Perjalanan Paling Drama (Last)

Sebelumnya baca part satu dan dua nya dulu yha 
Arifah cerita tentang hatinya, and i really missed that’s moment :”)

DAN DAN DAN ternyata mereka sudah pulang duluan. Akhirnya kita pulanglah ke kost intan untuk istirahat dan bebersih, maklum coy dari kemarin engga pada mandi.

Istirahat sebentar terus kita makan.
 DRAMA KE 7 : Mau tidur dimana

Rencana kita mau camping lagi di kaliurang kayaknya harus dibatalkan, karena semua udah pada capek, belum lagi drama ditilang polisi sama ban bocor. Yaudahlah kita coba nginep di Jogja aja.

Rencana pertama : coba minta izin nginep di kost intan, nanti intan nginep di kontrakan arifah.
Rencana kedua : coba minta izin sama mas nya Arifah untuk nginep di kontrakan arifah yang islami itu, lalu arifah tidur di kost intan.
Rencana ketiga : coba minta izin sama yang Maha Kuasa, tidur di emperan Jogja.

Dan akhirnyaaaaa. .  kita tidur di. . .
.
.
STASIUN LEMPUYANGANehe
NTAPS JIWA.
Kok bisa ? Gini ceritanya

Jadi selesei makan, kita pergi ke Malioboro untuk izin sama ibu kostnya Intan, karena Ibu kostnya Intan buka lapak di jalan Malioboro. Skenario buat baik-baikin si ibu kost pun udah dibuat. Sampai di Malioboro, ada dua wanita itu coba berjuang untuk kami supaya bisa tidur dengan baik malam ini. Sedangkan gue sama ichsan cuma bisa berdoa menertawakan keadaan kami yang gatau mau tidur dimana.

Setelah cukup lama berunding dan baik-baikin si ibu kost, si ibu ga ngizinin kami untuk tidur di kost Intan. Apa daya, si Arifah coba buat ngubungin mas nya untuk minta izin, tapi masih ga direspon, katanya sih mas nya Arifah lagi ada event gitu.

Balik lagi ke kost Intan untuk sementara, nyari solusi selanjutnya.
“Fah, kereta dari Jogja ke Solo terakhir jam berapa ?” celetuk saya

Akhirnya, ada ide untuk naik kereta ke Solo dan bermalam minggu di Solo lalu balik ke Semarang subuhnya.

“Jam 9 ada gih” jawab Arifah sotoynya
Coba googling PRAMEX deh
DAN TERNYATA KERETA TERAKHIR ITU JAM 8 MALEM.
Masih ada setengah jam lebih sedikit untuk di jam 8.
DRAMA KE DELAPAN : LARI – LARI DI STASIUN TUGU

Dengan buru-buru kami ke stasiun tugu (karena itu paling deket). Sampai di stasiun langsung parkir dan lari masuk ke daerah loket pembayaran, saya lari dengan tas kerir dipunggung sambil nyangking tenda.

Udah salah gedung, harus balik ke gedung yang satunya. Kalau didokumentasikan pasti epic banget ini drama lari-lari. Yang ada dipikiran kami cuma bisa dapet tiket kereta ke Solo aja, ga lebih. Ga harus jadi mengagumkan *ehe

Sudah lari-lari drama disko, tapi sampai disana kami disambut dengan ucapan permintaan maaf.

Maaf tiket kereta terakhir ke solo sudah habis, tinggal besok pagi.

Yaudahlah, mau gimana lagi.  Kayaknya kami harus nginep di stasiun. Akhirnya waktu yang singkat di Jogja menjadi sedikit lebih panjang. Dari stasiun kita pergi buat ngembaliin barang yang terpaksa disewa sama Arifah. Terus pergi ke pasar malam itu.

Semua diluar perencanaan, rencana camping di kaliurang dibatalkan, dari nginep di jogja, pergi ke pasar malam, mampir di solo sampai nginep di stasiun, seru-seru pedih sih, tapi tetep bercampur dengan haru dan kelucuan.

Selesai ngembaliin peralatan perang naik gunung,  akhirnya kita pergi ke Sekaten, kebetulan malam ini adalah puncak dan malam terakhir sekaten di Jogja.

DRAMA KE SEMBILAN : SI IBU YANG BERKATA “KASAR”

Di pasar malam itu, si Intan dengan sesuka hatinya ngajak kita naik wahana, sejenis kora-kora di dufan tapi dalam versi ga amannya. Awalnya Arifah menolak ga ikut, kita rayu dengan manis. Kalo kamu ga ikut kita juga engga loh fah.

Akhirnya dengan terpaksa Arifah mengiyakan ajakan kami, tanpa dia sadari mengiyakan berarti dia sedang berjalan di bara api tanpa menggunakan alas kaki. Ga akan selamat fah.

Intan beli karcisnya, kami tinggal nunggu beres.

Setelah itu, kami semua siyaaaaap. Berada di depan, berhadapan dengan intan dan Arifah, sedangkan ichsan memilih paling belakang sama anak kecil yang songong itu.

IMG_5945
Arifah dan Intan masih bahagia, Icshan ada di belakang ono

Muka Arifah sudah pucat padam, padahal si kora-kora brengsek itu masih belum jalan. Sedikit demi sedikit. . awalnya pelan-pelan. Lama-lama mulai menggila. Mata Arifah sudah terlihat cemas dan  takut.

