Part 5 : Yang Tertinggal dari Perjalanan ”Lost in Spore”

Ini adalah beberapa tulisan yang berisi pemikiran singkat saya ketika “Lost in Spore”

Medical Check Up

Bukan untuk menghakimi, tapi sebagai self awareness, ketika flight ke Singapura, banyak sekali orang-orang yang pergi kesana untuk urusan kesehatan. Sepertinya Rumah Sakit Singapura masih terlalu seksi untuk menjadi tempat kesehatan orang Indonesia.

Sebagai peringatan diri sendiri yang masih muda, kuat dan liar. Bahwa suatu hari ini aku ga akan sekuat dan sebugar dahulu. Tapi apa yang di investasikan dalam hidupmu itu yang akan kamu terima nanti. Saat hari ini kamu ga peduli dengan kesehatanmu, maka di hari tua nanti akan banyak penyakit yang akan menyerang kamu.

Dengan tenaga yang tak seperti dulu, dan sistem imun yang tak setangguh dulu, rasa nya bukan menjadi mustahil bila nanti akan bolak-balik Indonesia-Singapura bukan untuk jalan-jalan atau menikmati hidup tapi untuk hidup yang diharapkan bisa bertahan. Jadi mulai memperhatikan kondisi kesehataan sendiri, jangan makan fastfood, hindari soda, biasakan minum air putih.

Dari hal-hal yang simply  nanti beberapa puluh tahun dari sekarang akan mulai terlihat hasilnya.


Oleh-Oleh

Yang kedua, sesampainya di Merlion, saya mencoba eksis dengan instagram story saya. “Sore di Merlion” lengkap dengan gambar Ikan berkepala singa nya.

Ga beberapa lama setelah posted di instagram, mendadak Direct Message  menyerbu akun saya, dari beberapa teman yang dekat hingga yang berada di pagar terjauh, dengan satu pesan yang sama “OLEH-OLEH”

Yang menarik adalah, semua teman-teman saya yang memiliki hobby yang sama ; Travelling tidak ada yang ngeDM saya dengan pesan oleh-oleh. Mungkin mereka tahu, bahwa travelling itu tidak gratis, kita harus nabung, bela-belain untuk menahan untuk membeli sesuatu hanya untuk sebuah pegalaman di tempat baru. Tempat yang ingin kita tuju itu kadang tidak dekat dan tidak murah, jadi mau tidak mau harus putar otak bagaimana untuk bisa kesana dan nanti kembali pulang dengan selamat. Gairah kami adalah sebuah cerita perjalanan, memori pengalaman yang nanti bisa diceritakan ke anak cucu, semangat kami adalah keinginan untuk mengeksplorasi buatan tangan Sang Pencipta sambil bergumam mengaguminya.

Ya saya bersyukur saya mendapat berkat Tuhan sehingga ada orang yang bermurah hati untuk membelikan tiket dan penginapan saya. Tapi kan tahu sendiri biaya makan dan untuk hidup di Singapura itu kampret banget.

Sebenarnya bukan berarti saya pelit, tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli sekedar souvenir, singkat saja, kalau kamu dekat dalam hidup saya, tidak perlu di minta pun saya akan mengingat kamu. Dan tanpa harus di suruh itu, perintah untuk memberikan sesuatu untuk orang-orang tersayang sudah ada di dalam rencana pikiran saya.

Jadi usahakanlah jangan sampai memutuskan tali pertemanan hanya karena oleh-oleh.


Travelling Sendirian

Sepulang dari Singapura, banyak yang nanya ;

“Kamu ke Singapura sama siapa Gih ?”

“Sendirian” ku jawab singkat

Tak lama setelah aku menjawab, saya melihat hampir semua yang mendengarkan jawaban “travelling sendiri” punya ekspresi yang sama.

Seakan-akan saya bisa membaca apa yang ada dipikiran mereka

“Anjir, ke Singapura sendirian, kurang kerjaan banget sih lo”

“Lo gila”

“Jombo banget sih lo”

“ kayaknya lo udah ga waras deh”

Masih banyak ekspresi nyinyiran yang saya terima, hanya karena saya travelling ke Singapura sendirian.

Oke, saya kasih tahu sebuah rahasia kecil. Saya menemukan ini dari buku “2- Paspor di kelas Sang Professor”. Buku ini bercerita tentang para mahasiswa Prof Rhenald Kasali, dosen pemasaran Internasional di UI. Para mahasiswa di dua mingg pertama mendapat tugas untuk membuat paspor, setelah paspor jadi, mereka harus pergi ke negara lain seorang diri.

Prof Rhenald berkeyakinan ketersesatan mahasiswanya di negara yang berbeda dengan culture dan bahasa yang berbeda pula, membuat mereka bisa menghadapi situasi kebatinan yang luarbiasa ; Terasing dan Tertantang. Dalam keterasingan, bagus bagi anak muda untuk membangun diri. Diaolog diri ini kan menumbulkan self awareness (kesadaran diri) untuk membentu karakter yang kuat. Kondisi ini juga memaksa kita untuk bisa berpikir taktis, progresif dan mampu memecahkan masalah.

Masih ingat dengan Ignatius Ryan Tumiwa, lulusan S2 Universitas Terkenal dengan IPK3.2 yang mengajukan judicial review  dan memohon pada Mahkamah Konstitusi agar melegalkan haknya untuk bunuh diri. Mengapa Ryan ingin mati, padahal ia punya ijazah yang bagus ? jawabannya karena ia depresi tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Pintar tapi tidak memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan.

If you really want to do something, you’ll find a way. If you don’t, you’l find an excuse.

Yap, kesendirian saya di negeri orang bukan berarti saya kesepian, alih-alih meratapi keadaan travelling sendirian malah saya mengagumi setiap langkah perjalanan saya.

Tiga hari itu saya sama sekali tidak pernah merasa kesepian atau sedih sama sekali. I enjoyed my me time.


Belajar, Berpetualang dan Simpan Pengalaman Sebanyak Mungkin.

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya berakhir dengan pension tidak seberapa – Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Setiap orang memang mempunyai value yang berbeda-beda dalam hidupnya, tapi tidak sedkit juga yang terjebak dalam lingkaran yang memuakkan, menyebabkan stress yang berlebihan. Sehingga hidup yang mereka jalani seakan-akan meaningless, gue udah tua tapi gue ngerasa hidup gue terlalu flat dan sebenernya gue ga menemukan hidup dalam hidup gue.

Itulah yang gamau saya alami nanti, hari tua dengan kenangan yang membosankan. Untuk itulah saya berpetualang, mencari pengalaman baru, belajar dari tempat-tempat yang saya kunjungi, akan selalu banyak hal-hal yang bisa kita di pelajari, dan yang  bisa menjadikan pemicu untuk menerabas beratnya kehidupan. Kalau kata seorang teman, kalau punya duit perglah travelling, karena benda yang kamu beli itu bersifat sementara sedangkan kenangan dalam perjalanan yang kamu terima itu abadi.

Pergi ketempat-tempat baru juga mengajari saya untuk menjadi lebih peka, naluri saya beradaptasi lebih cepat, jadi lebih responsive, tau kapan harus diam, dan kapan berbicara. Memang belum sempurna,karena saya masih perlu banyak belajar.

Saya bisa menjadi diri saya sendiri, saya siap menjadi tidak popular, dan kedamaian ada selalu melingkupi jiwa saya.

Tanpa harus takut dengan tekanan karena kebayakan gaya, saya masih asyik bermimpi, meraih sesuatu, dan mulai menentukan dimana destinasi berkutnya.

Leave a Reply