Punya Kekasih Beda Agama, Bolehkah ?

Sebuah perspektif dari sisi hukum, agama dan hati.

Pada saat pertama kali masuk kuliah di Universitas Diponegoro pada tahun 2011 yang dulu, Yanuar atau biasa dipanggil Nunu teman satu kost yang baru ku kenal mengatakan bahwa ada salah satu teman SMA nya yang satu jurusan dengan ku, ku tanya namanya siapa tau aku nanti bisa bertemu dan saling kenal.

“Namanya Rumbi,” kata Nunu.

Nama yang cukup unik dan tidak terlalu familiar di telinga ku untuk sebuah nama perempuan.

Karena kita sudah familiar dengan nama yang identik dengan perempuan, seperti Putri, Stephanie, Maria, Carolina bahkan Ribka ehe.

Tidak membutuhkan waktu yang lama aku bisa menemukan dan berkenalan dengan Rumbi.

“Kamu Rumbi ya, kenal dengan Nunu ga ?” tanyaku dengan salah tingkah

“Iya kenal, kok kamu kenal ?” Rumbi balik bertanya.

“Iya, dia temen satu kost ku, dia bilang kalau temennya ada yang satu jurusan sama aku, namanya Rumbi,”

Kita pun saling tahu karena berada satu jurusan namun beda kelas.

Tubuhnya yang kecil mungil, cantik, mengenakan jilbab, sedikit pendiam dan tutur katanya yang lembut dan halus ciri khas orang Jawa banget.

Sudah tahu, kita saling kenal, and damn saya suka sama dia.

Saya berusaha berbagai macam cara untuk bisa menjadi lebih dekat dengan dia, chat lah, sok kenal sok dekat lah, curi-curi kesempatan lah, namun hasilnya tetap sama, bahasa tubuhnya dia tidak ingin lebih dekat dengan saya.

Saya ditolak bahkan sebelum menyatakan cinta.

Dipikir-pikir, kalo saya jadi Rumbi pastinya saya juga bakal nolak lelaki jenis saya di tahun 2011 ini, udah sok, terlihat angkuh, jerawatan, poni udah seperti kangen band, dan jelek lagi.

Yaudah lah, ga ada yang bisa dipaksa juga, akhirnya saya menyibukkan diri dengan banyak kegiatan seperti di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) dan menjadi Volunteer di Satoe Atap, sebuah organisasi sosial yang konsen dibidang edukasi anak-anak jalanan dan miskin kota.

Tiba-tiba, saya lupa cerita lengkapnya saya dan Rumbi bisa dekat lagi tanpa adanya rekayasa.

Ada salah satu tulisan di blognya, meskipun tidak tertera tapi itu jelas bercerita tentang saya, kamu bisa baca di sini.

Long story short, kita menjadi semakin dekat dan sangat dekat, komunikasi semakin dekat, bahkan secara tersirat kita sudah sama-sama memanggil sayang dan kadang saling mencemaskan satu sama lain. Lampu hijau pun sudah menyala, tinggal satu langkah lagi sebuah status resmi ‘pacaran’ akan melekat pada kami.

Tapi aku berhenti dan mundur.

Karena kita beda agama.

Bukan tanpa alasan, sebuah perbedaan yang sudah jelas dan mendasar memisahkan kami yang sudah sangat dekat.

Saya seorang Kristen dan dia seorang Muslim.

Dan kini masing-masing di antara kami sudah baik-baik saja dan punya jalan sendiri-sendiri. Sesekali saya menghubungi dia dan menanyakan bagaimana progres thesis S2 nya di UGM. Kami masih berteman dan masih dekat.

 

Kisah cinta berbeda agama pasti tidak hanya saya sendiri yang mengalaminya, saya yakin masih banyak kisah-kisah nyata dua insan yang berbeda keyakinan. Darimana saya tahu ? ini sudah jadi persoalan umum, tak sedikit juga yang cerita dengan saya terkait cinta beda agama ini, mungkin kamu salah satu diantaranya.

Dahulu saya adalah salah satu orang Kristen yang cukup konservatis, sehingga meletakkan segala sesuatu hanya terbagi menjadi dua, HITAM dan PUTIH. Namun ternyata hidup bukan sekedar hitam dan putih atau hitam di atas putih dan sebaliknya. Justru kehidupan pada area abu-abu lebih banyak ditemukan, sehingga banyak orang-orang yang mengalami kebingungan terhadap pertanyaan-pertanyaan hidup yang mereka alami sendiri, termasuk tentang cinta beda agama ini.

