Pendakian Sumbing; seberat apapun rintangan di depanmu, jangan pernah menyerah

Saat tulisan ini sedang ditulis, jam sudah menunjukkan pukul 21:56 WIB. Ditemani dengan segelas chocolatos hangat dan soundtrack dari film Gie. Saya mencoba flashback menuju kenangan di masa lalu, merasakan rindu dari puncak dan dinginnya udara pegunungan. Sudah lama sekali tidak pergi mendaki ke gunung yang tinggi. Bukan tidak ada waktu, tapi tidak ada teman. Perkumpulan rahasia kami “PURAPALA-SU” sudah berada di tempat yang berbeda dengan hidup mereka masing-masing, bukan mati ya, tapi emang sudah beda kota kita.  Saya di Semarang, Riki di Jakarta, Blu di Tegal, dan Rara di Wonosobo. Walaupun kami sudah berada di kota yang berbeda, perjalanan yang pernah kami lewati aku berada di tempat yang sama : hati

Kalau ada satu perjalanan pendakian yang paling berkesan tentu saja itu pendakian Gunung Sumbing. Bukan karena perjalanan yang indah, menyenangkan dan penuh tawa, namun justru ini pendakian yang paling berat dan hampir saja merenggang nyawa. Di pendakian ini lah saya banyak belajar tentang banyak hal, tentang mempersiapkan diri, tentang kehidupan, tentang memperdulikan sesama, tentang tidak menjadi manja, mempercayakan bahwa Tuhan itu baik, dan lagi-lagi pelajaran tentang banyak hal.

Ku sruput coklat panas, dan mulai kembali ke masa lalu dalam ingatan yang semoga saja masih tersimpan rapih. Seperti kata Moammar Emka, menulis itu bekerja untuk keabadian. Saya ingin menulis ini supaya pengalaman ini menjadi abadi, tersimpan, dan tidak hilang. Perjalanan, pertemanan, pengalaman, pelajaran yang diharapkan kan tetap ada. Walaupun nanti beberapa tahun lagi kita (Purapala-su) sudah menjadi semakin sendiri, menikah dan bersama dengan orang yang kita cintai (but not for riki wkwkwkwk), tapi seenggaknya ada hal yang bisa diingat kalau kita pernah bersama (Rara, Riki, Blu thanks pernah jadi bagian perjalanan yang paling nggilani).

By the way, perkenalkan dulu rekan mendaki saya, Riki Setiabudi, Dwi Intan Mutiara Biru, dan Amira duh aku lali jenengmu ik ra wkkwkwk. Kebetulan kita di satu kampus yang sama, hanya beda jurusan. Riki dan Blu (Dwi Intan) di Ilmu Perpustakaan dan Amira dan saya di sastra Jepang. Kebetulan Riki ini dulu sempet suka sama Rara (panggilan Amira) *eh, dan kita bertemu di pendakian gunung Merbabu, sebulan sebelum pendakian gunung Sumbing.

IMG_20150827_121720
Kuartet Purapala-su (Amira, Blu, Riki dan Saya)

Setelah mendaki merbabu, kami merencanakan pendakian dengan kelompok yang lebih kecil, saat itu baru saya, rara dan riki, karena tidak enak kalo ganjil, maka Riki mengajak Blu untuk ikut mendaki. Ini adalah cikal-bakal dari Purapala-su. Purapala-su sendiri adalah akronim dari beberapa hal, seperti Pura-Pura Pencinta Alam, karena kami tidak tergabung dengan kelompok mapala beneran hanya untuk suka-suka aja, atau organisasi pencinta alam sejenisnya. Ini adalah pure persahabatan pendakian yang independen dan sok berani. Kedua, kita mendapatkan akronim yang menggambarkan kita banget, Purapala-su ; Pencinta Alam Paling Lama (naiknya). Pengalaman mendaki bersama, kelompok kami adalah yang paling lama kalau mendaki, kalau estimasi normal hanya 6 jam, kita bisa sampe 8-10 jam sendiri, maklum kami membawa siput sama gajah kalo lagi mendaki. Belum lagi si Rara, ada ada aja penyakitnya yang dibawa ketika mendaki, pernah di Merbabu dia kena asma, di sumbing pas lagi dateng bulan dan di Sindoro kena Ambeyen. DITAPOK RIKI SISAN BOKONG E WAHAHAHAHA. NTAPS kali ( i know you so well ra)

Okay, cukup perkenalan kelompok aneh ini, kembali ke tulisan utama ini. Setelah pendakian ke Merbabu, kami mulai sok-sok an gunung manalagi yang akan kami taklukkan. Awalnya gunung Merapi menjadi pilihan kami, karena lokasi gunung itu sendiri tidak terlalu jauh dari Semarang. Namun, beberapa hari sebelum hari-H ada pemberitahuan bahwa gunung Merapi ditutup untuk sementara waktu, karena Merapi sedang “batuk’’ akibat siklus tahunan merapi sendiri. Kamipun memikirkan alternatif pengganti dan berujung pada gunung Sindoro dan Sumbing. Akhirnya kami memutuskan pergi ke gunung Sumbing, alasannya karena kami semua belum pernah pergi kesana, percayalah itu adalah alasan terbodoh yang kami buat.

