Tiga Alasan Kenapa Kita Sulit Bahagia

Unsplash/quanlightwriter

Saat ini, kebahagiaan terlihat seperti barang yang super mahal. Bila dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu, pola kehidupan dan budaya masyarakat jaman now sudah banyak berubah. Kalau dilihat, orang-orang yang hidup lebih awal daripada kita, lebih bisa menerima diri mereka dan hidup menua dalam kebahagiaan.

Bila tidak percaya lihat saja para kakek nenekmu, meskipun hidup dalam keterbatasan, apa adanya, tidak mampu menggunakan smartphone, atau tidak tahu apa itu Youtube, Instagram, Twitter, tapi bukan berarti mereka tidak bahagia, justru malah mereka lah yang terlihat hidup lebih chills dan lebih gampang menerima hidup dan menjadi bahagia..

Bahkan sekarang ini, kebahagiaan sudah menjadi mata kuliah paling populer dan paling diminati oleh banyak orang. Harvard University punya kursus online tentang Happines, dan ini menjadi mata kuliah dengan paling banyak pendaftar dari berbagai negara.

Perkara mempunyai hidup yang bahagia ini memang sering disalahkaprahkan, sehingga tidak sedikit yang hidup dalam ketidakbahagiaan, apakah mereka benar-benar tidak bahagia? Sepertinya tidak seperti itu, banyak diantara mereka yang tidak bahagia karena adanya kekeliruan sejak kecil dan terus bertumbuh hingga dewasa nanti.

Bahwa masih banyak yang berpikir bahwa kebahagiaan tentang apa yang didapat, apa yang dipunya, bukan tentang keberadaan itu sendiri. Sehingga ada beberapa hal yang menurut saya menjadi alasan kenapa kita sekarang ini sulit untuk menjadi bahagia.

Kita selalu diajarkan bahwa kebahagiaan adalah tentang mengalahkan orang lain

Unsplash/zhenhappy
Happiness depends upon ourselves – Aristotle

Sejak kecil kita tanpa sadar diajari untuk mencapai puncak kebahagiaan kita harus terlebih dahulu berkompetisi, siapa yang menang dialah yang berhak bahagia atau mendapatkan penghargaan.

Waktu sekolah dasar (SD) kita dirangking untuk menunjukkan siapa yang paling pintar dan siapa yang paling bodoh, yang mendapatkan rangking 1 hingga harapan 3 diberikan penghargaan, sedangkan siswa lainnya hanya melihat sebagai penonton pertandingan hidup dan mengakui bahwa mereka dilahirkan sebagai loser, dan hidup terus berlanjut dengan apa yang terbentuk di waktu kecil.

Ketika SMP hingga SMA pun tidak jauh beda, semua dinilai dari kemampuan akademik, dirangking dan diberikan nomor tingkatan berdasarkan kemampuan dari mata pelajaran yang diterima di sekolah.

Tidak sampai di situ, sewaktu SMP atau SMA ada juga sekolah yang menerapkan sistem semua siswa yang dianggap pintar setelah melalui serangkaian tes, dikumpulkan menjadi satu kelas dan kemudian mereka berkompetisi tiap enam bulan untuk mencari siapa yang terpintar dari yang pintar, siapa yang terbaik dari kumpulan yang baik.

Mereka yang terbaik akan mendapatkan gelar juara umum, seolah-olah dunia ada dalam genggamannya, sedangkan mereka anak IPS merasa dunia sudah menghantam dia habis-habisan,

Unsplash/robbie36
Think of all the beauty still left around you and be happy – Anne Frank

Pola yang sama dan berulang lebih dari 12 tahun itu sudah membentuk pola pikir bahwa untuk bisa bahagia maka kamu harus mengalahkan orang lain, untuk bisa bahagia kamu harus menduduki tingkatan yang paling atas atau setidaknya dalam lingkup sepuluh besar. Untuk bisa bahagia ada serangkaian tes yang harus kamu persiapkan dan hadapi.

Sedangkan bagaimana dengan mereka berada di 10 besar paling belakang? Apakah meraka tidak pantas untuk bahagia?

