Ramalan Cuaca, Kita Tidak Bisa Pastikan Kapan Hujan Turun

Dulu waktu masih SD gue sering banget nonton TV, saat itu satu-satunya siaran televisi baru ada TVRI, dan salah satu program yang sering ditayangkan adalah ramalan cuaca buat esok hari yang biasanya disiarin pas malem hari.

Gue sering banget nginget prakiraan cuaca untuk besok hari untuk membuktikan ramalan cuaca ini akurat apa tidak. Dan setelah keesokan harinya, ternyata ramalan cuaca yang ditayangkan oleh TVRI tidak akurat, pada malam dibilang hujan eh ternyata besoknya malah panas, ga ada hujan-hujannya.

Gitu juga sebaliknya, waktu diberitakan cuma panas atau berawan, eh malah turun hujan Sejak saat itu gue ga percaya sama prakiraan cuaca dari BMKG dan menyimpulkan cuma akal-akalan di salah satu lembagayang diurus negara tapi kinerjanya ga terlalu memuaskan aja.

Some people feel the rain. Others just get wet – Bob Marley

Belasan tahun kemudian, hari ini gue kerja sebagai Travel Jurnalist, karena sekarang lagi musim penghujan dan intensitas hujan udah makin tinggi, maka satu berita yang selalu gue buat ya prakiraan cuaca untuk esok hari. Ada dua keuntungan nulis berita prakiraan cuaca biar orang lain tau dan biar sendirinya juga tau. Dengan nulis ramalan cuaca esok hari tentunya gue tau daerah mana aja yang kemungkinan bakal hujan besok hari, termasuk di daerah gue sendiri, Solo.

Dan ternyata prakiraan cuaca yang disampaikan oleh BMKG pada hari ini punya keakuratan sampai 80 persen, ketika dikasih tahu Solo akan hujan ternyata besoknya hujan beneran. pas diramalkan hujan deras besoknya hujan deres beneran. Cuma akurasi waktu nya saja yang tidak diketahui, kadang pagi, kadang siang, kadang malam baru turun hujannya sama kaya kamu lah, akurat tapi gatau kapan munculnya.

Yang jelas. kalau besok diprakirakan Solo akan turun hujan, tentu gue udah siapin jas hujan di jok motor.

Kok bisa ramalan cuaca zaman dulu tidak akurat, berbeda dengan prakiraan cuaca di era sekarang ini?

The best thing one can do when it’s raining is to let it rain – Henry Wadsworth Longfellow

Nah buat yang tidak tahu, jaman dulu kita meramalkan cuaca dengan peralatan yang terbatas dan teknologi yang belum canggih dan literasi yang masih terbatas. Kita mmengukur curah hujan dengan tabung yang ada di tengah lapangan, tahu arah angin dengan bendera dan melihat awan pembawa hujan dengan teropong dan mata telanjang. Juga melihat bintang di langit buat yang nenek moyangnya seorang pelaut.

Dengan keadaan seperti itu tentunya kita tahu kalau ramalan cuaca di belasan tahun lalu masih terlalu rancu dan tidak akurat.

Namun saat ini, BMKG sudah menggunakan pengindraan di atas langit dengan menggunakan sistem satelit sehingga bisa terlihat jelas bentuk awan bahkan sampai kelembaban awan itu sendiri sehingga intensitas hujan bisa diperkiraan lebih akurat dibandingkan dengan waktu dahulu. Dengan peralatan yang memadai, teknologi yang berkembang dan pengetahuan yang progresif tentu memprakirakan esok hari akan turun hujan atau tidak menjadi lebih mudah dan lebih akurat.

Kalau besok Solo turun hujan, gue udah siapin jas hujan.

Semestinya juga dalam hidup kita bisa ngerti dan melihat prakiraan cuaca untuk hidup kita di esok hari dan beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun ke depan.

The way I see it, if you want the rainbow, you gotta put up with the rain- Dolly Parton

Karena kita ga akan selalu mengalami hari yang selalu cerah, matahari bersinar, angin sepoi-sepoi ilalang bertumbuh, burung berkicauan dan semua hal yang kamu harapkan.

Masih ada kondisi cuaca yang mau tidak mau suka tidak suka harus kita hadapi seperti hujan, angin kencang, berawan, badai, panas dan kemarau.

