Toy Story 4: Ketika Ingatan tentang Masa Kecil Kembali | Film Review

imdb

To limitless dan beyond . . .

Buat mereka yang sudah hidup lebih dari 20 tahun, masa kecil sudah menjadi masa lalu yang tersimpan rapat-rapat dalam ingatan yangtanpa disadari ingatan-ingatan di waktu yang lalu teperlahan menghilang. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa masa-masa kecil kita pasti pernah bertumbuh dalam dunia permainan.

Apa yang anak kecil lakukan sekarang, kita anggap semua kesenangan mereka hanya bermain-main saja, padahal kita tidak tahu bagaimana seriusnya mereka ketika bermain, padahal itulah yang terjadi pada kita belasan tahun silam.

You’re cute when you care | Toy Story

Pada zaman masa kanak-kanak. kita terlalu serius dengan bermain, menikmati karakter tak bernyawa, dan menggambarkan semua apa yang kita lakukan itu seolah-olah nyata. Bermain dengan mainan, masak-masakan, hingga rumah-rumahan.

Nanti kamu jadi bapaknya, aku jadi ibunya, terus kita pura-pura bangun rumah tangga, terus kamu nanti jadi tamu aku yang masakin.

Anak kecil mah nga tau susahnya bangun rumah tangga, belum lagi drama-drama ditolak gebetan pertama kali, ketemu camer, bacotan tetangga bngst lah.

Masa-masa kecil kita juga tidak dipungkiri bertumbuh dengan beragam film kartun dan vlog keluarga Halilintar, ada banyak film yang menumbuhkan ingatan masa kecil kita, Lion King, Barbie, Kamen Raider, Power Ranger, Wall E, Crayon Shincan, Doraemon, Pokemon, Shincan, One Piece, Gundam, Saint Seiya, Cars, Naruto, dan film-film yang tayang setiap minggu pagi hingga siang termasuk film besutan Disney dan Pixar, Toy Story.

So long, partner | Toy Story

Saya tidak terlalu mengkultuskan Toy Story kaya sampai membeli segala sesuatu tentang Toy Story, tapi tidak bisa dipungkiri buat anak-anak 90an seperti saya, pasti pernah hidup dan bersama film animasi ini atau setidaknya dengan beberapa film yang mereka nantikan pada Minggu pagi.

Fyi, film Toy Story pertama rilis pada tahun 1995, dan Toy Story 4 tayang 24 tahun kemudian. 24 tahun bukan waktu yang singkat, dimana saat ini para anak-anak 90 an mempunyai kehidupan yang semakin pelik, dengan fokus dan tanggung jawab yang semakin bercabang.

Waktu yang cukup panjang sehingga kita mulai kita meyadari sepertinya hidup hanya tentang bermain, makan dan nonton film kartun, sekarang kita masuk di dunia yang banyak berubah dengan segala drama dan cerita yang menguras emosi di dalamnya, tapi memang harus seperti ini semesta menempatkan kita di bumi.

Sebelum menonton Toy Story 4 ini, saya menonton ulang film ini, baik Toy Story 1, Toy Story 2, Toy Story 3 dan d film pendek Toy Story lainnya, rasanya seperti ada yang melambat, ternyata kita sudah hidup dan melangkah sejauh ini.

What do you say I get somebody else to watch the sheep tonight? | Bo Peep

Cerita petualangan Woody, Buzz Lightyear bersama teman-temannya mencitrakan imajinasi kita sewaktu masih kecil, ketika membayangkan bagaimana mainan-mainan ini bisa hidup nyatanya kita yang menggerakkan, semua tokoh terdirect oleh kita bahkan skenario yang diciptakan pun dadakan, tidak ada brain storming, mengatur konsep, memberi karakter, meletakkan timing, yang ada saat itu hanyalah bermain.

Tau kah kamu, kenapa para krucil itu tidak pernah tidak pernah lelah ketika bermain? Karena mereka hanya bermain dan menikmati bermainnya tanpa harus memikirkan banyak hal, masa-masa itu kita cuma tahu luka itu berdarah, padahal banyak luka yang tidak berdarah.