Mari kita bahas satu-persatu dari berbagai aspek, semoga apa yang menjadi pemikiran saya bisa menjadi pemahaman yang lebih mendetail terkait persoalan ini. Jangan takut untuk bingung dan ragu, karena ketika saya menulis ini saya merasa ada keyakinan yang ragu akan menjadi pasti dan yang pasti akan meragu.

Kita mulai dari sisi yang netral, permasalahan hukum.

Hukum Indonesia belum ada mengatur tentang pernikahan beda agama. Pernikahan di Indonesia itu sendiri mempunyai dua aspek penting, sah secara pencatatan sipil dan sah secara agama. Dalam peraturanya pun tertulis bahwa orang yang menikah, harus melakukan janji pernikahan dalam suatu agama tertentu. Jadi tidak ada pernikahan beda agama secara catatan sipil.

Karena agama yang diakui oleh Indonesia ada 6 agama, jadi salah satu pernikahan yang sah secara pencatatan sipil harus disahkan oleh lembaga agama. Jadi ada satu pihak yang ikut dengan agama kekasihnya, dan terus kelewatan sampai lama wkwkwkwk.

Kalau masing-masing pasangan bersikukuh tetap pada keyakinannya dan tidak mau berpindah agama tapi mereka karena cinta akan melanjutkan hubungan ke pernikahan, salah satu cara mendapat catatan sipil yang sah terkait pernikahan mereka ya mereka harus menikah di luar negeri. Karena ada beberapa negara yang memperbolehkan menikah meskipun berbeda keyakinan, dengan regulasi yang lebih ribet dan biaya yang besar tentunya, gapapa kan cinta.

Setelah menikah di luar negeri, kamu pun akan mendapat akta pernikahan dan akta tersebut akan diakui oleh negara.

 

Lalu terkait masalah agama, secara pengajaran dalam masing-masing kitab, semua agama yang diakui di Indonesia melarang terjadinya pernikahan dengan yang berbeda keyakinan. Islam ada sedikit pengecualian, mohon koreksi kalau saya salah, Saya pernah tahu bahwa laki-laki Islam diperbolehkan menikah dengan perempuan bukan Islam, namun perempuan Islam tidak diperbolehkan untuk menikah dengan laki-laki yang bukan Islam.

Kekristenan lebih jelas lagi, baik laki maupun perempuan tidak boleh menikah dengan pasangan yang berbeda agama, alasannya karena perbedaan keyakinan/agama itu menunjukkan ketidaksepadanan, ketidasepadanan ini dikarenakan mereka menggunakan dayung panduan kehidupan yang berbeda, lebih mendasar lagi perbedaan kepercayaan itu dianalogikan oleh orang Kristen sebagai gelap dan terang yang jelas-jelas berada di dimensi yang berbeda dan tidak dapat bersatu, kalau terang ada gelap hilang, kalau gelap ada terang hilang.

Begitulah kira-kira ringkasan singkat mengenasai pasangan beda agama yang saya ketahui.

Sekarang kita masuk dalam pembahasan yang lebih penting dan substansial, ini akan sedikit lebih rumit, jadi jangan lupa pegangan.

Kenapa banyak terjadi sekali pacaran dan pernikahan beda agama ? satu-satunya alasan yang akan sering didengar adalah cinta. Ada banyak keyakinan tentang cinta yang bisa mengalahkan segala permasalahan di dunia, apakah itu salah ? tentu saja tidak.

Premisnya bisa disimpulkan seperti ini

  1. Kami berbeda keyakinan,
  2. Kami saling mencintai,
  3. Kami bahagia saling mencintai walaupun berbeda keyakinan,
  4. Karena kami bahagia saling mencintai kami walaupun dengan perbedaan keyakinan, kami ingin menikah.
  5. Dengan menikah, kami bisa hidup bersama dan menjadi lebih bahagia karena kami saling mencintai walaupun berbeda keyakinan.

Dengan kondisi seperti itu satu-satunya tujuan untuk pacaran dan menikah adalah kita semua ingin bahagia, masalah apa yang terjadi di kemudian hari akan menjadi persoalan lain, inti pertamanya adalah kita semua ingin bahagia dan kalau bisa bahagia bersama dengan orang yang kita cintai meskipun berbeda keyakinan.

Apakah dengan mempunyai pasangan dengan keyakinan yang sama bisa dipastikan akan bahagia ? tentu tidak, data mengatakan bahwa angka perceraian di Indonesia tiap tahunnya selalu meningkat, paling tidak dalam satu tahun ada 300 ribu pasangan yang menikah yang menginginan bercerai secara hukum.

Kemungkinan besar kasus perceraian yang terjadi bukan karena mempunyai keyakinan yang berbeda, tapi karena hal lain yang lebih esensial dari sekedar keyakinan.

