Tidak Semua Bisa: Its Time to Select Your Partner

Sekalipun love language gue bukan word affirmation, tapi gue ngeliat banyak orang-orang di lingkungan gue yang down karena perkataan orang lain (ini kamu Dedelipet) yang bahkan engga peduli-peduli amat sama hidupnya.

Udah banyak banget orang-orang yang gue kenal sakit hati karena omongan orang lain, entah itu orang-orang dekatnya atau bahkan orang yang cuma sebatas kenal aja.

Bahkan perkataan-perkataan jahat itu disimpannya selama bertahun-tahun dan menjadikan sumber kebencian.

Ya emang kadang apa yang orang bilang tentang kita itu bener, dan kita harus mengakui hal itu, tentunya untuk ngakui hal yang ga enak kita denger itu ga mudah, kenapa ? ya EGO.

Sering kali berberapa dari kita juga enggak siap untuk mendengar hal yang kita rasa itu menyakitkan, terlepas dari benar atau tidaknya, kita kadang tidak menyaring informasi dengan benar. Semua yang orang katakan ditelan begitu saja tanpa ada proses intropeksi dan konfirmasi tentang kenyataan dari fakta itu.

Teman Setahun Sekali

Masalahnya kita ga bakal bisa mengatur apa yang akan orang katakan tentang kita, apalagi orang tersebut bukan orang yang benar-benar peduli sama kita. Dan ga sedikit yang ga suka karena prestasi dan semua yang kita lakukan.

Atau kita berharap lebih dengan orang yang terlihat perduli dengan diri kita namun sebenarnya mereka tidak perduli sama sekali.

Ga sedikit orang yang down bahkan sampai menanam benih kebencian dengan perkataan orang lain.

Selama ini gue selalu berusaha mengontrol lisan gue buat ga at least memfitnah orang. Sekalipun gue ngomong kasar itupun ga merujuk pada subjek manusia tapi pada kekesalan dari hal yang gue anggap bodoh.

Sebagai manusia yang ga bisa hidup sendirian sekalipun elo introvert, sudah saatnya elo punya lingkaran pertemanan yang mungkin ga banyak tapi kaliab bisa kenal in deep.

Personil Kufaku Band yang Dipecat

Dulu gue sama Nasya sempet posting foto dari photobox, captionnya “coba aja dulu, siapa tau jadi”. Dan ga lama setelah itu ada banyak yang mencoba mengkonfirmasi bahkan memberikan selamat, padahal mah gue sama Nasya temenan deket biasa aja.

Justru orang-orang yang deket sama gue, yang kenal bener malah ga merespon apa-apa, ya karena dah tau kalo gue kadang suka buat ulah.

Cari temen yang bisa memberikan vibe positif buat kehidupan lo, yang bisa membangun hidup lo lebih baik lagi bukan hanya sekedar untuk kumpul-kumpul, seneng-seneng, ketawa-ketawa dan becanda aja.

“Do makes you great, not (only) happy”

Gue pernah denger quote yang bilang ‘do makes you great, not happy’. Kutipan ini juga gue terapin dalam pertemanan, ada beberapa orang yang bisa diajak untuk bersenang-senang tapi ga bisa diajak untuk bertumbuh dan naik level di jalur yang sama dengan gue.

Karena semua punya garis hidupnya masing-masing, buat milih temen aja kita ga bisa random, apalagi nyari partner yang ngerti bahwa hidup harus terus bergerak dengan idealisme yang sama.

Tapi kalo bisa punya temen yang bisa diajak bekerja bersama, membangun sekaligus bisa bersenang-senang dan punya sense of humor yang sama itu jauh lebih baik, tapi biasanya sih ga banyak.

Cari temen yang bisa lo ajak travelling bukan cuma sekedar untuk ngisi feed Instagram  tapi jadi orang yang mengerti dan membiarkan lo bicara dengan diri dan hati lo sendiri, karena kadang kita memang butuh untuk ditemani tanpa harus dinasehati.