Menonton kembali Toy Story 1,2 dan 3 mengingatkan dulu sering sekali bermain dengan mainan-mainan yang emang terlihat seperti mainan, mobil-mobilan digerak-gerakkan dengan tangan namun imajinasi menuntun kita masuk ke dalam arena perjalanan yang menantang. Atau para robot-robot plastik yang dijual oleh pedagang mainan keliling, dan membayangkan kembali betapa senangnya kita ketika mendapatkan mainan-mainan baru.

Dan laki-laki, itu selalu asyik dengan banyak mainan, dia akan tetap menjadi anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa, dia akan senang bermain-main dengan kesukaannya, namun harganya saja yang lebih mahal. Action figur dari Star Wars, mobil, Gundam, dan masih banyak hal-hal berasal dari kenangan masa kecil yang terus hidup dan terbawa hingga sekarang.

Okay kembali ke film Toy Story

Toy Story 4

Buat mereka yang mengikuti perjalanan Toy Story ini sudah sangat puas di Toy Story 3 yang benar-benar menguras emosi, bagaimana Andy sudah beranjak semakin dewasa dan “mainannya” tidak lagi para karakter-karakter dari plastik ini. Dan menyerahkan semua mainannya ke Bonnie. Cerita para karakter Woody dan teman-temannya inilah yang bikin berdecak bagaimana para mainan ini berjuang kembali ke pemiliknya hingga akhirnya menemukan pemilik yang layak.

Dari sisi premis cerita memang dari Toy Story 1 menuju Toy Story 3 emang idenya dan konfliknya lebih rumit tapi pengemasan cerita petualangan Woody dan teman-temannya ini sungguh menggemaskan nan menyenangkan untuk dinikmati.

Looooooong story short, setelah 9 tahun, Pixar mengumumkan akan merilis lanjutan Toy Story, sekaligus menjadi akhir perjalanan dari Toy Story ini di Toy Story 4.

Bagi kami yang pernah tumbuh bersama petualangan Woody tentu sangat senang sekaligus cemas, karena ditakutkan Toy Story 4 akan menjatuhkan ekspektasi kami, di Toy Stor 3 sebenarnya sekuel ini sudah berakhir dengan manis, dimana Andy menyerahkan tongkat warisan “mainannya” kepada Bonnie, si gadis yang masih duduk di taman kanak-kanak.

Premis Toy Story 4 sebenarnya mirip dengan Toy Story 3, namun konfliknya berbeda, kali ini yang menghadapi konflik adalah Woody sendiri, ketika dia berbenturan kenangan masa lalu ketika bertemu dengan Bo Peep yang hadir kembali dengan tampilan yang 180 derajat, semua yang nonton pasti jatuh cinta dengan karakter ibu gembala, perempuan mandiri yang menjadi leader ini.

Bo Peep | Toy Story

Di sini juga ada karakter baru seperti Forky, Giggles, Sheeps, Bunny, Ducky, Gabby, Benson dan Dukee Caboom yang dapat jatah peran dalam cerita yang sangat pas namun dalam dan tidak dilebih-lebihkan apalagi sia-sia

Deliveri ceritanya juga sangat nyaman, dari awal hingga akhir tidak ada rasa bosan karena kejutan-kejutan yang ada di dalamnya, dari celetukan tidak masuk akal, jump scare sampai cerita-cerita yang dipatahkan.

Dan keunggulan dari Toy Story 4 ini adalah CGI nya, dengan detail menyerupai bentuk nyata, kamu rasanya hampir tidak percaya kalau itu hanya pengindraan dari CGI, Pixar tidak hanya menghadirkan ingatan masa lalu, tapi mengemasnya menjadi semakin elegan.

Ending yang tenang, konflik yang dibangun juga relevan dan tidak dibesar-besarkan, semua dikemas apik oleh Pixar.

To Infinity and Beyond

Film ini mampu membuat saya menahan tangis, walaupun belum memecahkan rekor dari film COCO, yang bikin diam-diam terisak menahan air mata karena malu dilihat orang sebelah. Tapi bukan berarti film ini punya ending yang tidak bagus, justru sebaliknya. Kesan perpisahan dari seorang teman yang sudah bersama dalam waktu yang sangat panjang, itu dalam dan bikin tentram.

Alhasil, Toy Story 4 menjadi film yang cocok ditonton untuk kamu yang ingin kembali ke lintasan masa lalu yang ingin bercerita dengan mainan, terlebih kalau kamu juga bertumbuh dengan film ini.

To Infinity and beyond.

Leave a Reply