Nah lalu apakah orang yang memutuskan berkomitmen namun dengan kepercayaan yang berbeda TIDAK akan bahagia dalam kehidupannya ? belum tentu juga.

Banyak kasus yang terjadi yang mengungkapkan pernikahan beda agama tidak berjalan dengan mulus dan berakhir bahagia, tetapi akan selalu ada kemungkinan meskipun sangat kecil meskipun beda agama bisa menjadi keluarga yang bahagia dan menyenangkan, dengan garis bawah dan tebal, kemungkinan ini sangat kecil sekali.

Kenapa ? karena kehidupan masyarakat Indonesia membawa narasi agama/keyakinan/kepercayaan yang sangat kuat, sehingga pola pikir yang terbentuk untuk menjalankan kehidupan hanya dari kitab agama dan tidak membuka dengan sudut pandang lain.

Padahal ayat dalam kitab itu bisa multitafsir, sehingga kita harus melihat konteksya baik dari sisi linguistik, budaya hingga relevansi kitab suci dengan kehidupan sekarang. Namun banyak sekali yang menerjemahkan kitab suci hanya sebatas teks harafiahnya saja, hal ini pun mengakibatkan banyak yang mempunyai cara berpikir yang sempit, termasuk tentang kebahagiaan itu sendiri.

Kalau yang menjadi landasan berpikir itu agama, jelas kita tidak akan menemui titik ujung keberhasilan dalam hubungan lintas agama, tapi apakah kita sudah mencoba membuka perspektif yang lain ? Karena sebenarnya agama bisa membuka banyak sudut pandang, jadi tidak hanya berputar pada satu area saja.

Orang-orang yang bahagia dengan hubungan mereka meskipun berbeda keyakinan, karena mereka mempunyai landasan berpikir dan bertindak yang berbeda. Orang-orang seperti ini cenderng lebih menghargai perbedaan tanpa harus menuntut dan tidak mempermasalahkan hal-hal yang tidak dianggap penting dalam hidup dia.

Ya kalau mau sama-sama menikah dengan bahagia, ayo, udah. Tanpa harus ada banyak embel-embel di belakangnya.

Sebenarnya yang menentukan kebahagian, komitmen dan segala hal yang terkait dengan hubungan antara dua insan adalah karakter, komitmen dan komunikasi. Karakter dan komitmen timbul dari dasar untuk berpikir. Apa yang menjadi landasan manusia berpikir tergantung dengan apa yang dia baca, dengar dan lihat. Kitab suci salah satunya bukan satu-satunya.

 

Apakah orang yang beragama sudah memiliki karakter dan komitmen yang baik ? Coba lihat sendiri terkait kondisi yang ada.

Apakah orang yang tidak beragama sudah pasti tidak memiliki karakter dan komitmen dengan baik ? Sudah pasti tidak atau emang kita membatasi dengan orang-orang seperti itu.

Agama menjadi salah satu media manusia untuk memperbaiki karakter dan menguatkan komitmen, tapi para pengikutnya banyak yang gagal. Agama tidak salah, beberapa pengikutnya saja yang bodoh menafsirkan kitab suci dengan tidak menghidupinya.

Sebagai salah satu media dan bukan berarti satu-satunya, kemerdekaan untuk berpikir adalah sebuah kemewahan tersendiri untuk sekarang ini. Dengan mempunyai kebebasan untuk berpikir kita mempunyai kemampuan untuk melihat suatu hal dari berbagai macam sudut pandang, termasuk juga dalam sisi agama.

Dengan memiliki berbagai macam sudut pandang, kita bisa mengolahnya sendiri dan membuat formula apa saja hal-hal penting yang dibutuhkan untuk mengelola sebuah hubungan yang sangat privat sesuai dengan being kita sendiri, dengan atau bukan dengan pasangan yang berbeda keyakinan.

Pada akhirnya, kebahagiaan dalam menjalin hubungan ditentukan dengan kepribadian kita sendiri, proses pembentukkan kepribadian bisa dari banyak hal, sesuai dengan lingkungan dimana kita berada dan hal apa saja yang kita baca, dengar dan lihat.

Nilai-nilai yang kita anutlah yang menjadikan kita sebagai pribadi yang seperti apa, termasuk bagaimana kita melihat hubungan yang sedang dijalani, apakah kita bisa berjalan dengan bahagia atau tidak, ditentukan nilai itu sendiri.

Kita bisa bahagia dan tidak, semua ada di dalam masing-masing pikiran kita. Butuh proses yang sangat panjang dan jalan yang terjal untuk bisa membentuk nilai itu sendiri. Kamu mau membangunnya atau hanya mengikuti arus yang lebih mudah, semua tergantung dengan keputusan masing-masing dari antara kita.

Leave a Reply