Cari temen yang bisa menjaga idealisme lo tetap bertahan, Tan Malaka pernah bilang kalau Idealisme itu kekayaan terakhir yang dimiliki oleh anak muda.

Mungkin idealisme ga buat kamu dapet duit dan bisa makan, tapi idealisme bisa ngasih tau jalan lo buat dapet uang.

Cari temen yang bisa mengatakan apa yang harus lo denger bukan apa yang ingin lo denger, karena banyak kampret dan cebong cuma pengen dapet backup dan pembenaran bukan kebenaran.

Dalam garis perjalanan hidupmu, kamu membutuhkan banyak sekali source yang bisa kamu jadikan acuan dalam memutuskan hal-hal yang penting.

Kamu butuh kebijaksanaan dan nasehat dari orang yang benar-benar ingin membangun hidup mu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tapi ga semua orang bisa kamu jadikan acuan, ga semua suara kamu harus dengerin, dan ga semua apa yang mau kamu denger bisa kamu terima.

Buat gue pribadi, cuma ada dua orang yang omongannya gue dengerin tanpa filterin sama sekali,  Mba Evi sama Tabitha Candy, kenapa ? karena kita dah saling mengenal selama bertahun-tahun dan pola cara berpikir dan melihat apa yang terjadi di sekitar itu relevan dengan apa yang gue rasakan dan gue liat.

Kalo ada apa-apa atau butuh saran, cerita dan masukan, pasti gue menghubungi dua orang ini.

Berkali-kali gue serasa ditampar sama Tabitha Candy ini, orangnya ceplas ceplos tapi apa yang dia omong ga pernah gue dapet dari orang lain. Kita bisa share berbagai macam hal, dari hal yang receh, mental illness sampe tentag stabilitas negara (it’s true).

Kita bisa ngobrol panjang lebar tentang hal-hal relijuis sampe disuruhnya aku nyoba rokok dan pergi ke club malam.

Bukan untuk menghancurkan gue, tapi kita punya value yang sama tentang kehidupan.

Even gue seenggaknya belum ngerokok karena pertimbangan organ tubuh gue belum siap untuk hal itu, dan belum pergi ke club karena mehong cin, mending uangnya disimpen dan dipake travelling atau apa kek.

Pasir Berbisik in Action

Gue dan Candy adalah orang yang berani menyebrang dari hal-hal yang mainstream dan normal ke area-area yang dianggap tabu oleh kalangan relijius, buat apa ? nilai dari peradaban manusia itu sendiri

Jadi ketika gue membeberkan ide aneh dan nyeleneh dimana orang-orang langsung ngelarang atau sedikit agak gimana, dia tanpa ragu buat nyuruh gue ngelakuin itu dengan peringatan-peringatan tentunya.

Disaat banyak orang ‘dewasa’ melarang nak anak untuk nakal, gue malah nyuruh mereka nakal dan eksplore untuk menemukan jati diri mereka asalkan dengan dua syarat, jangan main perempuan sama narkoba.

Value hidup yang gue sendiri anut ada tiga, asalkan elo ga mencuri, ga membunuh dan ga merendahkan harga diri orang lain, gausah denger suara-suara miring tentang hidup lo.

Dan elo harus punya prinsip sendiri. Prinsip-prinsip lahir dari apa yang elo liat, dengar dan baca. Dari buku, situasi keadaan, podcast, apapun itu termasuk orang-orang disekitar lo.

Karena orang-orang yang ada disekitar lo akan menentukan kemana arah hidup lo selanjutnya, mereka lah yang akan membentuk poa pikir dan sikap lo, jadi udah saatnya lo pilih temen yang mau lo jadikan partner untuk kedepan dan orang-rang yang sekedar hanya tahu dan kenal saja.

Sudah saatnya kedewasaan lo menentukan keputusan-keputusan dengan konsekuensi yang udah lo pertimbangkan.

Sudah saatnya, dan sekarang saatnya. 🙂

Leave a Reply