Review Film “Yo Wis Ben”

Sebenernya film Yo Wis Ben engga masuk dalam film list yang mau gue tonton di bulan ini. Setelah nonton Dilan sama Black Panther, film yang sedang gue tunggu adalah Love For Sale diproduseri sama Angga D Sasongko. Tapi beberapa hari yang lalu gue memutuskan untuk nonton film ini. Awalnya underrated, tapi setelah nonton, dari awal sampai akhir film ini benar-benar bagus, percaya deh.

Ada beberapa alasan kenapa gue nonton film ini, alasan pertama adalah mas Fajar Nugros dan @Goenrock. Kabar-kabarnya sih mas Fajar kalo nulis cerita film itu engga asal-asalan, terus jam terbangnya juga udah banyak banget (baru liat portofolionya wkwkwk) terus mas Goen Rock juga apik kalo merekam gambarnya. Saya ngikutin youtube sampeyan loh mas.

Alasan kedua adalah trailernya yang membuat penasaran, adegan-adegan penuh ‘makian’ cak cuk cak cuk, lambe, asu hadir dengan penuh kejujuran dalam keseharian orang jawa timur, lalu juga ada lawakan receh yang ditampilkan di trailernya ini

“San, Susan. . . . Leher kamu sakit ya ?”

Menerjemahkan kalimat dalam arti berkonotasi dengan tindakan literal itu bego banget wkwkwk. Trailernya aja udah pecah, gue pun masuk dalam lingkaran strategi marketing kejam itu.

Akhirnya, setelah diberi kesempatan ama kepala suku untuk nonton film, secara dadakan kita berangkat ke Transmart. Karena pergi mendadak, alhasil kita dapet kursi barisan nomor dua paling depan, nais (seenggaknya ga separah nonton Susah Sinyal kemarin sih).

tiket

Okay, Mari kita ceritakan pengalaman nonton film ini :

Semoga review ini ga terlalu banyak spoilernya ya teman-teman. Sebenarnya tau banyak spoilerpun ndak papa karena kekuatan dari film ini adalah dari komedi dan ‘makiannya’ nya bukan plot twist ceritanya.

Alur film Yo Wis Ben sendiri itu ga rumit, ceritanya juga ga lebay, seorang underdog, Bayu (Bayu Skak) yang ditolak cewe cantik (Devina Aurel) di sekolahnya. Alasan ditolak karena Bayu sendiri ga populer, miskin, ga pinter pokoknya label underdog ada di diri Bayu.

Ga lama setelah penolakan itu Bayu jatuh kesengsem lagi sama perempuan yang berbeda, Susan (Cut Meyriska). Berawal dari voice note Susan masuk di inbox Bayu, harapan-harapan itu mulai tumbuh sodara-sodara. Gue ngerti banget perasaan “chat berbalas” itu semriwing wkwkwkwk :P.

Bayu yang ingin merebut hati susan (Cut Meyriska), sang primadona di sekolah. Satu-satunya cara ya jadi populer. Btw, terima kasih sanget sama mas @goenrock yang meng-close-up pipi mbulnya mbak Susan, deg deg ser gue pas liat scene bagian itu. rasanya ingin tak kraus mas sangking gemesnya.

Cut Meyriska
Tuh Pipi (source : Movimax)

Bayu menceritakan keresahan dan keinginan dia kepada sahabatnya Doni (Joshua Suherman), begitu juga dengan Doni. Dari situ mereka memutuskan untuk membuat Band sebagi medium untuk membuktikan bahwa mereka pantas untuk diakui. Proses rekrutmenpun dibuat, satu-satunya yang mendaftar Cuma si Yayan (Tutus Thompson). Awalnya Bayu dan Doni ragu karena Yayan adalah seroang remaja masjid yang sholeh, keahliannya adalah MUKUL BEDUG wkwkwk. Tapi keraguan itupun sirna ketika Yayan dengan lihainya menggebuk PKI drum.

Oke, cukup buat Yayan. Selanjutnya Nando. Alasan Bayu dan Doni mendekati Nando karena Nando populer dikalangan perempuan, sudah ganteng jago main keyboard lagi. Mereka (Bayu, Doni, Yayan) menjalankan “misi” dari ide Yayan untuk menaklukkan Nando. Misi berhasil Nando masuk dalam bagian band. Mereka semua berlatar belakang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama ; menginginkan medium untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukanlah underdog. Setelah berdebat cukup panjang secara tidak sengaja nama Yo wis ben pun tercipta (watch the trailer).

