PATRIAKI dan IKLAN

Dahulu perempuan dijajah oleh budaya patriaki, sekarang oleh iklan.

lady
source : Pixabay

Peradaban dan perjalanan waktu melintasi semesta menjadikan perubahan salah satu hal pasti. Didalam kehidupan manusia tidak ada hal yang pasti selain dua ini ; perubahan dan kematian. Perubahan ini nampaknya yang menjadi satu-satunya hal yang konsisten yang dilakukan oleh manusia, tak perduli apa derajat, jabatan, maupun gender yang ada. Bawasannya perubahan sendiri hadir karena adanya penyesuaian dengan kemajuan zaman, perkembangan peradaban atau hal-hal yang dulu sudah menjadi kebiasaan lalu disadari ternyata tidak relevan untuk kehidupan manusia. Seperti halnya tentang patriaki.

Patriaki menafsirkan bahwa laki-laki mempunyai hak lebih dan istimewa dalam lingkup keluarga dan organisai. Sehingga terjadi ketidaksetaraan dan ketidakadlian bagi perempuan dalam fungsi dan kendali atas kehidupan sosialnya. Patriaki mewajibkan laki-laki akan selalu berada diatas perempuan. Laki-laki punya kendali atas kehidupan perempuan, juga laki-laki memperoleh pendidikan yang lebih tinggi daripada perempuan. Sehingga perempuan dibatasi oleh lingkar kebiasaan dalam memperoleh akses informasi untuk mengedukasi dirinya. Patriaki membuat kebiasaan perempuan bertugas di rumah, mengurus anak, dapur dan laki-laki. Semua hal itu tidaklah salah, namun juga tidak tepat. Namun karena budaya ini sudah sangat lama terbentuk, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Bahkan aliran Ibrahimisme, kepercayaan yang menghasilkan 3 agama terbesar di dunia (Yahudi, Kristen, dan Islam) terlihat mendukung atas tingkat struktural patriaki ini. Orang laki-laki Yahudi  dalam kitab Talmud-nya tertera dalam Menahoth 43b-44a:

“Seorang lelaki Yahudi diwajibkan membaca doa berikut setiap hari; ‘Terimakasih Tuhan! karena tidak menjadikanku seorang kafir, atau seorang wanita atau budak belian”

Begitu juga dengan kekristenan. Secara literal, Alkitab menulis tentang pembatasan hak-hak perempuan dalam berbicara, khususnya ketika pada perkumpulan rohani.

Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat – 1 Korintus 14:34

Islam juga demikian, coba lihat cerita perlawanan yang dilakukan oleh Malala Yousafzai, peraih nobel perdamaian termuda saat ini. Malala memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih layak yang tentu saja ditentang oleh Taliban *ehe* di Pakistan.

Kabar baiknya, Para cendikiawan  ibrahimisme percaya bahwa patriaki dalam agama bersifat progressif bukan mutlak. Artinya, setiap ayat suci harus melihat konteks dan relevansi penggunaan dalam kehidupan sekarang.

Perjuangan menentang budaya patriaki ini terus disuarakan para perempuan yang menginginkan kesetaraan hak maupun fungsi tanpa memandang gender di berbagai belahan dunia. Mereka menuntut adanya kesempatan bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi tanpa dibayang-bayangi oleh rasa takut yang akhirnya hanya berurusan dengan ranjang dan dapur belaka. Selain itu, mereka juga memperjuangkan kesetaraan hak dalam tatanan kehidupan sosial.

Di Indonesia ada tokoh paling terkenal untuk para perempuan ; Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika. Coba lihat film Kartini (2017) garapan Hanung Bramantyo itu, maka percayalah kalian bakal membenci laki-laki yang suka-suka punya istri lebih dari satu dan juga kebiasaan akan fungsi perempuan yang selalu dibawah laki-laki. Film kartini yang menggoncang emosi setiap pemirsanya menyiratkan tentang keadaan yang menyedihkan nasib perempuan jawa di masa lalu. Tak punya hak, hanya menurut saja.

