenengin banget. Mungkin karena gue dateng pas Iduladha, jadi pas sampai di puncak cuma ada gue dan tiga anak SMP yang akhirnya mereka pulang duluan.

Turun dari puncak pun rasanya nyaman banget, karena emang suasana di sini juga sangat mendukung, dan gue menghabiskan waktu yang cukup lama di sini untuk doing nothing, makan arem-arem dan dengerin lagu Speechless doang.

Udah cukup lama duduk-duduk manis di Gunung Sepikul, perjalanan pun gue lanjutin ke Telaga Claket, yang menurut gue destinasi yang Instagramable banget. Jarak dari Gunung Sepikul ke Telaga Claket naik motor dengan kecepatan standar kurang lebih memakan waktu sekitar setengah jam, dan lagi-lagi Google Maps sudah membantu dengan sangat baik.

First impression tentang Telaga Claket ini, hmmmm mayan juga buat bersantai sama keluarga atau teman-teman. Sebagai gambaran, telaga ini sebenarnya enggak luas-luas banget, satu lapangan sepak bola lebih dikit lah. Tapi yang bikin bagus tempat ini adalah adanya bukit yang mengitari lebih dari setengah lingkaran telaga ini. Ditambah lagi, ada spot yang sangat Instagramable.

Masuk di kawasan Telaga Claket diharuskan membayar tiket masuk Rp 10 ribu, abis itu puas-puasin deh untuk foto-foto dan menikmati suasana di sana.

Gue nyampe di Telaga Claket sekitar jam setengah 10 pagi, pas matahari belum terlalu terik tapi udah cukup panas. Udah berkali-kali ambil foto, akhirnya gue istirahat di salah satu gazebonya.

Telaga Claket

Oh iya, di sini ada beberapa gazebo yang bisa kamu gunakan secara gratis, untuk kumpul, makan, main, melakukan hal yang dilarang agama, atau apalah itu. Dan di Gazebo itu lagi-lagi gue istirahat untuk menunggu waktu agak sorean untuk lanjut ke destinasi terakhir.

Kenapa harus sore? Ya panas lah cyin kalo siang, belum lagi buat elo yang belum tahu kalau mau foto-foto luar luaran seperti di tempat wisata, jam 10 sampai jam 2 siang itu waktu-waktu haram untuk foto di tempat wisata.

Kenapa? Karena pada saat-saat tersebut posisi matahari sedang di atas kita, jadi pencahaan yang seperti itu akan menghasilkan foto yang tidak maksimal alias jelek. Udah orangnya jelek, pencahayaan jelek, jadi na combo jelek, hidup seperti apa yang mau kamu jalani?

Akhirnya dari jam 11an lebih sampai jam 2 gue nunggu di gazebo itu seorang diri, iya seorang diri. Awalnya gue merhatiin ada beberapa ukhty yang naik perahu dan ke tengah danau pas matahari lagi terik-teriknya, nekat bats dah itu, gue aja males dan lebih milih duduk di gazebonya aja.

Dan coba tebak apa yang gue lakukan untuk mengisi 2 jam waku kosong? NONTON DRAMA KOREA HUAHAHAHAHA. Rekomendasi Drama Korea dari Ira Hutaya memang benar-benar dah, sampai pas lagi traveling masih sempet-sempetnya nonton Drama Korea, habis dua episode lagi.

Nonton Drakor wkwkwk

Karena dirasa laper, karena belum makan dari pagi, pas di Gunung Sepikul juga adanya arem-arem dan gorengan, akhirnya gue pesen pop mi sama es teh dan tentunya masih lanjut nonton Drama Korea, masih tentang Per-IU-an Duniawi, gue nonton Scarlet Heart Ryeo, yang awalnya drama ini sih agak cheesy menjijikan tapi semakin ke sininya semakin seru, karena drakor ini tentang sejarah Korea, belum lagi IU.