Pertunjukkan pertama Yo wis ben gagal total, bukannya terkenal malah memalukan diri sendiri. Tak berhenti disana, Yo wis ben mencoba mencari cara lain menaikkan pamor mereka; YOUTUBE.

Mereka berhasil menjadi terkenal dengan view ‘ratusan’. Susan pun mulai membuka diri dan menjadi dekat dan semakin dekat dengan Bayu. Main conflict nya justru ketika tujuan Bayu membuat band itu sendiri tercapai ; mendapatkan perhatian dari Susan. Bayu menjadi sangat dekat dengan Susan tapi jadwal latihan menjadi kacau, bayu jadi berbohong dengan teman-temannya dan karena hal ini mereka menjadi pecah kongsi.

Delivery cerita ke dalam filmnya menurut gue udah bagus banget nget nget, dua hal yang gue rasa kurang kena itu bagian pas tiba-tiba Bayu dan Susan sudah pakai baju couple. Loh udah jadian? Gue kira masih pdkt. Satu lagi, pembentukan konflik dalam keluarga Doni kurang klimaks. Menurut gue sih nanggung banget, sedikit lagi bisa keren.

Selain itu semuanya dikemas apik banget. Jokes-jokes recehnya dan ungkapan penuh dengan caci-maki ini memang menyenangkan. Arek-arek suroboyo karo malang ini emang ahline urusan koyo ngene wkwkwkwk. Gue paling puas ketika Cut Meyriska dengan lantang teriak JANCOK (cantik-cantik mesuh :p ).

Lagi-lagi kekuatan film ini benar-benar pada komedi yang jujur dan tidak dipaksakan. Secara jujur kita menikmati scene tiap scene tanpa harus merasa garing. Dari awal hingga akhir memang benar-benar full of laugh, tak ada kebosanan sedikitpun. Adegan dan ungkapan komedi benar-benar terasa. Adegan favorit gue adalah masalah ncep men ncepkan :p

“SUDAH DI-NCEPKAN MAS BAYU”

Ledekan Doni (Joshua) ke Bayu Skak yang tiba-tiba menggunakan bahasa Indonesia. Ini kaya menyindir fenomena para pasangan pecinta baru yang tiba-tiba merubah tutur kata dan bahasa mereka yang dari gue elo ke aku kamu.

Yang ga disangka adalah scene di trailer “Susan, leher kamu sakit ya” di luar dugaan banget, okay gue ga mau spoiler bagian ini.

Adegan kolaborasi antara dentingan mangkok ayam jago dengan keheningan dan momen serius itu epic, dewa, keren banget. Disini gue mulai menyadari kejeniusan mas Fajar Nugros ini.

Komedi-komedi secara tersirat juga dimunculkan, seperti scene Yayan minum kuah dari mangkok pop mie, dan mereka pun cheers dengan 3 gelas vs 1 mangkok pop mie. Baju “Joshua kecil” yang dipake sama Tetran Muslim, dalam hati ngomong “anjir itu kan Jojo Joshua gambarnya” mungkin beberapa orang akan menyadari ini. Juga, callback disisipinnya lonceng dan “ibu” di Pengabdi setan itu bangke banget. wkwkwkwk

Walaupun ini adalah film komedi, nilai-nilai dalam film inipun tidak lenyap. Dari keluarga, persahabatan, perjuangan, yang sebenarnya familiar dalam kehidupan sehari-hari. Ya apalah arti sebuah film tanpa nilai kehidupan *ceilah. Kedekatan Ibu dengan bayu terlihat natural banget.

“Kalau kamu udah punya tujuan, ya diperjuangin”

kata orang tuanya Bayu menggunakan bahasa Jawa pada satu bagian adegan yang ada. Gue seketika langsung keinget sama ehm. . . dia.

Jadi ?

Apakah film ini layak ditonton ? Layak banget, kalian bakal nyesel ga nonton ini film. Walaupun bahasa yang digunakan itu Jawa timuran, tenang aja ada subtitle yang ngebantu dan juga jokesjokesnya sudah umum. Ga perlu pake mikir lagi. Kalian bakal dmanjain dengan gambar-gambar yang ga ngebosenin (mas Goenrock udah dewa masalah beginian mah)

Buat kalian yang rindu mencaci maki, tonton wae film iki cuk.

yowis-ben

Leave a Reply