Kartini.

Kartini hadir, membebaskan pikiran dan imajinasi lewat buku-buku kakaknya yang bersekolah di Belanda. Dia mengajar, membaca, menulis dan berkirim surat pada teman feminisnya di negara yang lain. Perjuangan RA Kartini tentu saja membuahkan hasil.

“Habis gelap terbitlah terang”

Tidak cuma RA Kartini, Dewi Sartika pun punya kegelisahan yang sama, peduli dengan kondisi para perempuan, akhirnya mendirikan sekolah perempuan atau sakola istri pertama se-Hindia Belanda pada januari 1904. Dewi Sartika pun bisa mencetak lulusan lulusan perempuan bermartabat yang haknya sama dengan laki-laki.

Sekolah perempuan semakin berkembang dengan pergantian nama menjadi Sekolah Keutamaan Perempuan (sakolah kautamaan istri) di tahun ke 10 (1914), dan di saat perjalanan itu pula menikahlah Dewi sartika dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata di tahun 1906, yang mana pasangan Dewi Sartika adalah suami yang memiliki visi misi yang sama dalam memperjuangkan pendidikan, semakin berkembangnya sekolah perempuan yang didirikan Dewi Sartika, di tahun ke 25 pada bulan september 1929, diadakanlah peringatan pendirian sekolah yang mana sekaligus berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi.

Karena apa yang diperjuangkan oleh RA Kartini maupun Dewi Sartika inilah mereka ditahbiskan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

RA Kartini, Dewi Sartika dan banyak perempuan dan tokoh feminis lainnya yang memperjuangkan kesetaraan hak-hak antara laki-laki dan perempuan. Pada awalnya eksistensi (tampakan luar) yang menunjukkan esensi seorang perempuan, beralih menjadi esensi (citra dalam) yang menghasilkan eksistensi perempuan itu sendiri.

Bukan karena perempuan maka kamu harus melakukan ini dan mengikuti aturan itu, namun karena apa yang ada di dalam relung hidupmu itulah kamu tunjukkan sebagai identitas perempuanmu.

Sekarang, 2018, sebagian besar perempuan di sebagian besar daerah Indonesia sudah merdeka dari budaya patriaki, mereka, perempuan, bebas menjadi apapun dan siapapun yang mereka inginkan, tanpa diberi batas-batas yang dipaksakan oleh kebiasaan lama. Kita bisa lihat tokoh-tokoh perempuan yang luar biasa, Megawati, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Sonya Eryka, Monita Tahalea, Rara Sekar, Maria Ozawa dan masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang tidak membatasi diri mereka untuk merangkau angkasa dan jatuh di antara bintang-bintang.

malala
Malala Yousafzai

Namun ternyata masih sedikit perempuan yang berani untuk melakukan hal itu. Menembus batas yang sudah dihancurkan untuk terbang tinggi menjadi diri mereka sendiri. Eksistensi mereka di dunia sangatlah nyata namun tidak mereka sendiri mengerti dengan hidup mereka sendiri. Pikiran mereka masih dibelenggu dengan hal-hal yang tidak menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Sehingga perempuan tampil dengan kebiasaan yang ada disekitarnya.

“Kak, apa sih yang bikin cewe pikirannya begitu bego yang cuma dipikirannya cuma cantik secara fisik” Tanya Bunga dalam perjalanan pulang ke Semarang.

“simple, IKLAN” jawabku

“OH IYA, BENER BANGET” balasnya

Secara tidak sadar, Iklan sudah membentuk persepsi perempuan tentang definisi cantik. Sebenernya cantik itu relatif, tidak ada definisi yang mutlak tentang hal ini. Kerelatifan itulah yang dipakai oleh perusahaan kosmetik untuk membangun sebuah ‘value’ cantik sendiri.

