Part 4 : back to Indonesia, HOME

Sejauh apapun kakimu melangkah yang penting kamu sudah tau kamu punya tempat untuk pulang – Filosofi Kopi

Sepertinya efek berjalan dari jam setengah 8 sampai jam 11 malam kemarin baru kerasa pagi ini, sontak saja, kaki dan lutut jadi lebih sakit di gerakkan. Rasanya seperti habis naik gunung, meskipun ga terlalu parah dibandingkan dengan efek naik gunung, kesulitan berjalan membuat saya membatalkan rencana perjalanan di hari terakhir.

Rencananya masih ada beberapa tempat yang ingin di kunjungi, seperti daerah Clarke Quay. Tapi yasudahlah, pagi itu setelah check out dari Hostel langsung pergi ke Changi Airport.

Tak lupa sebelum ke Changi Airport beli Nasi Padang, pengen tahu rasanya Nasi Padang di Singapura itu seprti apa.

Orang Indonesia banget kali ya, beli Nasi Padang di bungkus.

‘with spoon please’ saya meminta pada ibu yang jual.

Selesei dengan urusan bungkus membungkus nasi padang, langsung pergi ke airport. Sedikit agak lama, karena emang ini Changi Airport tempatnya terpencil dari kota. Terpencil bukan berarti desa kaya di Indonesia ya, Changi Airport itu mmeuuugaaaah banget dan guedeeee banget.

Sampai di Changi, keluar dari MRT, saya refund STP card saya, mayan kan 10 dollar buat di Indonesia.

Setelah itu pindah ke Terminal 1 naik skytrain. Ingat sebelum bersenang-senang di Singapura, kalian harus tau akan pulang di lewat terminal berapa. Saya sendiri datang di terminal 2 dan pulang di terminal satu.

Changi Airport dan Nasi Padang.

Sampai di Terminal satu, saya buka nasi padang yang sudah di beli pagi ini, and guess whaatt.

Ketika di buka, ternyata. . . .

GA ADA SENDOKNYA.

.

.

Emang kampret itu ibu-ibu. .

IMG_20170405_100659_HDR
Nasi Padang + Changi Airport = perpaduan Aneh

Untuk pertama kalinya, saya makan Nasi Padang di Changi Airport PAKE TANGAN. Peduli amatlah dengan orang-orang di sekitar, yang penting gue kenyang.

Selesei makan, langsung check in di counter Air Asia (yang paling pojoooook banget). Abis check in, langsung masuk Terminal satu.

IMG_20170405_115134_HDR.jpg

Tripod, Tongsis, Monopod.

Ada satu ketakutan saya ketika di airport, bukan ketika di Imigrasi, melainan di koper saya, karena ketika pas pulang ke Indonesia, saya tidak punya bagasi dalam pesawat, jadi semuanya masuk kabin pesawat.

Ditakutkan perangkat dokumentasi seperti Tripod, Monopod dan Tongsis tidak bisa dibawa kedalam kabin. Seperti kejadian waktu di Bandara Ahmad Yani Semarang, harus rempong karena monopod action cam tidak boleh masuk kabin.

Kalau emang tidak boleh, ya mau gamau seperangkat tripod itu harus di buang. Tapi keamanan demi keamanan semua lancar jaya, screening demi screening tidak ada protes dari petugas. fyi pemeriksaan keamaan di sini super ketat banget. Dalam hal ini saja saya bisa menyimpulkan keamana di Indonesia masih terlalu cupu.

Selesei semua urusan, tinggal tunggu boarding dan take off.

Tapi masih ada waktu beberapa jam untuk di habiskan.

Mengelingi Cangi Airport itu menyenangkan, tidak seperti bandara-bandara lainnya, Changi emang sepertinya di design menjadi tempat transit yang menyenangkan dan tak membosankan bagi passanger. Bandara rasa Mall atau Mall yang ada di bandara, sangkin asyiknya beberapa jam itu gakerasa banget, malah kurang. Yang saya kelilingi baru terminal 1 saja, belum terminal 2 dan 3. Katanya sih masing-masing terminal punya keunikannya masing-masing. Emang ngeri kal bah ini Changi.

IMG_8563

Selagi menunggu boarding, saya luruskan kaki dan letakkan diatas koper, rasanya luar biasa untuk meregangkan otot kaki yang sudah dipaksa berjalan kemarin dan hari ini.

IMG_20170405_123833_HDR
Mantap Jiwaaa

14.25  time to flying back home.

Saya mengagumi Singapura sebagai tempat yang cantik, rapi, indah, tertata, berkembang pesat dan nyaman. Tapi saya tahu, rumah saya masih Indonesia. Dalam perjalanan ni saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang tersimpan rapi dalam otak saya.

Indonesia dengan kesemrawutan dan kekacauannya saja indah, saya menemukan cinta di Indonesia. Dalam hati saya bersumpah, saya akan menjadi bagian untuk perubahan negeri ini yang lebih baik.

Sekarang waktunya untuk menemukan bagian-bagian terindah dari Indonesia

Leave a Reply