Menyederhanakan Kehidupan.

  • Hidup adalah sebenarnya menanti kematian
  • Ketakutan manusia akan kematian mengisyaratkan bahwa manusia itu egois dan mencintai dirinya sendiri.
  • Tetap menjadi manusia dengan memanusiakan manusia

Hidup ini akan tetap selalu dinamis, dia akan bergerak bebas, sesekali diam di tempat lalu berpindah dan bergerak lagi, dan mulai  menunjukkan teratur dan ketidakteraturannya. Adanya perpindahan, perkembangan, dan pertumbuhan dari hidup itu sendiri mengisyaratkan bahwa setiap kesempatan atas hadirnya hidup dalam momen dan waktu tertentu tidak akan bisa diulang dengan situasi, kondisi dan perasaan yang sama. Kolaborasi antara waktu dan hidup itu sendiri menyisakan ruang-ruang sempit bagi manusia untuk mengerti tentang diri mereka, titik awal dan titik akhir dari sebuah ruang bergerak manusia. Perasaan bahagia, senang, sedih, suka, duka dan ketakutan mengkamuflase tentang hidup itu sebenarnya apa dan bagaimana.

all-the-time-1546801_960_720
source : https://pixabay.com/en/qualities-dog-man-s-best-friend-1546801/

Karena sebenarnya pada akar hakekat kehidupan itu sendiri adalah menanti sebuah kematian. Dengan cara yang tak terduga dan waktu yang tak dapat direncanakan, manusia pasti akan mati. Atas hal itu, banyak yang percaya pada kehidupan setelah kematian, surga dan neraka akan menunggu di gerbang masuk ketika manusia mati dan semua itu adalah upah atas apa yang mereka hidupi di dunia ini. Ada juga yang meyakini sudah tersedia 72 bidadari sedang menunggu kepastian akan kedatangan manusia yang berpindah dari alam fana dunia. Ada juga yang percaya bahwa reinkarnasi pada dunia selanjutnya dalam dimensi yang sama, saat ini menjadi manusia dan dikehidupan selanjutnya mereka akan berinkarnasi menjadi makhluk yang berbeda pada dunia yang sama. Ada juga yang tidak meyakini adanya kehidupan dan inkarnasi pada dunia selanjutnya. Manusia hidup lalu mati dan lenyap tak meninggalkan sisa.

Semua keyakinan tentang kejadian setelah kematian itu tertulis pada ajaran kitab-kitab (suci) kepercayaan manusia. Dan manusia akan percaya akan scripture yang tertulis di dalamnya, meskipun hal tersebut tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sebuah truth claim kebenaran yang sudah dituliskan akan bersifat absolut dan tidak bisa diganggu gugat terlebih lagi digoyang dan goyahkan. Kepercayaan tentang dunia setelah kematian itu diragukan oleh akal sehat, karena tidak semua orang yang meyakini hal itu sudah pergi dan melewati gerbang kematian dan kembali lagi. Diatas semua keraguan kehidupan setelah kematian, satu-satunya kepastian tentang hal itu adalah kematian itu sendiri. Apapun yang manusia yakini, mereka akan mati. Sebanyak apapun harta yang mereka miliki, sebahagia apapun mereka hidup di bumi, semenderita apapun yang mereka hadapi, semenyenangkan kenangan yang mereka alami, akhirnya manusia akan pergi meninggalkan segala sesuatu yang sudah mereka alami.

Namun kenapa manusia takut akan satu-satunya kepastian yang akan mereka hadapi dalam kehidupan ini ? Selalu ada ketidakterimaan manusia ketika kematian akan mendatangi mereka, baik untuk diri mereka sendiri ataupun orang lain. Kehilangan kehidupan di dunia ini sebagai ketidakrelaan manusia untuk melepaskan bagian dari kehidupan di dunia. Mereka bersedih, berkabung, berbelasungkawa atas satu-satunya kepastian hidup yang semua orang akan hadapi.

Ketakutan manusia akan kematian sendiri sebenarnya mengisyaratkan akan keegoisan manusia itu sendiri. Keegoisan atas mencintai diri dan hidup mereka sendiri. Mereka tidak merelakan kalau diri mereka dan lingkaran rekan di hidupnya akan pergi dan mati. Padahal itu kenyataan yang tak bisa dihindari.

The Thinker, para pemikir sejak waktu yang sangat lama hingga sekarang selalu mengembangkan gagasan dan konsep berpikir tentang siapa manusia itu sendiri dan bagaimana seharusnya mereka hidup. Banyak konsep-konsep yang lahir seperti pemikiran tentang etika, paham kebaikan dan keburukan, apa yang dianggap baik, benar maupun buruk. Juga tentang estetika, nilai sesuatu atas keindahan dan ketidakindahan. Dan masih banyak paham lainnya yang akan terus selalu berkembang. Esensi dari semua ini adalah bagaimana menemukan jatidirinya sebagai manusia. Setelah itu bagaimana seharusnya hidup ini dihidupi dalam masa menanti sebuah kematian.

Apapun paham, konsep berpikir, keyakinan yang dianut, jangan pernah melupakan bahwa kita itu manusia, jati diri dalam kemanusiaan seharusnya jangan sampai hilang karena pilihan pemikiran dan keyakinan yang dipercayai. Karena titik akhir dari awal semua hal ini adalah bagaimana tetap menjadi manusia dengan memanusiakan manusia.

Leave a Reply