Alasan Jangan Sembarangan Memilih Pasangan bg 1

Beberapa tahun yang lalu, saya lupa kapan tepatnya  kebetulan saya sedang dalam masa-masa kuliah di Semarang sedang menjenguk bulek (adik kedua dari ibu) ke Sragen yang sedang sakit keras. Saya tidak tahu kapan terakhir bertemu dengan bulek ini, karena saya sendiri sangat tidak akrab dengan keluarga besar baik dari bapak maupun ibu, namun sedikit banyak saya tahu cerita tentang kehidupan semuanya.

Sesampai di Sragen, saya menjenguk bulek ini dan kondisinya sungguh mengenaskan karena dia menderita komplikasi dari berbagai penyakit, terbujur lemah ga berdaya dengan tubuh yang sangat kurus hanya kulit yang membungkus tulang, sangking parahnya bulek udah ga bisa berbicara apalagi berinteraksi dengan saya.

Walk Together

Di Sragen bulek dirawat oleh adik ibu yang paling akhir dengan ketiga anaknya, yang paling tua lebih tua satu tahun dari saya. Lalu dimana suaminya? Dari cerita yang saya dengarkan suami bulek ini pergi meninggalkan dia, dan anak-anaknya tanpa meninggalkan apapun. Bahkan sampai sekarang, sepupu saya (anak bulek yang pertama) pernah mengatakan bahwa kalau dia bertemu dengan ayah kandungnya itu, dia akan bunuh ayahnya. Bukan tanpa alasan, hal ini karena rasa sakit, luka dan dendam yang masih tersisa di anak-anak mereka.

Beberapa minggu kemudian setelah saya menjenguk, bulek meninggal dunia.

Sepulang dari Sragen saya menetapkan berbicara dalam hati untuk sangat berhati-hati dalam memilih pasangan, karena menikah bukan untuk setahun, lima tahun, 10 tahun, atau 15 tahun tapi untuk seumur hidup. Sewaktu saya dan sepupu saya masih kecil, kehidupan bulek dan keluarga lebih dari berkecukupan bahkan bisa dikatakan keluarga yang paling kaya diantara keluarga besar ibu.

Tapi siapa yang sangka suami bulek meninggalkan dia dan anak-anaknya ketika usia pernikahan mereka lebih dari 15 tahun. Dan 15 tahun bukan waktu yang pendek untuk menjalani hidup bersama.

Kejadian ini menjadi salah satu pertimbangan saya untuk lebih hati-hati ketika memilih pasangan untuk menjadi partner hidup untuk selamanya nanti.

sc (Pixabay)

Makanya buat mereka yang deket banget sama aku baik di gereja maupun di PMK pasti akan selalu tau kalau aku selalu mewanti-wanti mereka buat jangan asal pake perasaan dan sembarangan pilih pasangan hidup, harus dilihat dari “spirit” “soul” sampe “body” (ngejelasinnya ini bakal panjang banget), dipertimbangkan baik-baik diperhitungkan dengan sangat matang karena akibatnya sangat fatal banget.

Engga cuma untuk perempuan, laki-laki pun juga perlu hati-hati agar tidak memilih kucing dalam karung atau terlalu mengandalkan perasaan mereka. Karena kesalahan memilih pasangan hidup akan menyusahkan dan bikin hidup kamu lebih capek aja.

Oh iya, aku bukan tipe orang yang percaya dengan konsep jodoh, bahwa kamu hidup sudah ditakdirkan akan berpasangan dengan ini orangnya, selain terlalu praktis tentu konsep jodoh  engga masuk nalar dan engga Alkitabiah.

Saya percaya dengan konsep bahwa kita diberikan kebebasan untuk memilih siapa yang orang yang bisa menjadi teman hidup nanti, karena itu keduanya dibutuhkan kesepakatan dan komitmen yang dibalut dengan cinta tentunya.

Namun sekarang, aku lebih meredam dan menahan diri untuk engga selalu jadi pengawas dan polisi buat mereka yang lagi suka dengan seseorang, atau sedang berpacaran, atau yang akan menikah atau apalah itu, ya karena ini hidup kamu, kamu punya tanggung jawab untuk hidup kamu, kalau kamu salah pilih pasangan ya mampus. Yang jelas aku sudah memperingatkan kamu.

(unsplash)

Persoalan memilih pasangan hidup ini emang agak ribet-ribet bangsat sih ya, karena sebenarnya masih ada satu hal yang sangat sangat sangat penting namun sering dilupakan buat mereka yang sedang kasmaran dan menjalin cinta.

Mereka sering melupakan bahwa apakah memilih dia yang kamu anggap dia adalah orang yang tepat dan baik untuk dirimu, tapi apakah dia juga bakal menjadi ayah/ibu yang baik buat untuk anak-anak mu nanti?

Simpelnya seperti ini:

Dia yang mungkin kamu anggap sebagai pasangan yang belum tentu bisa menjadi ayah/ibu yang baik untuk anakmu.

Sebenarnya, kalau kamu mau jujur dengan dirimu dan melihat dengan benar, kamu sendiri bisa kok menilai apakah dia punya karakter yang baik dan tangguh untuk anakmu nanti.

Karakter itu sangat penting, karena karakter dilahirkan dan dibentuk tidak hadir begitu saja, tentu harga yang harus dibayar sangat mahal.

Perihal menjadi orang tua yang baik ini harus menjadi perhatian yang sangat besar, supaya kejadian yang bulek alami tidak terjadi lagi.

Kid Crying (Unsplash)

Dan fakta menyakitkan lainnya adalah satu-satunya korban yang paling menderita dari keegoisan orang tua adalah anak itu sendiri. Anak engga bisa memilih dari orang tua mana yang mereka dilahirkan, tapi takdir sudah begitu, makanya hal ini harus segera diantisipasi. Dengan apa? Ya dengan berhati-hati memilih siapa yang menjadi teman hidupmu. Hati-hati memutuskan siapa yang akan menjadi calon ayah/ibu yang baik untuk anak-anakmu.

Dua hari yang lalu, ada seseorang memposting di akun Twitternya cerita mengenai anak yang diusir dari rumah karena orang tuanya bercerai, mamahnya pergi tanpa pesan dan bapaknya menikah lagi.

Siapa yang jadi korban? Sekali lagi anak.

Dari cuitan tersebut, munculah banyak replies yang menanggapi. Sebagian besar dari mereka ada para korban dari keegoisan orang tua mereka.

Dan masih banyak cerita-cerita yang serupa, cerita tentang mereka yang tidak merasakan rumah, cerita tentang mereka yang tidak tahu tempat untuk pulang, cerita tentang mereka yang harus struggle dengan kejiwaan mereka, cerita tentang trauma dan rasa pedih yang masih belum juga sembuh.

Bersambung

Leave a Reply