Stuck in the Bubble

Kemarin saya melakukan perjalanan dari Bengkulu ke Solo. Saya transit di Jakarta selama 1 malam dan memutuskan untuk tetap berada di Soetta dan melanjutkan penerbangan keesokan harinya. Tiba di Soetta pukul 15.30 WIB dan jadwal pesawat ke Solo pukul 09.00 WIB. Karena saya mempunyai waktu yang cukup lama, sore hari itu saya habiskan untuk hal-hal yang kurang berguna, makan, beli kopi, dan mengelilingi Terminal 2 beberapa kali seakan hendak meruntuhkan tembok Yerikho.

Saat hari mulai malam, orang yang ada di bandara mulai berkurang. Hal ini karena jadwal penerbangan terakhir hari itu pukul 19.30 WIB. Masih ada mereka yang akan terbang pukul 00.00 yang kebanyakan akan bertolak menuju Indonesia Timur. Tak lama setelah itu, terlintas di pikiran saya hal yang dulu sering saya lakukan, yakni mengamati orang-orang di sekitar. Saya mengimajinasikan bagaimana hidup mereka, in a good way tentunya.

Bisa dibilang bandara menjadi salah satu tempat yang tepat untuk kamu bisa bertemu dengan orang dari berbagai daerah dengan berbagai profesi. Ada penumpang yang sedang menunggu, petugas jaga bandara, pramusaji, penjaga toko, pilot dan pramugari yang baru tiba atau yang kembali bekerja melanjutkan tugas.

Damn, ternyata gue udah stuck in my bubble selama itu.

Tiba-tiba, saya tersadar jika saya sudah berada di dalam “bubble” zona yang nyaman dalam waktu yang cukup lama. Dua tahun terakhir, saya sedikit sekali kenal orang baru, pergi sendiri, mendengar cerita dari orang-orang baru, berbincang dengan stranger. Fyi, terakhir saya berbincang dengan stranger adalah saat saya ke psikolog. Sebelumnya, tentu sudah lama sekali tidak melakukan itu.

Saya pun menyadari sesuatu, bubble tempat saya hidup itu ternyata sangat super kecil. Dalam hati saya bergumam, penumpang ini punya hidup yang beda dengan penumpang yang itu, ada banyak pramugari lalu-lalang, tentu hidup mereka pun berbeda meskipun memiliki profesi yang sama. Tiba-tiba saja pikiran saya tertarik akan cerita-cerita itu. Selama ini, akhir-akhir ini, saya terlalu memfokuskan pada diri sendiri, berusaha untuk mengatasi masalah yang sebenarnya tidak tahu cara menyelesaikannya. Atau, saya masih belum mau untuk mengambil langkah itu.

Hari semakin malam, saya pun membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di Indomaret Point bandara. Sekitar pukul 12 malam, seorang anak muda duduk di dekat saya berbincang sebentar. Layaknya stranger dan saya sedang fokus bekerja, saya jawab sekedarnya saja.

Dia bercerita tentang panjangnya perjalanan dia dari Nias menuju Jogja yang saat ini terhenti di Jakarta. Rute yang dia tempuh pun Nias-Kualanamu, Medan-Soetta-Jogja. Tidak hanya rute yang panjang, pesawatnya pun mengalami delay selama enam jam. Yang harusnya take off dari Kualanamu pukul 16.00 WIB baru benar-benar terbang pukul 22.00 WIB dan tiba di Soetta sekitar pukul 24.00 WIB.

Tidak hanya sampai di situ, ternyata jadwal pesawatnya dari Jakarta menuju Jogja juga berubah, yang awalnya pagi menjadi pukul 12.00 WIB. Dia terlihat cukup kesal. Bagaimana tidak, tiba di Soetta pukul 24.00 WIB dan dia harus menunggu lagi 12 jam lagi untuk bisa terbang. Padahal, sebelumnya dia sudah menunggu 6 jam. Akhirnya, kusarankan untuk mendatangi Costumer Service maskapai.

Dia menitipkan tasnya yang cukup besar dan saya tetap melanjutkan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Akhirnya, pihak maskapai pun memutuskan dia memindahkan dia ke maskapai yang lain dengan jadwal yang lebih pagi.

Hari sudah semakin pagi, orang-orang yang ada di bandara pun mulai bertambah. Untungnya pekerjaan saya sudah selesai, saya pun menutup laptop dan hendak melakukan check-in. Kali ini, saya menitipkan tas kepada anak muda yang belum saya ketahui namanya.

Selesai melakukan check-in, saya kembali dan ternyata anak muda itu telah membelikan secangkir kopi untuk saya. Akhirnya, kita memutuskan untuk pergi ke smoking room karena waktu menunggu yang cukup lama. Di sana kita bertemu dengan bapak-bapak yang juga baru masuk. Kita pun mulai berbasa-basi mulai menanyakan asal dan tujuan.

Perbincangan pun mengalir ke banyak topik. Bapak itu bercerita bahwa dia sudah bekerja di perusahaan sawit selawa 23 tahun dan saat ini alih profesi ke sektor perkayuan. Seorang lainnya bercerita dia bekerja di proyek perancangan, pembuatan, pengawasan tower sinyal ponsel yang sudah bepergian ke berbagai penjuru Indonesia.

Pembicaraan kami saat itu terasa benar-benar hidup, mereka bercerita dengan begitu semangatnya tentang pengalaman hidupnya. Saya pun antusias mendengarkan dan sesekali membalasnya. Momen seperti itu sangatlah jarang dan saya tidak mau banyak cincong. Jiwa saya yang jenuh dengan hidup dan rasa sakit terasa kembali ter-charging mendengar cerita mereka yang sudah melalui banyak hal dalam hidup. Dalam hati saya berkata, “Man! Emang ini momennya. Lo udah terlalu lama hidup dalam bubble lo sendiri. Mulai ambil langkah awal. Mumpung masih tahun baru, kan.”

Perbincangan kami pun berakhir dengan jadwal pesawat yang sudah semakin dekat. Satu per satu mulai berpamitan dan kami berpisah dengan saling membagikan nomor WA. Kemungkinan buat berjumpa kembali sangat lah kecil, karena bandara hanya pemberhentian sementara. Pertemuan antar kami pun cukup singkat. Namun, saya menganggap bahwa pertemuan itu menjadi tanda sebuah awal yang baru di tahun 2021. Waktu saya di dalam bubble yang saya buat selama dua tahun terakhir seperti sudah cukup dan saatnya menjadi manusia yang lebih bebas lagi.

Leave a Reply