Part 2 : Welcome New Adventure

Job will fill your pocket, but travelling will fill your soul.
Senin, 3 April 2017

This is my first time flying abroad, Si Nasia sudah siap untuk nganter ke Bandara, jam setengah 9 mulai berangkat jaga-jaga kalo di imigrasi penuh. Ternyata imigrasi Semarang tidak begitu ramai, kelar di imigrasi tinggal menunggu boarding time.

IMG_20170403_093100_HDR
Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang

SILK AIR MI 101 ready bringing me flaaaaaaaay. . .

SILK Air juga menyediakan makan siang, menunya antara nasi goreng dan ayam atau
kentang dan ikan. I choose fish and potato, bukan karena suka, tapi karena iseng-iseng coba aja.

IMG_20170403_121558_HDR
My Menu Fish and Potato

Didalam pesawat juga nanti dibagikan immigration card sebagai data ketika di imigrasi Singapura, ini kenapa sangat penting bawa pena biar nanti sampai airport ga perlu buang-buang waktu untuk ngantri, karena disana semua tourist dari seluruh dunia akan masuk Singapura dari satu pintu itu, jadi kebayangkan kalo di imigrasi nanti masih harus ngisi immigration card.

IMG_20170403_120340_HDR
Immigration Card

 

Akhirnya saya sampai di Changi Airport, yang katanya bandara nomor satu di dunia. Tak perlu waktu lama untuk mengakuinya, langkah pertama keluar dari pesawat sudah diiringi decak kagum, Gila, ini bandara apa mall. Semua tersusun rapi, bersih dan indah. Level bersih antara Singapura dan Indonesia ternyata bagaikan langit dan bumi. I amaze about that.

Awalnya sedikit parno ketika di di imigrasi, tapi ternyata tidak semenakutkan itu. Selesei urusan di imigrasi, lantas menuju counter MRT, ada tiga pilihan untuk menaiki MRT, Single Trip, Ez Link dan Singapore Tourist Pass (STP).

Single Trip adalah tiket yang hanya bisa dipakai sekali jalan, bisa di dapatkan di mesin tiket otomatis, sedangkan Ez Link dan STP adalah kartu yang bisa di gunakan untuk beberapa kali tanpa harus mengantri tiket. Perbedaannya adalah STP hanya berlaku 1-3 hari, saya memilih STP 3 Hari, dengan 30 Dollar yang terdiri dari 10 Dollar sebagai jaminan kartu yang nanti bisa di refund ketika dikembalikan, dan 20 dollar sebagai isi saldo. Sedangka EZLink adalah kartu yang biasa digunakan oleh warga singapura, harganya 12 Dollar (5 dollar harga kartu yang tidak bisa di refund dan 7 Dollar sebagai saldo. STP bisa digunakan untuk semua MRT, Bis dan LRT (tidak LRT ke Sentosa) sedangkan Ez Link hanya bisa digunakan ketika kita masih mempunyai saldo.

IMG_20170403_153418_HDR
The Card which can bring you everywhere you want in Spore

Jadi lebih baik  pakai STP atau EzLink ? tergantung rencana perjalananmu, kalau mobilitas tinggi, STP lebih baik, tapi kalau hanya beberapa tempat saja, lebih baik gunakan EzLink.

Setelah membeli STP akhirnya pergi ke hostel untuk check in, Gusti Bed and Breakast berada di antara Lavender dan Kallang street, lagi-lagi kagum ketika pertama coba MRT di Singapura, cepat bersih, on time dan keren.

Turun di Lavender Station, berasa jadi orang bego, gatau ini dimana, kemana tempat yang harus dituju, arah mana yang bener. Alhasil, keluar dari Station diem cukup lama.

Aha, Aktifkan GPS dan maps, Sudah ada petunjuknya tinggal ikuti.
Setelah jalan lebih dari setengah jam, baju udah mulai basah karena keringet, nafas udah mulai ngos-ngosan. Tiba-tiba. . .
NJIR, TERNYATA TEMPATNYA SALAH.

Kesalahan bukan di google maps nya sodara, tapi pada usernya. Ternyata saya salah menentukan lokasi tujuan hostelnya. Alhasil harus balik lagi ke tempat semula karena ternyata hostel nya deket banget dari MRT Lavender (sekitar 5 menit, dan gue udah salah arah 30 menit lebih).

Sampai di hostel, check in, taroh barang, ambil Kamera, Tripod, Tongsis, Monopod dan Powerbank, saatnya cuss lageeee. .