Konsep cara berpikir inilah yang perlu diubah dari pondasi yang sudah terbentuk selama belasan tahun.

Di sekolah kita diajari menjadi berdaya dengan kepintaran kognitif, tidak ada yang salah dengan hal itu. Tapi di sekolah juga kita tidak dibekali pelajaran mengolah rasa, how to dealing with yourself, bagaimana mempunyai kemampuan untuk menaklukan ego diri sendiri, bagaimana cara kita menghadapi sebuah kekalahan.

Karena kalah bukan akhir dan kadang dari sana hidupmu kembali terlahir

Di sekolah kita belajar untuk memiliki mimpi dan berambisi meraih mimpi tersebut. Tidak salah, karena pencapaian demi pencapaian memang harus kamu perjuangkan, tapi kebahagiaan juga menjadi satu paket yang sama ketika kamu bertumbuh.

Saat dewasa, ada banyak hal yang perlu kita ketahui bahwa manusia tidak hanya tentang mimpi, tapi juga hati

Belajar mengalahkan diri sendiri, menaklukkan ego, mempunyai empati, itu jauh lebih bernilai dan penting daripada sekadar mengalakan orang lain. Dan kadang dari sana kamu menjumpai bahwa bahagia adalah harapan yang dilahirkan, bukan diusahakan.

Suka Terjebak dengan Masa Lalu

Unsplash/christianfregnan
If you find serenity and happiness, some may be jealous. Be happy anyway – Mother Theresa

Terjebak dengan masa lalu biasanya berkaitan dengan dua hal, luka dan trauma. Kedua hal ini membuat kamu percaya kamu tidak bisa bahagia. Luka dan trauma juga membuat hati kamu tersangkut dalam keadaan yang menyesakkan, bagaimana tidak di sisi ada luka yang dibuat, kamu juga harus melepaskan jerat erat itu.

Orang-orang yang terluka, mereka yang mempunyai trauma selalu tidak suka ketika dihadapkan dengan situasi yang mereka anggap merugikan diri mereka. Nyatanya situasi tersebut netral, namun pemahaman mereka yang tidak.

Satu masalah besar yang masih menyisakan luka dan trauma adalah perihal mengampuni dan melepaskan, padahal ini penting, Tidak bisa melepaskan dengan ikhlas, tidak mampu mengampuni itu seperti sedang meminum racun namun kamu berharap orang lain yang mati karena racun tersebut. Padahal nyatanya, kamu secara perlahan sedang membunuh dirimu sendiri.

Untuk semuanya itu, butuh waktu karena kamu harus lebih kuat dahulu.

Selain itu, isues jebak menjebak di masalalu juga kadang tidak luput dari sebuah sindrom aneh namun cukup menyakitkan, yakni Stockholm Syndrom, pernah dengar?

Stockholm syndrom adalah sebuah indikasi dimana seorang sandra/tawanan menyukai penjahat yang menawannya. Sama seperti kamu yang sudah dilukai oleh seseorang, namun kamu merasa kamu tidak bisa hidup tanpa dia, dan bila dia pergi dunia sudah berakhir, padahal dialah yang mengakhiri duniamu.

Ikatan semacam itu membuat kamu tidak bisa bahagia karena masih ada yang menjerat hatimu dan kamu tidak punya daya untuk melepaskannya. Lagi-lagi kita tidak dibekali bagaimana keluar dari keadaan seperti ini, dengan buta arah kita harus survive untuk melepaskan diri.

More Gratitute, More Space in Your Heart

Unsplash/simonmaage
Every day is a new day, and you’ll never be able to find happiness if you don’t move on – Carrie Underwood

Saat ini gratitute atau bersyukur sudah menjadi paranoia tersendiri, hal ini dikarenakan ada salah kaprah dengan pemahaman dan juga tujuan dari bersyukur itu sendiri. Banyak yang merasa bahwa bersyukur adalah sesuatu yang dipaksakan, padahal bersyukur adalah sesuatu yang dihadirkan. Belum lagi judgement orang-orang yang punya mental issues sering menjadi korban dari tuduhan bahwa mereka kurang bersyukur, ini jahat dan sangat salah.

