Psikologi atau HI (?)

Bulan April 2016 lalu, saya resmi keluar dari Universitas Diponegoro dengan menyandang gelar S.Hum (Sarjana Humoria). Sehari setelah itu juga saya resmi menjadi pengangguran terstruktur, massive dan sistematis dan menjadi beban negara.

Rencana awalnya adalah, lulus kuliah, kerja, menikah, punya anak dan menikmati hari tua. Namun hidup tidak semudah itu, kenyataan bahwa mencari pekerjaan untuk anak sastra tidak semudah mencari jarum dalam tumpukan jerami, iya karena sekarang ada benda yang namanya magnet yang memudahkan kita mencari benda-benda berunsur logam.

Kabar mengejutkan datang dari bos besar di rumah, mereka menyarankan (dengan paksaan) kalau saya harus melanjutkan sekolah S2. Setelah bergumul dengan cukup pelik akhirnya saya memutuskan nurut sama orang tua selaku sponsor utama.

Kenapa saya bergumul ? karena saya trauma kuliah di sastra Jepang yang ternyata bukan passion saya. Kuliah salah jurusan itu bukan sesuatu yang mengenakkan. Belum lagi ketika masa skripsi, setiap bimbingan saya selalu dibabat habis sama dosen kedua yang terkenal killer di jurusan. sekali dibabat mental break down, rasanya besok pengen buat surat DO aja.

Sastra Jepang adalah jurusan kedua saja, tahun sebelumnya saya sempat kuliah di Manajemen Unib. Merasa kuliah disana tanpa harapan dan masa depan saya mencoba ikut SNMPTN tulis tahun berikutnya. Ketika saat itu doa saya simpel “Tuhan, saya mau kuliah di UNDIP apapun jurusannya”

Doa sayapun di jawab sama Yang Maha Kuasa, Juli 2011 saya dinyatakan diterima di Universitas Diponegoro. Sayapun merantau sendirian dari Bengkulu menuju Semarang.

Empat setengah tahun berjalan, saya menyadari saya salah berdoa. Berada di jurusan yang salah serasa menjalani hidup di neraka pada setiap kuliahnya. Mau tidak mau harus di jalani dan diselesaikan.

Dan Puji Tuhan saya sudah menyelesaikannya dengan terseok-seok

Pengalaman itupun yang membuat saya trauma untuk melanjutkan kuliah lagi. Tapi dari pada saya di kutuk jadi batu kaya Malin Sialan itu, saya tunduk pada wakil Tuhan dalam hidup saya.

Belajar dari kesalahan yang lalu, saya menetapkan hati tidak akan melanjutkan kuliah yang berkaitan dengan ilmu linguistik atau bahasa Jepang.POKOKNYA TIDAK TITIK !!!

Menghindari dua jurusan itu, ada dua jurusan yang mucul di benak saya

Teologi dan Kedokteran.
Enggak deng, yang bener psikologi dan HI.

Awalnya saya sudah kekeuh untuk mengambil HI (Hubungan Internasional) namun akhir-akhir ini ke kekeuhan saya di jungkir balikkan. Bukannya tidak mendasar tapi banyak prespektive yang saya lihat dari kedua hal ini sehingga saya belum bisa memutuskan ambil jurusan yang mana.

PSIKOLOGI

Alasan kenapa saya memikirkan untuk mengambil jurusan ini adalah ketika dimasa kuliah sering banget teman-teman, kakak tingkat, adek tingkat, anak sekolah minggu, anak macan yang suka curhat sama saya.
Kak, aku mau cerita. .  .
Kak, aku baper (aku juga dek).
Kak, aku ga punya duit.
Kak, kok masih jombo ? *tendang kelaut*

Sangking seringnya, orang-orang gereja sudah hapal setiap ada orang baru di gereja yang duduk sendirian di ruang bawah, nyender dipojokkan, pasti nyari Kak Gigih. Sampe-sampe orang gereja seperti Bang Zan sampe Kaleb bilang kau itu harusnya kuliah jurusan psikolog.

WTF with this. Kalian ga gatau rasanya udah pindah jurusan dua kali, sekali lagi pindah jurusan bisa-bisa di coret dari kartu keluaga tanpa pesangon dan hak warisan.

Saya sendiri menyadari passion saya itu di Psikologi bagian konseling. Rasa nya suka aja mendengar curahan hati teman-teman one by one yang bicara secara terbuka yang terkesan frontal dan blak-blak an. Bisa di katakan saya itu pendengar yang baik.

Awalnya saya pikir insting psikologi saya bisa dilatih tanpa harus berada di meja perkuliahan apalagi se-level magister. Baca buku-buku cukuplah.

Namun ada peristiwa besar terjadi dalam hidup salah satu partner doa saya.Singkatnya dia bercerita tentang kondisi orang tua mantan gebetannya, eh salah gebetan mantannya, gebetan yang sudah jadi mantan. Apalah itu namanya.

