Tak Perlu Membuktikan Apapun

Pasca akun snapchat saya di block sama Nona, sempat menghela nafas panjaaaaaaaaaaaang. .
Sepertinya saya hina sekali di mata nya :3
Nyesek ?    sudah pasti iya
Kesel    ?   Ya mau gmna lagi ?
Perih    ?    sepertinya akan menjadi terbiasa
Sakit      ?    udah ga pake rasa-rasa sekarang mah

Beberapa saat ketika mengetahui hal itu, sebagai makhluk perasa (red. baper) batin sempet tergoncang, mood langsung berantakan, perasaan udah ga karuan lagi.

‘Gilaaaaaaa, ini udah parah banget, masa iya masih tetep dipertahankan’

Ada dua ekstrim yang saya pikiran saat itu.

  1. Saya akan tetap terus mempertahankan/memperjuangkan dia, pepet terus sampai Nona luluh.
  2. Saya akan buktikan ke dia, saya bisa bahagia tanpa dia, toh jumlah perempuan di dunia lebih banyak dari jumlah pria nya.

Puji Tuhan, saat itu saya masih sibuk ngurusin revisi skripsi sehabis sidang, jadi saya punya otak yang digunakan berpikir sedikit lebih panjang.

Just take self-control a few moment.
Roh Kudus bawa saya pada titik kesadaran penuh yang membuat saya berpikir cukup panjang dan cukup normal sehingga saya tidak melakukan hal yang bodoh (lagi), karena kata Ps. Bernard orang yang sedang kasmaran Intelegent Quality nya turun sekitar 30 poin, kasarnya kamu jadi bego.

 Dan pada akhirnya saya bisa menemukan jawaban apa yang harus saya lakukan.

1. Saya tidak perlu mempertahankan/memperjuangkan Nona, hingga dia luluh. Karena yang Tuhan perintahkan hanya tetap dampingi dia dalam do’a, bukan melakukan hal-hal yang aneh. Lagi pula, nama saya sudah di blacklist, toh buat apa, kalo apa yang saya lakukan ga ada harga nya dihadapan dia. maaf, saya ga se-asu– itu.

2. Mencoba membuktikan saya bisa bahagia tanpa dia dengan mencari wanita lain sebenarnya menunjukkan saya tidak bahagia. Dalam hati kecil saya berkata ‘kebahagiaanmu ga ditentukan oleh pasangan hidupmu, tapi respon yang keluar dari dalam hatimu’.
Kebahagiaan itu bukan karena apa yang terjadi diluar, tapi dari keputusan yang terjadi dari dalam. Daripada saya mencoba membuktikan saya baik-baik saja tanpa Nona itu sama saja motivasi saya sangat keliru, daripada melakukan hal dengan motivasi yang keliru, bagaimana kalo saya menikmati hidup yang Gusti Allah berikan pada saya ?. Bukan berarti saya sudah berhenti dengan Nona, sampai saat tulisan ini selesei ditulis, saya masih tetap berdoa buat Nona, saya belum menyerah, kerinduan saya Nona makin jatuh cinta sama Tuhan, udah gitu tok.Tapi untuk saat ini, saya masih bisa dan akan tetap bisa menikmati hidup saya, masih banyak buku yang ingin saya baca, masih banyak ide, pikiran yang akan saya tulis, masih ada gunung yang harus saya daki, masih banyak tempat-tempat terindah yang akan saya kunjungi. Saya ingin menikmati hidup saya.

Nyaris saja saya melakukan hal dengan motivasi yang keliru, tapi tidak jarang kita temui orang-orang yang melakukan sesuatu hal sebagai pembuktian kalau dia bisa namun dengan motivasi yang tidak tepat. Ada seseorang membuktikan dia biasa kaya dengan harta yang berlimpah, atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang fantastis untuk membuktikan kalau dia bisa mendapatkan hal tersebut tanpa memperdulikan hal-hal yang disekitarnya, hingga pada akhirnya, diujung hidupnya dia sadar hidupnya meaningless, dia tidak menikmati hidup yang sudah Gusti Allah berikan.

Banyak orang mempunyai ambisi kalau dia bisa membuktikan pada dunia yang berujung pada kesombongan dirinya sendiri. Saya tidak menyalahkan atau mempersalahkan hal-hal seperti itu, tapi cobalah untuk menikmati hidup anda. Memacu semua potensi yang ada daam hidup anda, berada ditempat dimana passionmu bekerja seutuhnya, dan menuntun hidup anda pada purpose yang Tuhan berikan dalam hidup anda.

Jadi, masih mau membuktikan kamu bisa tanpa Nona ?
hmm.  . . Saya akan tetap selalu berdoa buat Nona dan menikmati hidup saya

Leave a Reply