Perihal Firman Tuhan, akankah kekristenan berkompromi ?

AND BOOOM. .

Ahok sepertinya masih menjadi media darling di Indonesia, sekalipun berada di penjara dan tak bisa bersuara, pecinta dan pembencinya masih tetap sama berceloteh. kedua kubu terus saja lantang berkata-kata. Selalu saja ada topik yang terhubung dengan Ahok yang menjadi bahan pujian dan celaan bagi kedua kaum tersebut pada waktu yang sama.

surat
sumber : kompas

Kemarin ( 7 Januari 2018), berita penuh kotroversialpun muncul tanpa pernah disangka-sangka. Surat berita gugatan Pak Ahok kepada istrinya, Veronika Tan muncul di lini media massa online. Tidak main-main, portal berita besar seperti kompas, detik dan kumparan mengunggah berita gugatan perceraian ini.

Pada awalnya, netizen setengah percaya tidak percaya, ditengah derasnya arus berita hoax yang mengalir, banyak warganet yang meyakini bahwa berita itu hoax. Namun hari ini, diklarifikasi beberapa orang yang dekat dengan Ahok, dan berita tersebut benar. Dan terjadilah patah hati massal, pak Ahok dan bu Vero digadang-gadangkan menjadi pasangan favorit bagi anak muda (kristen khususnya) ini menjadi relationship goal buat mereka.

Kita bertemu di gereja, lalu menikah mempunyai anak, aku jadi penolong untuk orang miskin dan membereskan birokrasi pemerintahan. Dan kamu jadi penolong yang ada disampingku. . MATIK :”)

Tidak ada berita tentang tanda-tanda keretakan rumah tangga Pak Ahok. Hubungan antara keduanyapun terlihat sangat adem-ayem. Bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, berita ini membuat terkejut semua pihak.

chair-1940973_960_720
source : pixabay

Banyak sekali spekulasi yang bermunculan di sosial media. ada yang mengatakan Pak Ahok sudah menjadi mualaf J. Ada kabar juga berkata pak Ahok ingin menyelamatkan istri dan anak-anaknya sebelum terjun dalam dunia politik kembali. Ada juga kabar burung yang memberitakan bahwa pak Ahok akan berpolitik kembali setelah keluar dari penjara, karena istrinya tidak menyetujui akhirnya jalan terakhir adalah cerai. Ada juga yang menyamakan pak Ahok dengan Vladimir Putin (presiden rusia) dan Nelson Mandela (tokoh Afrika) yang menceraikan istrinya untuk mengabdi pada negara dan kemanusiaan.

Banyak yang menyesalkan keputusan ini, terlebih para Ahokers. Keputusan yang diambil pak Ahok kali ini salah, tidak sesuai dengan Firman Tuhan and blah blah blah. Apapun itu keputusannya, sepertinya pak Ahok sudah memutuskan dengan pertimbangan yang matang dan detail, dan siap dengan konsekuensi yang akan diterimanya di waktu yang akan datang. Dilihat dari sisi agama dan kerohanian pak Ahok (kalau tidak salah) sudah 20 kali katam baca Alkitab (aing baru dua kali aja udah ngos-ngosan, buk tuluuung). Tentunya keputusan ini termasuk kedalam perjalanan spiritual dari pak Ahok sendiri.

Apakah pak Ahok mendengar suara Allah untuk menceraikan bu Vero ? wkwkwk
Okay, selesai dengan spekulasi Ahok ini. Saya melihat ada hal yang menarik tenang kejadian ini : Perceraian dan Kekristenan.
Kekristenan menentang keras perihal perceraian. Tertulis nyata dalam Alkitab sendiri

karena itu, apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia
– Markus 10 :9

Masih banyak ayat-ayat yang menyatakan larangan untuk bercerai.

book-2645150_960_720
Pixabay

Tapi bagaimana seharusnya kita menanggapi dari semua ayat-ayat suci itu ? Apakah kalo diantara satu pihak yang menjadi korban harrasment dari pasangannya, tidak layakkah dia untuk menggugat cerai pasangannya ? ataukah harus tetap setia dan bertahan hingga pasangannya diubahkan ? ehe 🙂

Ada anggapan, bahwa apa yang tertulis di dalam kitab suci, itulah yang yang harus dipatuhi, setiap perintah dan larangan yang tertulis, tanpa pikir panjang harus kita laksanakan tanpa ada pertimbangan dari beberapa faktor yang terhubung.

Lalu, kalau begitu, bagaimana dengan 1 Korintus 11 :5-6

Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat   dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.  Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.

Maka seharusnya SEMUA perempuan kristen harus menudungi kepalanya alias berhiijab wkwkwk.

Ada lagi nih yang seru

Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat – 1 Korintus 14:34

If we read the word literally, berarti ada pembungkaman terhadap hak-hak perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Ye kan ?
Ada yang keliru atau ini pemakaian standar ganda ?
Disclaimer dulu deh ya.

i do not want to criticize God’s words, i just wanna to reveal bible, so you can read it with perspektive. Saya tidak menyerang Alkitab, itu ayat terlalu suci buat saya, thank God, yang sudah melayakkan kita untuk menerima perkataanNya.

