Tiga Alasan Mengapa Kita Sulit Bertumbuh Menjadi Dewasa

Pixabay

Sekarang ini, menjadi dewasa seperti barang mewah yang bisa kita jumpai. Banyak sekali kita mendengar atau bahkan kita sendiri yang mengeluhkan kenapa banyak orang di sekitar kita yang tidak bisa bersikap dewasa.

Selain itu, kita juga sudah terlalu sering mempunyai daftar kriteria bagaimana orang harus bersikap dewasa. Sebuah daftar kriteria ini pun tidak sedikit, ketika ada orang yang bersikap tidak sesuai dengan daftar imajiner yang kita buat, dengan mudah asumsi untuk memutuskan bahwa orang tersebut tidak dewasa akan terbentuk begitu saja.

Bukan berarti menjadi dewasa itu tidak penting, seperti tadi yang saya tulis, kedewasaan itu sebuah barang mewah sekarang itu, semua orang punya kesempatan untuk mendapatkannya, tapi tidak semua orang bisa melakukannya.

Free Girl (Unsplash)

Bahkan sekarang banyak orang yang berpura-pura supaya bisa terlihat seperti orang dewasa, tapi kepura-puraan itu sementara, kita tidak bisa menyembunyikan selamanya tapi ada kesempatan untuk merubahnya.

Saya punya beberapa pertanyaan jawaban tentang mengapa orang-orang sekarang sulit menjadi dewasa. Pernyataan ini hadir dari pertanyaan-pertanyaan yang saya haturkan untuk diri sendiri. Semua ini karena menjadi dewasa itu sebuah kemewahan yang tidak semua orang mau memperjuangkannya.

Kenapa kita sulit menjadi dewasa?

EGO EGO EGO EGO. Ego adalah hal natural yang dimiliki oleh manusia ketika kita lahir. Dari bayi hingga kita menjadi sebesar ini, ada ego yang turut bertumbuh dalm diri kita. Ketika masih kecil kita selalu menuntut untuk diperhatikan, diutamakan, diberi spotlight. Keinginan-keinginan seperti itu akan tetap tumbuh hingga kita nanti pergi, siapa juga yang tidak ingin diperhatikan dan diutamakan, tapi masalahnya bagaimana kita mengendalikan keinginan-keinginan tersebut.

Ingin diperhatikan, diutamakan, diberipengertian tentu saja baik, tapi ego menambahkan beberapa takaran dosis berbahaya yang akan menyakiti orang lain.

Ego ini sudah seperti rasa lapar, semua orang pasti pernah merasa lapar tapi tidak semua orang punya kendali ketika mereka lapar. Begitu juga dengan ego.

Kita semua pasti punya ego tapi tidak semua bisa mengendalikannya.

Ego yang beriringan dengan pertumbuhan kita kadang terlalu sulit untuk dikendalikan. Terlebih kalau kita sudah menjalani hidup dengan waktu yang cukup lama. Ego menjadi raksasa dan rasa lapar dalam waktu yang bersamaan. Semakin kita tua, secara alami tingkat rasa serba tahu juga semakin meningkat, semakin kita serba tahu, semakin menjadi kesombongan dan kesongongan kita.

Travels (Unsplash)

Meski berjalan beriringan dengan waktu, ego sering tidak sejalan dengan kedewasaan. Kita lihat atau diri kita sendiri banyak orang-orang tua tapi selalu ingin dimengerti, dipahami, diperhatikan, semua berpusat tentang dirinya sendiri dengan cara yang salah.

Bila orang tua yang memiliki kesempatan dan waktu belajar menjadi dewasa lebih lama saja masih belum berhasil, apalagi anak muda yang menghabiskan waktu lebih sedikit.

Walaupun ada kemungkinan kita bersikap dewasa lebih cepat, jalannya selalu tidak gampang, dan tentu saja lebih berat.

Kenapa kita sulit menjadi dewasa?

Alasan yang kedua adalah karena kita selalu mengharapkan orang lain yang menjadi dewasa ketika menghadapi kita tanpa tahu bagaimana cara kita menghadapi orang lain.

We put the expectation the maturity on other people instead of ourself

Ih ga dewasa banget sih dia, ih harusnya kan dia begini, dasar ga dewasa, ih kelagukannya engga banget deh, ih kok dia bisa gitu ya, seberapa sering kita menyalahkan orang lain dan terlalu sibuk melihat, menilai ketidakdewasaan seseorang tanpa sadar bahwa kita sendiri juga perlu untuk menjadi dewasa.