Pendakian sumbing adalah pendakian pertama dari purapala-su sendiri. Kita berangkat dari Semarang jumat malam, dengan rencana sampai basecamp malam itu, tidur besok pagi nya kami melakukan pendakian. Kebetulan kami mendaki via Garung, jalur yang sudah terkenal dikalangan pendaki, karena jarak basecamp dengan jalan rayanya deket banget. Garung ini terletak diantara perbatasan Temanggung dan Wonosobo. Dari Temanggung kearah Parakan ikuti saja alurnya menuju Wonosobo. Tak lama setelah gapura Garung, di sebelah kiri ada jalan masuk kedalam. Perjalanan dari Semarang – Temanggung/Garung kurang lebih selama tiga jam. Waktu yang cukup untuk membuat pantat kami tepos. Sesampainya di basecamp pendakian, kami langsung registrasi, lalu membuka sleeping bag untuk bersiap untuk tidur, namun ternyata Amira dan Riki kelaparan. Mereka berdua pergi keluar untuk membeli “tempe kemul”. Dan Tempe Kemul ini benar-benar jahanam, dinikmati di malam hari dengan rawit wonosobo yang pedes bedes gila itu memang perpaduan yang tak bisa mendustakan surga. Selagi menikmati tempe kemul, kami bercengkrama dan main UNO. Bercanda, tertawa, saling memaki, padahal kita baru saja saling mengenal, tapi rasanya sudah lama sekali kenalnya.

Tempe kemulnya habis, habis juga tenaga kami. Kami beristirahat karena besok akan menghadapi perjalanan yang suangaaattt puanjaaaaaang

Diulang

SUANGAAAAAATTT PUANJAAAAAANGG

 

Jumat Pagi

Pagi itu sungguh menggairahkan, kita bangun sangat pagi, Riki, Blu dan Rara Sholat Subuh, dan saya (sholat jenazah *ehe) masih ena-ena di sleeping bag saja.

Udah jam 6 pagi, kami merasakan dingin dan sejuknya kaki pegunungan, langit pagi itu lagi cerah banget, gunung sindoro dan sumbing terlihat berdiri dengan gagahnya.

“wah. . . kayak e cuaca bakal bersahabat ki” kata kami

Langit bersih dari polusi udara, tidak ada tanda-tanda bakal turun hujan.

“kayaknya kita ga perlu bawa jas hujan deh, cuacanya bagus gini” kata salah satu teman kami.

“Iya, baju ganti mending ditingga di basecamp aja daripada mberat-mberati bawaan”.

“yaudah, kita bawa dua jas hujan aja buat jaga-jaga, aku sama Blu yang bakal bawa”. Sungguh ini adalah nalar yang goblo, kita berempat bawa dua jas hujan, kalo hujan ya tetep kehujanan.

Akibat kesotoyan kami tentang alam dan cuaca (maklum masih pemula), meninggalkan jas hujan dan baju ganti di basecamp adalah penyesalan yang besar beberapa jam kemudian.

Kamipun berkemas dan mulai berangkat mendaki jam 7 pagi.

Bertolak dari basecamp pendakian, kami mulai berjalan menyisiri perkampungan yang cukup panjang dan kamu tiba di perkebunan kubis. Wajah-wajah kami sangat bersemangat melihat yang ijo-ijo. Jarang sekali berada dihamparan perkebunan yang maha luas ini, mata kami dimanjakan dengan lanscape yang begitu menakjubkan.

Saat-saat awal kami menjejaki perkebunan kubis itu aura bersemangat kami sangat luar biasa, hingga kami akhirnya sadar

BUTUH TIGA JAM UNTUK MELINTASI PERKEBUNAN SIALAN ITU.

YA TUHAAAN INI KEBUN KOK GA KELAR-KELAR. .

TIGA JAM MEN. . .

MUAK AQUTU DENGAN KEBUN KUBIS INI LOH.

Kalo dibuat persamaan, tiga jam perjalanan itu setara naik motor dari semarang sampai jogja, lah kita masih di kebun-kebun ini juga.