Apakah iklan salah ? tentu saja tidak. Kepentingan iklan adalah mempromosikan produk yang dia jual untuk bisa diterima dan mendapat positioning dalam pikiran konsumen. Tujuannya ? kepentingan perusahaan.

Coba bayangkan seandainya perusahaan kosmetik itu adalah bimbingan belajar, sudah pasti cantik yang digambarkan bukan yang secara fisik, namun orang-orang pintar dengan kacamata tebal dan memegang buku.

Konspirasi iklan ini benar-benar gila dan brutal. Dan masih banyak yang belum menyadarinya. Yaa, you know lha wkwkwkwk

Ada yang berkata “aku ga peduli dengan diskon dari Big Bad Wolf Books (fyi, ini adalah bazar buku TERBESAR di dunia dengan diskon 60-80%) aku lebih peduli dengan diskon lipstick atau bahan kosmetik lainnya”. – O Aza ya kan -_-

Apakah iklan salah ?

Apakah produk kecantikan salah ?

Apakah semua usaha perempuan untuk mempercantik dirinya salah ?

Apakah aku mencintaimu juga salah ? *ehe

TENTU SAJA ENGGAK. .  Siapa sih yang ga suka lihat perempuan cantik ? semua pasti suka. Nah, berarti produk kosmetik diperlukan, kalau produk kosmetik diperlukan maka iklan pun dibutuhkan. Iklan dibutuhkan perusahaan untuk menjual produknya, sehingga produk mereka bisa terjual dan menghasilkan keuntungan. Perusahaan mendapatkan keuntungan, perusahaan membayar gaji setiap pekerjanya, maka terjadi kelangsungan harapan hidup.

Penting bagi perempuan memperhatikan kecantikan yang terlihatnya, tapi yang salah ketika mereka lupa akan apa yang ada didalam dirinya lalu terlalu sibuk dengan apa yang bisa dilihat dari luar. Value seorang perempuan itu terletak pada kecantikan hati, tingkat intelektualitas dan kecerdasan emosi, ketiga hal inilah yang nampak abadi sekalipun sudah tak berdaya lagi.

Ingat, patriaki membatasi identitas perempuan yang sebenarnya dan sekarang perempuan membatasi identitasnya sendiri. Dua hal yang sama namun dengan kesadaran yang berbeda.

Udah pernah lihat wawancara Bang Tompi dan Om Glen Fredly sama Fika Fawzia baru-baru ini ? Kalo belum coba tonton deh di channelnya Najwa Shihab. Perempuan lulusan hukum UI ini benar-benar buat saya terdiam. Fika Fawzia adalah asisten sekaligus tangan kanan ibu menteri kesayangan rakyat Indonesia ; Susi Pudjiastuti. Coba lihat beberapa tulisan dan opini-opini dia di fikafawzia.wordpress.com/. Pandangan-pandangan dia menjadi perempuan bebas ternyata membawa dia ke tempat yang luar biasa.

fika
Source : @ffawzia07

Dalam talkshow tersebut, Mba Fika ini bercerita mendapat tawaran 50 MILYAR dari MAFIA ikan, biaya yang pantas untuk membuka celah kapal asing masuk kembali ke lautan Indonesia. Dan dia menolak dan dengan santainya dia berkata :

“Uang bisa dicari kan, tapi kalo integritas, kejujuran itu yang (lebih penting)”.

Sekelas Glen Fredly aja meleleh, apalagi aing :”)

Sepertinya saya memang mudah terpesona dengan perempuan yang pintar, perempuan yang mendapatkan nilai UN tertinggi misalnya *eh LOL WUWUWUWUWU

Terakhir, ada kutipan pembuka dalam speech Malala Yousafzai ketika menerima penghargaan nobel perdamaian.

“Thank you to my father for NOT CLIPPING MY WINGS AND FOR LETTING ME FLY”.

 

Leave a Reply