Merendahkan ketidakdewasaan orang lain adalah satu bentuk ketidakdewasaan kita sendiri

Sebenarnya kita tidak punya tanggungjawab akan ketidakdewasaan orang lain tapi malah sesibuk itu untuk mengurusinya. Kedewasaan orang lain adalah tanggung jawab orang tersebut, sedangkan kedewasaan kita adalah tanggungjawab kita sendiri bukan orang lain (ingat ini ya sheyeeng).

Terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain tidak serta merta akan membuat kita menjadi lebih dewasa, buat kita jadi lebih jiji sih iya banget.

Kita pun saling bertautan, kita sibuk melihat ketidakdewasaan orang lain dan orang lain juga sibuk mengurusi kekurangan kita. Hidup di suasana seperti ini sesungguhnya menjadi bom waktu yang bisa meledak tanpa kita sadari. Dan akhirnya kita akan menua dan kemudian menjadi pergunjingan tetangga hingga hidup kita berasa sia-sia.

Kenapa kita sulit menjadi dewasa?

Karena menjadi dewasa itu berat, Dilan aja belum tentu kuat.

Keinginan kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih dewasa itu seperti sedang menanam pohon. Pohon tidak langsung tumbuh besar tinggi dalam waktu sekejap. Tanaman yang bertumbuh kuat dan besar itu membutuhkan waktu untuk bertumbuh, butuh diperlihara, butuh dibersihkan, butuh diberi pupuk, butuh berada di tempat yang baik. Dengan melakukan itu, kemungkinan tanaman akan bertumbuh besar dan kuat akan semakin besar.

Ketika sudah benar-benar kuat dibuktikan dengan ketika menghadapi badai ataupun angin ribut. Pohon tidak akan dikatakan kuat bila belum pernah menghadapi badai sengit, terlihat besar iya. Begitu juga dengan kedewasaan kita, kita bisa saja mengatakan bahwa saya itu gede mah, udah dewasa jadi mamah gausah ngatur-ngatur lagi, ungkapan seperti itu sering kita dengar di kalangan anak SMA yang seolah-olah dunia ada di dalam genggamannya dan bisa dia taklukkan dengan mudah, dipentok sama realita baru tau rasa dia fufufufu.

Women in crime (unsplash)

Merawat dan memelihara diri kita untuk menjadi dewasa menjadi sebuah rangkaian hal=hal yang tidak mudah untuk kita lakukan.

Belum lagi persoalan waktu menjadi dewasa sudah hampir sama seperti menunggu, rasanya tidak enak dan menyakitkan, Ditambah lagi kita perlu memelihara ego agar bisa terkendali, memangkas hasrat untuk mengutamakan diri sendiri, menjadi orang yang bertanggung jawab, berada di lingkungan dengan vibe yang positif, semua punya tantangan dan rintanganya masing-masing.

Namun kamu jangan takut, apa yang kita pelihara dengan benar, tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang benar juga, begitu juga dengan kedewasaan.

Bila kita sedang membangun, menumbuhkan dan memperkuat kedewasaan kita, tentu saja kedewasaan yang baik menjadi sesuatu yang hadir di dalam hidup kita.

Menjadi dewasa berarti kita mau belajar dari manapun, mempersilahkan pola pikir kita menjadi terbuka, karena pikiran seperti parasut, hanya akan berguna ketika terbuka. Kita butuh banyak sumber untuk mencerna, menyelidiki, menpertimbangkan segala sesuatunya.

Nantinya keputusan-keputusan dalam pikiran kita akan mempengaruhi tingkah laku kita, dan apa yang kita lakukan akan berdampak pada sikap kita, dan sikap kita akan menunjukkan karakter kita.

Sebuah proses jalan panjang harus kita lalui. Kenapa? Karena melatih diri menjadi dewasa sama seperti melatih tangan kita menggunakan pisau, bila kita semakin lihai menggunakannya itu akan bermanfaat untuk kita dan apabila kita payah, itu akan mencelakai kita dan orang lain.

Jadi, selamat bersenang-senang dan menjadi dewasa 🙂

Leave a Reply