Namun, perkataanNya yang tertulis, tidak hadir begitu saja lalu dipatuhi. Contonya, perihal makanan haram, tatto dan rokok.

Dalam perjanjian lama, banyak sekali makanan diharamkan oleh Tuhan. Bukan cuma babi bi, tapi bermacam-macam binatang seperti kelinci belut. lele, seafood dan jeroan. Semua makanan itu diharamkan dalam perjanjian lama. Tapi dalam perjanjian baru apa yang sudah dihalalkan oleh Tuhan. Walaupun dalam konteks antropologi pengharaman babi itu bukan karena perkara kerohani, tapi populasi babi di timur tengah yang semakin berkurang (ada jurnal antropologi yang membahas ini, tapi aing lupa). Lalu juga,  lele, belut, dan beberapa hewan haram lainya, mereka diharamkan bukan karena aturan tertulis tanpa alasan, namun karena hewan-hewan tersebut tidak patut dikonsumsi dengan alasan ke-higenisan pada masa itu.

Adanya perubahan aturan dari perjanjian lama dan baru, menandakan ada konteks yang hadir dalam turunnya ayat-ayat Alkitab. Tidak hanya konteks, namun juga perspektive, bicara tentang relevan atau tidaknya bila ayat-ayat tersebut diterjemahkan pada zaman yang berbeda. Sebagai contoh masalah TATTO dan ROKOK.

Kita akan masuk dalam ranah yang lebih seru lagi wkwkwkwkw. Ada pelarangan untuk menatto tubuh dalam Alkitab di perjanjian lama.

Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN” – Imamat 19:28

Dalam perjanjian baru isu tentang tatto tidak pernah dibahas. Namun dalih pelarangan menatto tubuh sama seperti rokok : tubuh mu adalah bait Allah.

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah  dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? – 1 Kor 3:16

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait  Roh Kudus   yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! – 1 Korintus 6:19-20

Menggunakan isu bahwa tubuh kita adalah bait Allah, sehingga seharusnya kita tidak boleh merusak tubuh kita dengan rokok dan tatto sedikit salah sasaran. Tatto awalnya tidak aman bagi tubuh karena ada pembuluh darah yang disumbat, namun sekarang teknologi tatto sudah semakin maju, apakah masih terlarang ?

Rokok digadang-gadangkan sebagai pembunuh nomor satu di dunia, menyebabkan banyak penyakit, jantung, paru-paru, impotensi, dll. Semua akibat dari rokok banyak merugikan tubuh. Karena tubuh adalah bait Allah, kita seharusnya menjaganya dari banyak penyakit yang mematikan. Ya kan ?

Seharusnya, kalau rokok dilarang karena efek kesehatan, kita juga (seharusnya) melarang makanan junkfood dan gula. Kenapa ? karena obesitas tercatat sebagai pembunuh nomor 5 di dunia, sedangkan gula berada pada peringkat 3 di dunia.

colorful-doodle-3042581_960_720
Junkfood. Source : pixabay

Rokok, gula dan makanan cepat saji adalah pembunuh dalam 5 besar di dunia. Jadi kenapa banyak pendeta selalu berbicara lantang tentang rokok namun terliat diam dengan topik junkfood dan perihal gula. Kalau konteks yang diambil adalah perkara kesehatan, seharusnya semuanya sama.

Anw saya sendiri tidak merokok, mengusahakan tidak makan junkfood, (belum) beratto, dan selalu minum banyak air putih (thanks bu dokter sudah mengingatkan saya).

Dulu pernah saya tuliskan disini, bahwa :

“Banyak yang menerjemahkan ayat-ayat suci secara literal apa yang tertulis tanpa melihat bagaimana ayat-ayat tersebut diturunkan. Tanpa melihat konteks ayat diturunkan akan menghasilkan multitafsir yang sangat berbahaya. Tafsiran yang salah, lalu dipercaya sebagai perintah yang empunya kuasa akan menghasilkan kekacauan demi kekacauan.

Penting sekali menafsirkan bagaimana ayat itu diturunkan. teks ayat-ayat suci tanpa konteks hanyalah kata-kata dalam ruang hampa belaka. Kita musti memahami bagaimana konteks dari sebuah ayat suci; bagaimana ayat itu bisa diturunkan, situasi apa yang sedang terjadi pada masa tersebut, bagaimana relevansinya dengan keadaan sekarang ini.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, pembacaan Firman Tuhan sudah seharusnya melihat  konteks, perspektive, relevansi, tafsiran dan pertolongan Roh Kudus tentunya.

Jadi, apakah perceraian diperbolehkan sekarang ?
.
Pikir aja sendiri. . . ehe

Leave a Reply