Beberapa kali kami beristirahat dan berjalan lagi. . dua jam berlalu akhirnya kami sampai di pos satu.
POS SATUUUU.
Ini baru awal penyiksaaan.

Dari pos satu kami melanjutkan ke pos dua (Genus). Trek pendakian dari pos satu menuju Genus MASIH CUKUP manusiawi, jalannya tidak begitu menanjak kadang ada jalan mendatarnya meskipun tak banyak. Lagi-lagi kami butuh dua jam untuk bisa sampai di pos dua.

Dari pos dua (genus) menuju pos tiga (seduplak roto), nah mulai dari sini lah alur jalan yang kami lalui mulai jahanam. Jalan menanjak kadang kami harus merangkak. Tidak ada bonus jalan lurus sama sekali. TIDAK ADA. Jangan pernah berharap ada keajaiban di titik ini, satu-satunya keajaiban adalah dirimu sendiri.

Sudah hampir 5 jam perjalanan kami lewati, tapi setengah perjalananpun masih belum. Tenaga sudah mulai terkuras, apalagi aku dan riki, karena kita bawa kulkas, bukan deng tapi tas carrier, yang mayan berat.

Setelah sampai pos tiga, seduplak roto. Titik poin selanjutnya adalah pestan alias pasar setan, katanya sih ini tempat paling angker di gunung sumbing, kataya jangan sampai kita mengucap kata yang aneh-aneh dan tak boleh buang air kecil disana.

1484238485767

Dari pos seduplak roto, tiba-tiba langit menjadi gelap, padahal masih siang. Ga lama setelah itu hujan mulai turun. Kami berempat ingat kami hanya membawa dua jas hujan, dua lainnya tertinggal di motor.

MAMPUS !!!.

Di pertengahan jalan antara pos tiga dan pestan, hujan turun benar-benar deras. Kami pun tidak bisa memaksakan perjalanan, jalan mendaki menjadi lebih licin, akan lebih berbahaya buat kami sebagai pemula bila memaksakan kehendak, sesuatu yang dipaksa itu kadang nda baik loh. Perasaanmu contohnya.

Di pertengahan jalan itu juga, kami membentangkan dua jas hujan kelelawar yang tak berbentuk itu. Kami berlindung dibawahnya. Dengan tas carrier yang udah basah tentunya. Makin lama ternyata makin deras hujannya, diikuti dengan angin yang bertiup kencang. Pendakian kedua ku, dan perdana bersama purapalasu, disambut dengan badai diatas gunung.

Tak tanggung-tanggung, lebih dari 2 jam hujan deras dan angin kencang turun di gunung sumbing. Kalo di Semarang mungkin udah banjir kali ya.

Setelah hujan berhenti, kami melanjutkan perjalanan lagi, karena kalau diam kami akan menggigil kedinginan. Akhirnya perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 1 jam, kami tempuh dengan 3 jam. Kan ngehe.

Dari pestan, jalan masih tetap mendaki jahanam, namun kami sudah bisa mengimbangi trek yang berat itu. Dari pestan pos selanjutnya adalah pasar watu, artinya pasar batu. Dinamakan pasar watu karena emang banyak batu nya.

Dari pasar watu, kami melanjutkan ke watu kotak, dinamakan itu karena ada batu besar yang berbentuk kotak. Trek dari pasar watu ke watu kotak ini adalah trek yang paling berat, seram dan mengerikan dari keseluruhan jalur. Kenapa ? karena trek ini menanjak melingkar dan kami harus mendaki batu besar, yang kalo salah atau ragu sedikit saja, kami bisa jatuh ke jurang.

Watu kotak adalah pos terakhir sebelum puncak. Di watu kotak inilah kami mendirikan tenda. Tas carrier yang berat karena hujan. Ketika kami mulai mengeluarkan barang-barang dari tas, satu persatu kebodohan kami pun terungkap.

Ternyata kami hanya membawa kompor dan gasnya KETINGGALAN di basecamp. Riki bawa senter yang GEDE tapi BATERAINYA tertinggal di motor. Jadi buat apa itu kompor sama senter udah berat-berat dibawa tapi tak guna. Jadi penerangan satu-satunya adalah headlamp kecil saya.

Kami juga tidak tahu, kalau mau mendaki seharusnya semua barang-barang yang bisa basah seperti baju ganti dan sleeping bag, harus di packing basah dulu (dimasukkan kedalam plastik, baru dimasukkan kedalam tas). SB kami dan baju ganti saya basah semua. Semua logistik terasa sia-sia. Karena kami hanya bisa makan roti dan krausan mie mentah. Semua barang yang kami bawa juga sepertinya percuma.