Dia bercerita kalo kondisi apalah itu namanya dari luar terlihat sangat baik bahkan sempurna. Seorang pria ganteng, kaya, muda, pintar, berkarisma dan homo, namun kenyataannya tidak sesempurna itu. selalu ada goresan dan luka kecil dalam setiap kesempurnaan dari dunia.Ternyata orang tua dia (laki-laki) sudah berpisah negara 8 tahun. Lebih parahnya mereka masih terikat secara hukum namun sang ibu sudah punya pacar lain. Dengan bangga nya dia (sang ibu) memamerkan pacar barunya kepada khalayak ramai.

Saya hanya bisa terdiam geram dan kesal membaca chat dari sang partner.

Oh My God, they have brain but why too stupid . .

Masih di hari yang sama dengan waktu yang berbeda, saya pergi ngopy bersama partner ngopi saya. Seorang perempuan petualang tangguh, pecinta alam, dan hidup sesuka hati dia.

Biasanya banyak hal yang kita perbincangkan, dari hal yang ringan seperti kelakuan dosen pembimbing hari itu dan hal yang berat seperti perpolitikan Indonesa dan Tax Amnesty (ini beneran boong). Tapi, tak tau kenapa obrolan kita malam itu berbicara tentang keluarga dan berujung pada sang teman cerita tentang kondisi keluarga pacarnya.

Nyaris mirip dengan dengan cerita yang pertama. seputar suami istri yang bepisah namun yang ini hanya berpisah rumah yang berjarak beberapa gang namun tak pernah saling sapa lagi. Cinta yang dulu berada dalam komitmen menuju pernikahan sekarang tak tahu lagi hadirnya sang endorfin setelah bertahun-tahun menikah.

Dalam satu hari ada dua kisah nyata yang bikin saya gregetan dan mengusik nurani saya. Sebegitu mudahnya pasangan sekarang yang bercerai tanpa memikirkan apa hal penting yang sebenarnya sudah mereka buang.

Karena itulah saya ingin mengambil magister Psikologi, dengan tujuan saya bisa menganalisa karakter dan sifat dari manusia yang semakin kampret, dan membuat “sesuatu” untuk menyelamatkan dunia pasangan yang hubungannya sudah diujung tanduk. Sesuatu yang di mulai dari lingkungan terkecil dalam ekosistem manusia, sesuatu yang bernama keluarga.

Terlihat simpel tapi tidak mudah. OKE PSIKOLOGI

HI

Kenapa harus ambil HI ?
Pertama ini jurusan kalo di denger terlihat sangat keren, pamornya mengimbangi kedokteran (ini seriusan)
Eh lo kuliah apa ?
Hubungan Internasional. . . Jawab dengan penuh kebanggaan
HI menurutku salah satu jurusan yang keren.
Kedua. . .

i wanna flashback on november at 2011 ago, my serious firstborn. For the first time i trully believe God in Jesus’s name and let He totallyreign in my heart.

Ga sangka udah mau 5 tahun aja. Sebenernya kejadian ini udah lupa tapi teringat kembali saat setelah wisuda timbul pertanyaan.

what your purpose in life ?
what your mission and passion ?

Saya ingat, ketika titik balik dalam kehidupan saya, saya pernah menuliskan sebuah misi hidup saya. Salah satunya adalah menjadi mediator perdamaian untuk daerah/negara yang bersengketa.

Awalnya saya sudah lupa dengan hal ini, tapi kok tiba-tiba ingat ini. Babe pernah bilang jarang-jarang Tuhan kasih vision sedetail ini dan ini bukan yang biasa-biasa saja.

Dan sampai saat ini saya merasa ini bukan sesuatu yang terlintas dan hilang ditiup angin tanpa memberi makna, belum lagi momen mendapatkan vision itu bukan momen biasa, sebuah momen yang hanya sekali seumur hidup. Pokoknya itu sesuatu yang serius buatku. kalo ga percaya yaudah. (kok emosi sendiri)

Iya serius pokoknya ya.
Duh Gusti, aku kudu piye ?

Jalan tengah

Ada alternatif yang saya buat, pertama saya akan mendaftar matrikulasi psikologi bulan november-desember ini dan mengikuti perkuliahan persiapan menuju magister psikolgi. Lalu bulan Januari-Februari, saya akan mendaftar beasiswa LPDP jurusan HI UGM.

Kalau memang Tuhan suruh saya HI, pasti saya keterima LPDP (maksa), kalau tidak mungkin memang saya harus menyelamatkan banyak keluarga. Bagian saya adalah memperisapkan semuanya dengan sangat baik.

I just want to be my best version

Stay Calm and be brave

God Bless

Leave a Reply