Ini adalah kali pertama, belum pernah dalam dunia pertravelinganku nonton drakor di tempat wisata, mana dua episode lagi. wkwkwkwk

Udah agak sorean, dan panas matahari tidak begitu menyengat, akhirnya gue pergi melanjutkan ke tujuan terakhir, Dam Colo atau sering dikenal dengan Bendungan Colo. Dari Telaga Claket ke Dam Colo ini deket banget, sekitar 5 sampe 10 menitan aja naik motor. Lagi pula ini bendungan sebenarnya bukan tempat wisata, cuma dibandingken dengan bendungan-bendungan di Indonesia bentuk Dam Colo unik dan Instagramable bats.

Dam Colo

Bendungan ini dibangun sejak zaman Pemerintahan Suharto, jadi emang keberadaannya sudah sangat lama dan arsitek bendungan ini sepertinya visioner sekali, membangun bendungan yang Instagramable.

Kenapa bisa gue bilang Instagramable, karna di sungai bendungan ini ada balok kotak-kotak berukuran yang cukup besar dalam jumlah banyak dan disusun secara simetris. Kan jadi enak lihatnya ya.

Usut punya usut ternyata balok-balok beton yang disusun di sini sebenarnya tidak mempunyai fungsi estetika, tapi berfungsi sebagai pemecah arus kalau air sungai dari Waduk Jatiluhur meluap. Jadi tidak sembarangan ngide, kasih balok beton ah di sungainya daripada gabut mumpung anggaran lagi turun.

Sampai di bendungan ini first impression gue “WAAAAAAH”,Upin Ipin main di sawahnya ketinggalan. Dengan ukuran yang lumayan besar ditambah suasana pedesaan bendungan ini juara sih buat nenangin diri, walapun ini bukan tempat wisata.

Baru sampai di tempat Bendungan ini, gue muter otak gimana caranya turun ke balok-balok Instagramable itu, karena dari atas ke bawah dindingnya curam banget, lebih dari 45 derajat dah itu. Sempat terlintas niat untuk yaudahlah gausah turun ke bawah, kapan-kapan bisa ke sini lagi, lagian ini kayaknya sulit diturunin.

Akhirnya jiwa posesif gue nekat untuk turun ke bawah waduk itu. Sampai di bawah persoalan baru muncul lagi, ternyata jarak antar balok itu sekitar 1 meter, jadi mau ga mau harus loncat-loncat dalam keadaan bawa tas dicampur takut kalo kepleset atau henpon jatuh ke air, mana airnya mayan deres. Untuk kali ini traveling ada rasa-rasa tantangan Benteng Takeshi nya.

Pas udah sampai di tengah, mikir lagi, ini gue motonya gimana ya? Kalau sebelumnya cukup pasang tripod dan setel timer 10 detik dan gue tinggal lari, nah ini apakah 10 detik cukup untuk waktu berada di titik yang diinginkan? Gue coba, awalnya mau lompatin per balok biar celana ga basah, tapi ternyata 10 detik ga cukup. Akhirnya mau ga mau harus terjun di air nya, celana pun jadi basah, yaudahlah ya. Meskipun udah turun ke air ternyata 10 detik tetep aja ga cukup. Duh gimana ya.

Dan baru inget kalau gue juga bawa action cam yang bisa diremote pake hape, lah selama ini kemana aja, tau gitu kan gausah basah-basah gini.

Udah lama di Dam Colo, akhirnya memutuskan udah pulang, meskipun hari masih agak sore dan belum terlalu gelap, karena list destinasi udah kecapai dan tenaga juga udah agak kekuras, yaudahlah pulang ke kost lagi.

Dan lagi-lagi, lagu Speechless Naomi Scott menjadi satu-satunya tracklist untuk pulang kembali ke kehidupan nyata.

Solo Traveling ini lumayan challenging tapi memuaskan banget. Udah lama ga coba me-time dengan cara yang cukup berbeda. Seharian seorang diri, pergi ke beberapa tempat, nonton drama Korea, “main air”, tanpa mengenal siapapun di tempat itu dan bonus foto yang cukup Instagramable, wkwkwk.

Leave a Reply