Kalau meramal cuaca bisa menggunakan alat yang canggih, mengamati awan dan angin dengan sistem penginderaan lewat satelit. Sehingga cuaca yang akan dihadapi menjadi lebih akurat dan kita bisa melakukan persiapan untuk meminimalisir badai hujan di esok hari.

Tentunya kita juga punya ‘alat kehidupan’ yang canggih juga agar cuaca-cuaca buruk dalam hidup kita di esok hari bisa kita hadapi.

Jangan sampai ketika hujan badai itu menyerang hidup kita, kita malah tidak siap dan tidak mempersiapkan apa-apa, efek negatif menyerang hidup kita yang sebenarnya bisa diminimalisir malah jadi tidak terkendali. Jangan sampai ketika akan membuat keputusan yang besar kamu malah tidak tahu konsekuensi-konsekuensi yang akan kamu hadapi.

Contohnya, kalau kamu ingin punya keluarga yang bahagia, persiapkan mental, keadaan finansial, emosional yang dewasa, jangan asal pilih pasangan, belajar berkomunikasi dengan baik, bagaimana meredakan konflik dengan cara yang benar dan masih banyak hal yang perlu di perhatikan.

Ingin sukses kerja keras, jangan menyerah, cari pengalaman, konsisten, lihat relasi, bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Ingin jadi atlet profesional ya terus berlatih, ingin traveling ke banyak tempat ya cari uang dan lihat kesempatan sebanyak mungkin, ada waktu tinggal berangkat.

If you think it’s going to rain, it will – Clint Eastwood

Sekarang tinggal tergantung bagaimana kita nya aja. Kita harus melakukan hal itu karena itulah yang jadi ‘jas hujan’ ketika ada badai di esok hari.

Perbedaan musim yang kita hadapi sebagai manusia dengan musim hujan yang terjadi di alam adalah ada musim yang harus kita hadapi dan ada cuaca yang kita ciptakan.

Hujan terjadi ga karena langit lagi pengen nurunin hujan dan tiba-tiba hujan turun gitu aja, atau karena langit melihat kamu sedih terus dia ikutan sedih juga dan jadilah hujan turun, itu cuma karangan anak indie, para pecinta senja dan penikmat kopi di pagi hari.

Hujan terjadi karena ada awan hangat yang berisi uap air terangkat menuju atmosfer, terus di langit sana terjadi proses kondensasi yang membuat uap air tersebut mengalami evaporasi atau pengembunan dan kemudian dari proses kondensasi tersebut partikel uap air akan menjadi titik-titik air yang mengendap dan membentuk awan.

Terus awan-awan tersebut menjadi tebal karena debu dan kristal garam yang ada di awan menjadi berat dan semakin berat sehingga titik air di awan jatuh kemudian menjadi hujan.

Itu belum campur tangan angin, titik kristal es, butiran salju dan segala macamnya yang menjelaskan kalau hujan emang enggak terjadi begitu saja.

And when it rains on your parade, look up rather than down. Without the rain, there would be no rainbow – Jerry Chin

Gitu juga dengan hujan di hidup kamu. Jangan sekali-kali kamu mencoba menciptakan hujanmu sendiri kalau kamu pun belum punya jas hujan kehidupan yang siaga.

Hidup yang tidak dipersiapkan dengan baik, seperti sedang mengumpulkan awan hangat yang terangkat menuju atmosfer kemudian mengalami proses kondensasi terus terjadi proses evaporasi hingga akhirnya titik-titik air di awan sudah tidak melebihi kapasitas dan akhirnya ‘hujan’ itu harus kamu hadapi. Belum ditambah dengan angin kencang yang bisa jadi badai, titik kristal es bahkan salju yang bikin kamu jadi ga bisa berkutik.

Sama seperti hujan di esok hari, kalo keadaan cuaca bisa diprediksi kenapa kamu ga mencoba memprediksi hidupmu juga? Lihat tanda-tanda awan di langit, buka aplikasi weather di ponselmu, kalau hujan akan turun kamu sudah siap, kalau hujan enggak turun kamu pun juga udah siap.Jadi, jangan sampai lupa bawa ‘jas hujan’ untuk kehidupanmu.

Dan mulai buat untuk menciptakan cuacamu sendiri tanpa harus menghadapi hujan yang secara tidak sengaja kamu ciptakan sendiri.

Leave a Reply