Ketika kora-kora sudah sampai puncaknya, Arifah menjerit bahagia. Maksudnya Arifah yang menjerit, kita yang berbahagia :”)

Lagi klimaks-klimaksnya, tiba-tiba gue teriak

“NGOMONG KASAAAR FAAAAAH BIAR PUAAASSSS”

Tanpa ditahan-tahan lagi Arifah menjerit

“KUUUUUCCHHHHYIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING AAAAAAAAAAAAAAAA”

Fyi, Arifah, Intan, Icshan ini termasuk golongan yang relijius. Cuma gue yang nakal sebenernya wkwkwkw

Masih kencang-kencangnya si kora berayun, tiba-tiba
“DEEEEEEEEEBBBBB”
Lampu penghias kora-kora laknat itu mati, ternyata mesinnya mati. MAMPUS.

“GUE GA MAU TAUUU, POKOKNYA INI HARUS BERHENTI SEKARANG JUGAA”

“GAMAU TAU CARANYA. HARUS BERHENTI”

“CUKUUUP, CUKUUUPP RHOMAAAAA”

Teriak Arifah tenggelam dalam ketakutan.

Si Mas – mas penjaga kora-kora berusaha menghentikan kora-kora DENGAN CARA MANUAL SODARA-SODARA.

Kora-kora berayun, dan mereka mencoba menghentikannya.  Pegel-pegel itu tangan nahan kora-kora wkwkwkwkwkw

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Muka ndak lolos sensor

Sedikit demi sedikit daya perahu sialan itu sudah mulai menurun dan akhirnya berhenti. Perut pun mual, mau muntah tapi ga bisa, jadinya kaya orang sakit, lemes layu, lunglai. Arifah masih pucat pucat trauma manis gitu, sedangkan Intan sama Ichsan santai-santai fine mereka berdua ; setan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Muka-muka trauma :”)

Abis ini kemana kita ? tanya Intan
“KITA MAKAN, TAPI JAUH-JAUH DARI SINI DEH, TERLALU RAME”

Sebagai anak introvert, dengan keadaan yang tidak fit, berada ditempat dengan keramaian orang-orang bukan sesuatu yang bagus. Kamipun menyingkir, dan mencari tempat makan yang agak jauhan dari keramaian. Dimana itu ? di deket kost nya si Intan. :”)

Kabar baiknya, tempat makan itu buka sampai larut makan. Jadi kami bisa makan sekaligus istirahat banyak, kami dari turun Andong sampai ke Jogja dengan berbagai drama yang terjadi seharian ini. Gue merebahkan diri dilantai, ga perduli apa yang mereka bertiga sedang lakukan.

Sudah jam 1 pagi kami ditempat makan itu, akhirnya kita pergi ke stasiun jam 1 pagi ke Lempuyangan. Setelah itu berpamitan ini yang kami tunggu kereta ke Solo jam 7 pagi, dan jam 1 kami sudah di Stasiun. Gila ga tuh.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Rencananya saya dan ichsan bergantian tidur, tapi kayaknya kita tidur bersama, dengan beralaskan sleeping bag. Dan bukan kami berdua aja yang nginep, ada beberapa orang lagi.

DRAMA KESEKIAN : COBA MELINTASI PORTAL MASUK YANG KETUTUP

Jam setengah 5 pagi, tiket sudah dibuka si Ichsan ternyata udah yang beli tiket kereta. tau-tau udah ada ditangan ituh tiket. Tapi portal penjagaan di dalam masih ditutup.

Tiba-tiba ada penumpang yang langsung masuk ke daerah nunggu kereta.
“Kayaknya kita bisa langsung nunggu disana deh gih” kata ichsan dengan sotoynya

Sebagai anak yang baik dan penurut, gue ngikutin saran si Ichsan, maklum anak s2 Hukum UI, apalah daya hamba ini :”)

Baru aja kita berhasil melewati portal, dari sebrang sana ada bapak satpam yang datang.
“Loh kalian kok sudah masuk kan belum dibuka ?” kata si bapak
“Mau izin sholat pak” Kata ichsan
“Izin disholatkan” balasku juga wkwkwkwk

Pak Satpam pun mengizinkan kami masuk, dengan syarat bakal balik lagi ruang tunggu. Kamipun mengiyakan, dan sebenernya ga balik ke ruang tunggu lagi wkwkwkw

Jam 7 pagi, keretapun sudah tiba, kamipun masuk kereta, ternyata sudah penuh. Mau tak mau gue dan ichsan harus berdiri. Beberapa jam kami berdiri, kami sampai juga di stasiun Balapan Solo.

Turun di stasiun, kita sarapan nasi sambel tumpang di depan stasiun. Kulineran di pinggir jalan Solo itu tetep juara pokoknya.

Selesai sarapan, kami berjalan ke terminal tirtonadi, lalu nunggu bis menuju semarang. 3 jam kemudian kami sampai di Semarang. Istirahat, bebersih, makan siang. Ichsan pamit untuk menemui temannya di Pleburan, dan saya siap-siap untuk perayaan natal.

Perjalanan paling drama ini selesai, dengan meninggalkan kesan dan persahabatan yang lebih erat. Rencana sudah dibuat, tapi semesta bertindak lain. Tapi kami senang, kami tertawa, kami berteriak, kami bersama.

Selamat merindu man-teman.
Untitled design

Leave a Reply