Yaudahlah, seenggaknya kami masih bisa mendirikan tenda untuk bermalam dan berharap tidak ada badai malam ini.

Malam ini kami tidur dengan sleeping bag dan baju yang basah. Di gunung loh ini, udah dingin banget pasti makin dingin.

Lewat tengah malam, saya mendengar isak tangis. Awalnya saya kira itu adalah kuntilanak atau setan yang ingin mengganggu.

“Ibuuuuk, aku kangen ibuk” lirihnya sambil menangis
“Blu. . . .” panggilku
“Iya gih” balasnya sambil tetap menangis.
Kamu kenapa ?
Kangen ibuk gih. . .
Terus ?
Dingiin. . .
Baju mu basah ?
hu’um..

Jujur saja, waktu itu saya bingung mau ngapain, nanyain dia hanya untuk memperbaiki suasana aja, tapi apa yang harus saya lakukan benar-benar tak tahu.

Ga lama setelah itu
“Gih, njileh sentermu aku kepuyuh (gih aku minjem sentermu, mau kencing)” kata Riki
“iki ki”, aku sambil nyerahin senter ke Amira.

Gatau gimana ceritanya, skenarionya Rara yang memberi sinar senter pada jalan riki untuk buang air kecil dari tenda, sedangkan riki yang keluar tanpa membawa senter.

Tiba-tiba ada kehebohan diantara mereka.
“Ra ojo nyenter nang kene, engko anu ku ketokkan” teriak Riki
“Iyo ki. . iyoo, koe yo ojo nguyuh neng kono” kata rara sambil ketawa.
Healaah ternyata mereka berdua ini bisa-bisanya.
. . . .
“Blu. . . “ kata ku lagi
“Huuum” jawab dia sambil tertidur
“Masih hidup ? tanyaku lagi
“hu’um”
Dan kami semua tidur dalam kegelisahan
. . . .
Akhirnya pagipun datang menghampiri kami.
Kita sudah di post terakhir untuk menuju puncak.
“piye ki ? kita muncak ra ? tanya ku
“aku karo blu ora gih, ra kuat” jawab rara

Karena duo putri kita ga muncak, saya bersama riki pun mengurungkan niat untuk summit. Yaudah lah, kita udah sampai sini aja udah luar biasa kok. Perjalanan yang kita lewati kemarin juga udah gila banget. Akhirnya ya kami bersantai aja di tenda.

Sekitar jam 9 pagi, kami mulai packing dan berkemas untuk turun menuju basecamp.

1505315786990
Jalan masih panjang 🙂

Kita turun tidak melewati jalur yang kemarin, tapi melewati jalur baru. Rasa ingin tau kami, dan lagi lagi kesotoyan untuk melewati dua jalur sekaligus ternyata bikin sesek di dada.

Sesampainya di Pestan.
“Duh ki, kayak e aku keno cidera otot ki” kataku

Kejadian di Merbabu bulan lalu, kejadian lagi. Kaki tidak bisa ditekuk lagi, rasanya mau MATI. 6 jam lebih berjalan menurun dengan rasa rakit itu. Ini kali kedua saya turun gunung dengan cidera otot.

Masih di Pestan men. Jalur baru ternyata sama beratnya, banyak tanah yang lembut tak kokoh.

Rara, Riki, Blu akhirnya duluan. Saya turun sendirian, dan ternyata ada pendaki juga yang terkena cidera otot. Ya seenggaknya saya punya temen menderita ehe. Sepanjang perjalanan kita banyak bercerita tentang banyak hal.

Dan sekitar jam 7 malem barulah saya sampai di basecamp. Beristirahat sebentar mencari makan malam dan bersiap untuk pulang. Ketika lagi makan, tiba-tiba Blu nyeletuk

“Eh, kalian ndaki gunung udah pada izin orang tua belum”
“Aku orak” kata riki
“Aku yo iyo” jawab rara
“Apalagi aku” jawabku
“Emang kamu blu ?” aku nanya balik
“HEALAAH, PANTES. AKU JUGA GA PAMIT SAMA IBUK”
“makane perjalanan kita kaya nda direstui” jelasnya lagi.

Emang sih, restu orang tua itu penting banget. Perjalanan menjadi lebih barokah. Untuk ndaki gunung aja butuh restu orang tua apalagi meminang kamu dek. Disitu saya belajar banyak hal lagi.

Perjalanan pulang belum berakhir sampai disana, masih ada tiga jam lagi dari basecamp menuju Semarang. Indah bukan wkwkwkwk
Kita pulang malam, sampe Semarang pagi :”)
 

Leave a Reply