Masuk MRT lagi, pemberhentian yang pertama adalah MRT Rafles, dari sana mulai ngebolang kemana aja, semua rencana yang udah dibuat sepertinya sedikit diabaikan karena perjalanan tanpa arah di Singapura lebih menyenangkan daripada pergi ketempat ini lalu ketempat itu secara runtut.

IMG_8399
Pemandangan waktu keluar dari MRT Rafless, kebayang kan bagusnya ?

Berjalan terus tanpa arah, ternyata langkah kaki membawa saya untuk menyusuri Singapore River, disana ada dua jembatan keren namanya Cavenagh Bridge dan Anderson Bridge menyebrang kesisi yang satunya kita akan dimanjakan dengan Rafless Landmark, setelah menyusuri Singapore River tiba-tiba saya sampai ke Victoria Theatre and concert. Cukup dengan photo-photo disana halan-halan lagi, akhirnya firasat membawaku  ke Singapore National Gallery

“GILS, GEDE BANGEEEEETTTT” teriak teriak sendiri kaya orang gila.

Buka tripod lagi, ambil gambar lagi. Sudah puas tiba-tiba lihat petunjuk jalan tertulis “ESPLANADE”, ternyata dari Rafless ke Esplanade ga jauh-jauh amat, gaperlu naik MRT.

Menyusuri taman demi taman, asyiknya tiap taman punya ciri khasnya masing-masing. Banyak tempat yang instagramable, sangking banyaknya jadi ga poto malah. Kira-kira 15 menit jalan kaki, sampai di sisi Sebrang Esplanade, fyi Esplanade adalah hotel, mall, kasino, tempat hiburan paling HITZ di Singapura, sudah pasti MAHAL.

Toleh kekanan ternyata disana ada MERLION, icon Singapura, ga perlu pikir panjang kaki  melangkah lagi.

IMG_8448

Duduk, menikmati pemandangan yang jadi landmark Singapura, lega banget sih, terasa jiwa ini segar. Cek jam ternyata sudah jam 7 malem, Jam 7 malem di Singapura itu seperti jam 4 Sore di Indonesia, masih terang banget.

Setelah dirasa tenaga sudah pulih kembali, saatnya melanjutkan perjalanan untuk menyusuri tepian Marina Bay. Marina Bay itu luas banget, tapi pemandangan yang bisa diliat ditiap perjalanan gabikin kita capek. Di Marina Bay banyak juga orang-orang yang menghabiskan malam dengan berolahraga, ada yang jogging, senam, main sepak bola, catur, uno dan poker (tiga terakhir boong)

Dari yang terang berubah menjadi gelap, lampu-lampu mulai di nyalakan, ternyata pemandangan diwaktu malam pun ga kalah mengagumkan. Akhirnya perjalanan berhenti di lower boardwalk, jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu dengan sentuhan aestetic. 

IMG_20170403_194809_HDR
Marina Bay di malam hari

Duduk, diam, termenung untuk waktu yang lama. Marina bay dan Kesendirian diwaktu malam emang perpaduan yang tidak bisa dinistakan.

I kill much time in here.

Hari semakin malam, perjalanan masih harus berlanjut kali ini adalah menyusuri Helix Bridge, udah tiga jembatan yang dilalui, kerennya tiap jembatan punya design yang berbeda, sama-sama apik, sama-sama keren, sama-sama memanjakan mata.

Selesei menyusuri Marina Bay, kembali ke MRT Rafless untuk pulang ke Hostel.

Hari pertama di Singapura, saya terkesan dengan negara ini, saya terpesona dengan keindahan, keteraturan kebersihan dan kenyamanan. Tempatnya ramah untuk para turis, para pejalan kaki, saya sendiri tidak ada sedkitpun merasa takut berjalan kesana kemari. Atmosfer yang diciptakan di negara ini benar-benar cocok untuk para traveller. Tidak ada perasaan was-was sedikitpun walaupun malam sudah datang. Tak ada ketakutan tiba-tiba saya diculik dan ginjal saya dijual. Benar-benar nyaman pokoknya. Satu-satunya yang bikin nyesek itu harga-harga makanannya, tapi katanya kalau Negara jika ingin maju, harga-harga makanannya emang harus tinggi.

akhirnya. . .

Kembali ke Lavender, pulang menuju hostel dan Tidur. Mempersiapkan diri karena besok akan menjadi petualangan yang lebih panjang dan melelahkan.

Leave a Reply