Bersyukur punya spektrum dalam dimensinya sendiri dalam kehidupan, itu terkait tentang nilai bagaimana kamu menjalani kehidupan ini.

Kalau kamu tidak punya kemampuan untuk bersyukur dengan apa yang kamu punya, maka kamu juga akan sulit bersyukur dengan hal yang tidak kamu punya sekarang dan mungkin akan kamu punya di kemudian hari.

Bersyukur itu melegakan, membuat kita bisa bernapas lebih panjang, tidak dikejar-kejar waktu sibuk sana sini sampai lupa apa yang kita punyai; hati.

Begitu juga comparing, kita hidup di lingkungan yang suka sekari comparing hal-hal yang tidak kita punyai dengan mereka yang mempunyai sesuatu. Dari dulu bila ada tetangga punya tv baru, tidak lama kemudian tetangga yang lain punya tv baru. Ketika tetangga punya mobil baru, bila yang lain tidak mampu membeli mobil baru tersebut muncullah prasangka buruk darimana mereka bisa membeli mobil itu, apakah ngepet atau punya sugar daddy atau sugar mommy? Ngapain juga anjir ngurusin hidup orang lain.

Keseringan kita memperhatikan hidup orang lain, membuat kita lupa bahwa hidup diri kita sendiri harus diperhatikan.

Belum lagi social media issues, yang buat bersyukur kok makin berat saja.

Contoh paling sering tentang bagaimana comparing menghabisi hati kita sampai babak belur dan mencuri kelayakan bahwa kamu tidak pantas hidup bahagia.

Suatu ketika kamu sedang berlibur ke Jogja, di Jogja kamu sangat senang sekali karena Jogja dikenal dengan keromantisan kotanya, belum lagi banyak pantai yang bisa kamu kunjungi. Selama berlibur di Jogja, kamu tidak lupa untuk update Instagram baik itu stories maupun new post.

Tidak lama setelah itu, lewat Instagram juga kamu menemukan salah satu temanmu sedang berlibur ke Raja Ampat. Seberapa sering kita menjadi sebal dan lupa kalau kita sedang berlibur.

Kemudian di tempat yang berbeda, dia yang sedang berlibur ke Raja Ampat melihat satu feed dari teman yang lain yang menunjukkan kalau dia sedang berlibur ke Iceland, gitu aja terus sampai ladang gandum dihujani dengan cokelat dan jadi seral koko chiki.

Padahal tanpa disadari dia yang pergi ke Iceland sebenarnya sudah terlampau lelah dengan perjalanan kerjanya di Iceland dan hanya menginginkan bisa bersantai di kamar dengan menghabiskan waktu membaca buku.

Unsplash/logandj
For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness – Ralph Waldo Emerson

Atau, pada lebaran lalu kamu mendapatkan THR dalam jumlah yang cukup besar, lalu kamu senang dong mendapatkan tambahan pendapatan yang lumayan sesuai dengan kinerjamu di perusahaan. Lalu setelah itu kamu mendapatkan kabar bahwa bawahanmu juga mendapatkan bonus yang lebih besar dari yang kamu dapatkan, pada saat itu juga kamu merasa dunia seperti tidak adil, dan kesialan selalu menghampiri hidupmu. Padahal beberapa saat yang lalu kamu baru saja senang dan bersyukur dengan bonus yang kamu dapatkan.

Point is, bila kamu hidup dengan comparing sesuatu yang tidak kamu miliki saat itu, maka kamu akan kehilangan banyak hal, salah satunya kebahagiaan itu sendiri.

Nah, permasalahan memiliki hidup yang bahagia ini perlu kembali dibangun, karena dinding tebal stigma yang sudah berdiri mungkin susah untuk dihancurkan, namun perlu dilakukan.

Bicara tentang kebahagiaan itu bicara tentang banyak hal untuk hidupmu, mulai dari masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Ada hal-hal yang perlu diperbaiki hari ini untuk menuntaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu dan mempersiapkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Selamat menjadi bahagia

Leave a Reply